Langit Paling Biru Sedunia Ada di Kapuas Hulu

Bismillah

Oke, judulnya berlebihan. Namanya juga blog salesman, harus bisa menjual :D

Sebenarnya saya ke Kapuas Hulu sudah lama, sebelum lebaran yang lalu. Namun pengalaman (tak terlupakan) tersebut belum sempat-sempat saya tulis di sini. Mungkin ada beberapa hal yang tak bisa saya tulis di sini, saking banyaknya yang berkesan. Subhanallah banget dah pokoknya.

Tujuannya adalah mengunjungi teman saya, Harmoko (Moko), di Putussibau (rumah istri dan keluarganya) sekaligus mengantar Siti dan Fadli ke Semangut, daerah berjarak kira-kira 60 km sebelum Putusibau. Saya hitung-hitung dengan Google Maps, jarak antara rumah saya (Bandara Supadio di Kabupaten Kubu Raya) dengan Bandar Udara Putusibau sekitar 575 km. Kalau naik taksi (istilah untuk mobil sewaan), bisa makan waktu hingga 14 jam, karena jalannya sebagian rusak (di Sintang dan Sanggau).



Karena saya mau pakai mobil Bapak, perkiraan waktunya mungkin bertambah jadi 18 jam perjalanan. Media transportasi darat memang terbatas. Tidak ada Damri yang langsung ke Putussibau dari Pontianak. Jika ingin pakai Damri, kita harus berhenti di Sintang (325 km dari Pontianak), dan melanjutkan perjalanan menggunakan bis yang lebih kecil ke Putussibau. Jika memang mendesak, ada juga perjalanan via udara menggunakan pesawat dari Pontianak langsung ke Putussibau dengan KalStar dan Trigana Air. Terakhir yang saya tahu, dalam seminggu cuma ada 3 kali penerbangan. Cara yang paling convenient ya naik mobil sewaan (biasanya Innova atau Avanza). Biaya per orang dari Pontianak ke Putussibau sekitar Rp 350ribu. Kalau sewa 1 mobil langsung supir, biayanya Rp 2 juta. Cara lain sewa mobil per hari Rp 250.000 tapi tidak pakai supir dan bensin ditanggung sendiri.

Saya benar-benar bersyukur karena banyak sekali hal yang saya pelajari baik sebelum, saat, dan sesudah perjalanan ini.

Saya masukkan mobil Bapak ke bengkel, benerin macam-macam termasuk spooring dan balancing, ganti platina, wiper, ganti oli, dll. Untuk pertama kalinya pula, saya belajar ganti ban mobil. Ini akan jadi perjalanan terpanjang saya, dengan mobil, rute yang tak pernah saya jamah, plus berjuta perasaan bercampur aduk jadi satu.

Oya hampir lupa, saya juga mengajak Eko, teman saya yang sudah biasa nyetir Pontianak - Sintang, untuk menemani menjadi driver cadangan. Kata teman saya si Andre, biasanya supir-supir mobil sewaan kuat menyetir sendirian selama 6-7 jam non-stop karena pengaruh obat. Berarti kalau tidak pakai obat harus ada temen nyetir.

Rencananya adalah berangkat Sabtu subuh, dan tiba Sabtu malam di Putussibau. Menginap di rumah keluarga istri Moko semalam. Minggu paginya kami ke Jongkong (rumah Moko), sampai siang hari, menginap semalam di Jongkong. Senin siang berangkat dari Jongkong ke Sintang, menginap semalam di rumah keluarga Eko, dan lanjut ke Pontianak Selasa pagi. Bismillah saja. Semua persiapan beres. Banyak-banyak berdoa saja.

