Saldo Masjid

Bismillah

Mari mengkritisi saldo masjid yang hingga ratusan juta. Ini merupakan isu sensitif karena kalau terkait agama nanti kita disangka anti islam dan sejenisnya. Padahal ada banyak masalah dalam manajemen rumah ibadah kita ini, sebagaimana ada (lebih) banyak masalah di rumah ibadah agama lain. Dan terlebih, role pengurus masjid itu adalah sebuah jabatan publik yang memang fungsinya melayani, sehingga kalau fungsinya tak tercapai, selayaknya dilayangkan protes nan santun.

Menurut ane pribadi, kita jangan lagi menyumbang di masjid yang saldonya hingga ratusan juta. Terkadang saldo masjid itu sangat-sangat berlebih dan menumpuk, sehingga bisa cukup untuk bikin masjid satu lagi. Pertanyaan pertama, tentu "mengapa harus ditumpuk dan tidak disalurkan?" Bukankah kebutuhan ummat ini sangat-sangat banyak? Ada yang putus sekolah. Ada yang kekurangan makan. Belum lagi soal bencana, ketersediaan air bersih, wabah penyakit, kesulitan ekonomi, dan lain sebagainya.

Masalah ummat ini sangat kompleks sedemikian sehingga negara saja yang punya sumber daya jauh lebih banyak, tak jarang gagal menangani. Harta yang baik seperti air yang mengalir. Dia akan terus bergerak tanpa berlama-lama berada di penampungan yang melulu itu. Saran saya, sudahlah jangan lagi nyumbang di kotak amal masjid yang saldonya sudah kelewat banyak. Masjid mau ditambah lantainya? Mau bikin hotel? Ini masjid apa institusi bisnis? Padahal saudara-saudara kita di wilayah konflik jauh lebih berkesusahan, hla ente kok komersil amat?

Tidak ada kewajiban masjid untuk mengumpulkan dana ummat sebanyak-banyaknya. Kalau memang ada kebutuhan terkait perencanaan besar, umumkan dan pisahkan dananya sehingga bisa bertahap pelaporannya. Jamaah kita ini nyumbang biar pahalanya cepet dapet. Jamaah udah beruban dan bau tanah, nyumbang demi mengharap kebaikan dari amal jariyah. Eh, keburu mati duluan, duitnya masih di situ-situ aje...

Masjid yang ane tahu mengusahakan agar saldonya selalu nol salah satunya adalah masjid Jogokariyan di Yogyakarta. Kalau ada duit selalu diputar dan dikembalikan ke masyarakat. Bukan hanya yang muslim tapi juga yang bukan islam. Semoga Allah Mudahkan kita untuk bisa mengikutinya. Aamiin.

Waktu Bersama Keluarga

Bismillah

Waktu bersama anak (dan istri) yang semakin berkurang, itu terasa dan ditandai dengan tiba-tiba anak sudah memiliki skill tambahan yang, walaupun tak begitu berfaedah bin sepele, kita nggak ngerti progress-nya. Tiba-tiba saja begitulah. Misal, anak sudah bisa naik sepeda, sudah bisa baca quran, sudah bisa nyanyi lancar, atau apapun itulah. Eh, anak bisa naik sepeda, emang siapa yang ngajarin? Masak tetangga?

Demikian pula istri. Tiba-tiba tanpa terasa kok saldo istri lebih banyak dari kita, emang siapa yang transfer? Jangan bilang tetangga lagi.. Oh, ternyata bisnis online istri lumayan, jadinya duitnya muter lebih kenceng dari gaji kita yang kerasanya sebentar, macam kentut lewat. Kan miris rasanya, harusnya kepala keluarga sebagai pencari nafkah punya duit yang lebih banyak. Judulnya saja "pencari nafkah"?

Untuk mengakali kebersamaan yang pudar, biasanya pakai trik klasik: mengikutsertakan anak dan istri di aktivitas kita. Cuci motor, anak disuruh pegang lap dan sabun. Beres-beres rumah, anak disuruh bantuin beresin mainannya. Ke masjid, anak diajak. Ya walau akhirnya anak jadi sakit karena mungkin berinteraksi dengan orang-orang yang kemungkinan sedang sakit juga.

Alhamdulillah istri bukan pekerja kantoran. Kami memang sepakat (lebih tepatnya, ane memaksakan) agar istri di rumah saja. Kalaupun "bekerja", jangan sampai menghabiskan waktu terlalu banyak yang efeknya anak jadi terlantar. Ada keluarga, istrinya kerja sehingga sang ayah harus bayar pengasuh anak. Gaji istri sejuta, bayar pengasuh 1.5 juta. Jadi tiap bulan tekor gopekceng, dong?

Semoga ane kuat cari duit sendiri, supaya istri fokus di rumah saja.

Tentang Blog Ini

Bismillah

Blog jadi sarana saya untuk belajar menulis. Mengembangkan kerangka berpikir. Berusaha untuk mempersuasi. Kadang jualan. Seringnya sekadar curhat. Tapi makin ke sini mungkin blog ini lebih kepada hal-hal yang tidak penting, setidaknya ini menurut saya sendiri.

Kalau lihat blog-blog orang lain, sepertinya masing-masing memiliki kekhasan dan tujuan sendiri-sendiri. Ada yang memang untuk cari uang dari iklan. Ada yang ikhlas berbagi. Ada yang jarang update. Meluapkan kegelisahan. Menceritakan pengalaman unik dan lucu. Berbagi kisah pribadi. Macam-macam pokoknya.