Rute Pontianak - Sintang
Saya jemput Siti dan Fadli di rumahnya, sekitar 12 km dari rumah saya. Sholat subuh sebentar, lalu berangkat jemput Eko (sekitar 2 km saja dari rumah Siti). Dari Pontianak kami hendak mampir sebentar di rumah keluarga Eko di Sintang, mengantarkan piring. Alhamdulillah jalanan bagus sampai di Sosok / Tayan. Selepas itu, jalanan hancur sehancur-hancurnya. Saya hitung sepanjang 17 km. Di Simpang Sosok kami berbelok ke arah Sintang. Karena saya tak begitu pandai menyetir mobil, kami baru sampai di Sintang kira-kira jam 2 siang. Berhenti hanya 2 kali untuk sholat dan isi bensin.

video


Rute Sintang - Semangut - Putussibau
Selama empat hari perjalanan, saya dan Eko tak puasa. Setelah minum air tahu di rumah keluarga Eko, kami lanjut perjalanan lagi. Hanya Siti dan Fadli yang tahu jalannya. Eko bawa mobil, saya ngapalin tempat. Pada dasarnya tidak terlalu susah karena jalannya cuma satu-satunya itu. Biasanya di Sintang yang agak sedikit bingung karena sudah masuk kota. Kalau Anda bingung tinggal tanya ke penduduk setempat. Jangan khawatir.

Jalan lumayan rusak dari Sintang, Kabupaten Sanggau, termasuk kawasan hutan lindungnya. Oya, isilah bensin di Sintang karena SPBU sangat jarang sepanjang perjalanan dari Sintang ke Putussibau, dan di beberapa tempat agak susah sinyal (yang ada cuma Telkomsel). Kami masih harus menempuh kurang lebih 250 km lagi. Semakin mendekat ke arah Kapuas Hulu, jalanan semakin mulus dan lancar. Jadi tenang saja.




Kami sampai di Semangut sudah jam 10 malam. Berhenti hanya di Simpang Silat, daerah yang lumayan ramai. Setelah bersalaman dengan keluarga Siti dan Fadli di Semangut, kami masih harus melanjutkan perjalanan ke Putussibau, sekitar 1 jam perjalanan lagi. Kata Moko, rumah istrinya dekat dengan bandara.

Rute Putussibau - Semangut - Simpang Jongkong - Jongkong (Pasar)
Di Putussibau kami menginap di rumah mertua Moko yang memang tidak ditinggali. Naas, baru saja rumah tersebut kemalingan hari sebelumnya. Namun kata Moko, karena memang tidak ada harta apa-apa, tidak ada yang hilang. Cuma sepertinya malingnya sempet tidur siang karena selimut bantal guling di lemari dipakai. Hehehehe.

Setelah sahur (walau tak puasa) dan sholat shubuh, saya dan Eko tidur lagi. Kami baru berangkat jam 10 pagi dari rumah, menuju Simpang Jongkong, bersama istri, anak, dan kakak istri Moko. Nanti kakak ipar Moko akan dijemput di Simpang Jongkong. Kesalahan saya adalah tidak mengisi bensin di Putussibau (karena belum buka, dan beberapa SPBU kehabisan bensin), sehingga kami harus beli eceran. Dosa sepenuhnya milik si Afifah Rahmawati, tukang ngatur distribusi minyak se-Indonesia.

Saya mulai mencatat urutan tempat yang kami lewati. Jika km 0 adalah rumah Moko di Putussibau, maka
Kalis 18 km
Kecamatan Mentebah 38 km
Semangut Bunut Hulu 58 km
Boyan Tanjung 87 km
Simpang Nanga Boyan 88 km
Pengkadan 101 km
Simpang Jongkong (Kecamatan Hulu Gurung) 111 km (baru ada SPBU, yang kehabisan bensin)



Dari Simpang Jongkong masih masuk lagi ke Jongkong (pelabuhan/pasar) sejauh kurang lebih 46 km. Kami sempat istirahat sebentar untuk sholat dan saya minum. Jalanan agak rusak, namun sedang diperbaiki sampai pasar. Di pasar Jongkong (yang juga jadi pelabuhan), kami sempat beli minum lagi dan beli es batu. Mengapa? Karena di Dusun Penelat rumah Moko, tidak ada listrik jadi nggak ada kulkas!

Menyebrangi Sungai Kapuas, dari Pasar Jongkong
Oya saya lupa bilang. Si Harmoko teman saya ini termasuk orang berada, dan keluarganya terpandang. Tiap sudut Jongkong kenal. Ia menjadi Caleg untuk daerah pilihan Jongkong. Mudah-mudahan ia bisa membawa daerah Jongkong menjadi lebih maju, kalau terpilih loh ya.. :D

Dari pasar Jongkong ini kami harus menyeberang sungai Kapuas, sekitar 15 menit dengan kapal motor milik keluarga Moko. Mobil saya titipkan di pasar, yang lagi-lagi sama keluarganya Moko. Banyak amat ya keluarganya dia?

Setelah sampai di seberang, kami harus masih naik motor lagi kira-kira 3 km, melewati jalan setapak dan hutan karet. Lagi-lagi, keluarga Moko yang bantuin mulai dari angkut-angkut barang, sampai sediakan 5 motor buat kami. Oya, di sini tak ada yang jual bensin, semuanya angkut dari pelabuhan di Jongkong. Motornya Harmoko kehabisan bensin, di tengah hutan. Jadi bensin dari motor yang saya pakai sebagian dipindahkan ke motor Moko, baru kami lanjut perjalanan lagi.



Bayangkan, di tengah hutan, tak ada sinyal. Cuma bertiga, mindah-mindahin bensin. Dosa lagi-lagi saya limpahkan pada orang ini. Hahahaha...

Di Dusun Penelat, Desa Jongkong Kiri Hilir, Kecamatan Jongkong, kata Moko transportasi memang susah. Setahun lalu, ada berton-ton ikan yang tak terjual di pelabuhan, sehingga terpaksa dibuang ke sungai, hanya karena distribusi terputus. Ini adalah salah satu misi Moko ketika menjadi anggota dewan nanti. Mohon doanya ya..

Sudah sore di rumah Moko

Another snapshot
Dari Dusun Penelat, kami masih harus jalan kaki lagi ke rumah Moko, yang terletak benar-benar di tengah sawah dan hutan karet dan kolam arwana super red. Tak bisa pakai motor, karena medannya jauh lebih susah. Berarti saya sudah menggunakan hampir semua moda transportasi dari Jakarta ke rumah Moko : pesawat, mobil, kapal (menyeberang sungai Kapuas), motor, dan terakhir jalan kaki.

Kolam Moko (0)

Kolam Moko (1)

Kolam Moko (2)
Setiap kepala keluarga di Dusun Penelat mendapatkan satu paket PLTS (berikut panel surya, baterai, dll) dari APBD tahun 2012 Kapuas Hulu. Termasuk Moko. Jadi tak ada alat-alat elektronik sekelas kulkas, TV, microwave, dll, karena sumber listriknya terbatas untuk lampu dan charger handphone saja. Untuk pompa air di kolam ikan, Moko pakai genset, yang bensinnya pun harus beli jauuuuuuhhh... Dosa orang ini banyak sekali ya kalau dihitung-hitung?


Panel surya biasanya ditaruh di atap
Kami makan "temet" (kerupuk basah khas Kapuas Hulu) yang mirip-mirip sama empek-empek Palembang. Ikannya terasa sekali. Kami pun makan ikan bakar segar, langsung ambil dari kolam ikannya Moko. Sekitar rumah memang hanya ada sawah, kebun karet, dan kolam ikan. Sungguh tenang sekali hidup di sini. Nggak banyak mikir yang susah-susah.



Rute Dusun Penelat - Pasar Jongkong - Simpang Jongkong - Sintang
Paginya kami pamit, tak lupa bawa oleh-oleh kerupuk basah dari keluarga Moko (beneran keluarganya Moko ini banyaaaak sekali di segala penjuru Jongkong). Saya dan Moko tak pakai motor, dan memutuskan untuk jalan kaki berdua saja sampai ke pelabuhan. Kesempatan ini saya pakai untuk bicara banyak dengan Moko soal rencana dia menjadi Caleg.

Eko, the best driver on earth!

Jalan setapak dari rumah Moko ke Dusun Penelat

Desa Jongkong Kiri Hilir (ada SDnya loh!)
Saya baru tahu kalau jadi Caleg itu harus resign dulu dari kerjaan pemerintah (apapun itu). Jadi si Moko hari-harinya diisi dengan usaha dan bisnis sahaja, dan yang lebih penting adalah ia menjadi lebih punya banyak waktu dengan Kenzo, anaknya yang belum genap setahun. Ia juga pernah kehilangan anak, karena istrinya keguguran. Darinya saya belajar banyak hal, termasuk soal kesabaran dan ketangkasan hidup. Ia bisa lulus kuliah nyaris tanpa bantuan orang tua (hanya untuk awalnya saja, orang tua harus merelakan kebun karet dan sebuah kulkas). Ia juga mendapatkan beasiswa dari sana-sini, karena orang tuanya tak bisa mengirim uang. Termasuklah tidur di musholla Fakultas Teknik, menjadi pekerja lepas, dlsb. Oia, ia juga pernah mewakili Universitas Tanjungpura Pontianak dalam MTQ antar mahasiswa.


Jembatan kayu hasil PNPM-Mandiri


Sampai di Pasar Jongkong, kami sempat berhenti untuk istirahat dan sholat. Setelah berpamitan kami melanjutkan 46 km jarak dari Pasar Jongkong (pelabuhan) ke simpang jongkong (jalan besar). Di tengah jalan sempat pula kami menolong orang yang mobilnya terperosok di rawa-rawa. Pilihannya adalah memang ditarik dengan mobil lain (biasanya tipe 4 penggerak / 4WD seperti Mitsubishi Strada atau Hilux). Sampai di Simpang Jongkong kami sempat mengisi bensin di jalan (harganya kalau sudah di eceran berkisar Rp 8000 hingga Rp 10.000).

Saya dan Eko benar-benar lelah sampai-sampai beberapa kali mobil harus menabrak lubang yang besar, mungkin karena jadi kurang konsentrasi. Kami sampai di Sintang (rumah keluarga Eko) sekitar jam 9 malam. Urutan tempatnya adalah Sejiram, Pala Kota, Nanga Silat, Kelam Permai, dan Sintang.

Rute Sintang - Pontianak
Setelah sahur (walau tak puasa) dan sholat shubuh, kami langsung berangkat. Karena SPBU di Sintang belum buka, kami jadi beli di eceran 20 liter saja, dengan harga murah Rp 7500 seliter, karena di Sekadau mulai banyak SPBU. Total bensin yang kami perlukan tak sampai 60 liter, untuk pulang pergi Pontianak - Putussibau termasuk menempuh 100 km dari Simpang Jongkong ke Pasar Jongkong.

Nah, di sinilah Tuhan mau Menunjukkan pengalaman pada kami. Di Simpang Sosok / Tayan, saya salah belok. Ketika itu Eko sedang tidur. Saat merasa itu bukan jalan yang pernah saya lalui saat berangkat, saya bertanya pada penduduk sekitar, dan ternyata mereka mengarahkan saya melewati rute ke Pontianak yang melewati Sungai Pinyuh. Saya terus saja menyetir hingga kami sudah sampai di Ngabang.

Jalan Tayan - Sosok (rute berangkat)

Melewati Sungai Pinyuh (rute pulang)


"Ini di mana Mas?" tanya Eko, baru bangun. Saya buka Apple Maps. Benar saja, kami sudah separuh jalan. Daripada putar balik, mending meneruskan sisa perjalanan melewati Sungai Pinyuh. Eko ambil alih. Ia jauh lebih jago nyetir daripada saya. Jarak tempuhnya memang lebih jauh, tapi jalannya muluuussss... Alhamdulillah, daripada mesti stress lewat jalan Tayan - Sosok.

Di Sungai Pinyuh kami hanya berhenti sekali untuk makan dan sholat. Alhamdulillah saya sampai di rumah Eko jam 3 sore, dan baru sampai di rumah jam setengah lima sore. Memang, mobil Ayah keadaannya sudah tak karuan : wiper patah, spion lepas sebelah, lampu dalam putus, dll. Tapi yang terpenting, kata Ayah, saya sudah sampai di rumah dengan selamat.

Semoga kapan-kapan bisa dipertemukan kembali. Terima kasih Kapuas Hulu! Terima kasih Indonesia!



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

speak now or forever hold your peace

About Me