Untuk blog ini (khusus untuk blog ini ya), saya tidak berharap traffic. Menulis ala kadarnya saja. Seperti bicara. Apa yang mau disampaikan itulah yang diketik. Jarang diedit sebelum menekan tombol "publish". Serampangan memang, tapi itu realitanya.

Kadang apa yang jadi pikiran, itu terlalu banyak. Sejatinya memang tidak butuh untuk ditulis. Tapi biasanya setelah ditulis, ada perasaan satisfying dan calmness. Semacam plong. Berasa ada achievement. Walaupun sederhana. Contoh soal pembakaran (bukan kebakaran) hutan dan lahan. Walaupun tak bakalan digubris.

Contoh lain, soal pengalaman yang mirip. Mirip itu bukan benar-benar sama. Tempatnya mungkin sama, tapi waktunya beda. Pelakunya beda. Sudut pandang beda. Beli barang harganya sama, kepuasannya berbeda. Caranya sama, tapi mungkin urutan dan alatnya lain. Begitulah. Selalu ada hal-hal yang bisa dikupas dari sebuah tulisan.

Sampai kapan harus menulis? Ane rasa ya sampai tidak ada lagi hal yang harus ditulis. Ya sampai mati. Walau tak lagi lancar mengetik, sekadarang speech to text sudah keren. Tinggal ngomong nanti diterjemahkan oleh gawai atau komputer dalam bentuk artikel. Atau lebih canggih lagi, apa yang dipikirkan, itulah yang dicatat.


Karhutla dan Industri Kelapa Sawit

Bismillah

Ini adalah masalah di kampung ane sejak puluhan tahun lalu. Tepatnya, sejak industri kelapa sawit merambah hutan-hutan pedalaman dan mengubah lahan perawan Borneo menjadi pundi uang. Lebih mengerucut, terjadi sekitar 1990 hingga 2018 silam. Tahukah kita bahwa industri kelapa sawit melahirkan masalah baru bagi lingkungan, seperti hilangnya habitat asli orangutan, sampai masalah yang baru ini populer: kabut asap.

Istilah "karhutla" sebetulnya perlu dikoreksi karena merupakan pembelokan opini dan penggiringan menuju istilah yang salah kaprah. "Kebakaran" diimbuhi "ke-an" mungkin supaya dinilai bahwa yang terjadi adalah "sesuatu yang tidak disengaja, tak diinginkan". Tentu ini adalah pendunguan publik. Anggapan publik akan mengira bahwa tidak ada unsur manusia di situ, padahal yang terjadi adalah sebaliknya.

Puluhan ribu titik api, tercipta dengan kesengajaan para pelaku bisnis crude palm oil, demi plantasi berikutnya. Mengapa harus dibakar? Karena cara ini adalah cara yang paling murah untuk membuka lahan baru. Keserakahanlah yang memicu semua bencana ini timbul, bukan ketidaksengajaan. Diperkirakan 35 juta ton dari 65 juta ton produksi CPO dunia, pada tahun 2017 silam, berasal dari Indonesia. Coba bayangkan ada berapa gunung uang yang tercipta dari 1 macam industri ini saja?

CPO menjadi bahan dasar banyak bahan baku lainnya. Mulai dari minyak goreng, kosmetik, sampo/sabun, pelembab, dan es krim. Ini adalah minyak sayur paling murah yang menjadi seberharga minyak bumi. Palm tree atau pohon sawit ini hanya bisa tumbuh di negara dengan iklim tropis, seperti Indonesia dan Malaysia. Lambat laun, industri ini semakin mengerikan karena perusahaan perkebunan kelapa sawit hampir melakukan segala macam cara untuk menghasilkan sebanyak mungkin ekstrak buah sawit.

Sebetulnya agak miris jika melihat orang-orang melaksanakan sholat istisqo, karena sekian persen dari orang-orang tersebut pasti bersinggungan dengan industri ini. Kehadiran hati di sholat istisqo pun tak 100 persen. Di satu sisi minta hujan turun, tapi di sisi lain masih saja buka lahan dengan nyuruh orang buat bakar-bakar.

Sampai capek luar biasa pun, perkara ini akan berlalu begitu saja. Media dibungkam, atau setidaknya disuruh untuk memberitakan yang baik-baik saja. Yang kita lawan mungkin para pengikut Dajjal, yang sudah buta mata dan hatinya pada puluhan ribu jiwa yang terserang ISPA, balita yang tak mampu menahan sesaknya udara, para ibu yang menangis, sekolah-sekolah yang terpaksa diliburkan, jadwal penerbangan yang terganggu, terlebih keluhan dari negara jiran seperti Singapura dan Malaysia.

Cuma lewat tulisan tanpa nyali ini saya titipkan doa, agar Tuhan Menyertai orang-orang yang bersabar. Orang-orang yang senantiasa kena pendunguan massal. Semoga Allah Menghadirkan solusi, dengan berbagai caraNya untuk menyelamatkan kita semua. Aamiin.


Bel Rumah

Kami pasang bel rumah di pagar karena kasihan sama pengantar paket yang mesti teriak saat datang. Ditambah, desain pagar yang memang sengaja ane buat tanpa pegangan, bikin tambah bingung, “Ini masuk rumahnya pegimana?” Soal kenapa mesti seperti itu nanti akan dibahas pada kesempatan berbeda. Dengan catatan, kalau nggak males nulis. Haha.

Bel rumah sering dimainkan sama anak tetangga, atau anak kecil yang kebetulan lewat. Tapi “temptation” untuk memencet bel itu sebetulnya bukan hanya milik anak kecil, karena jujur ane kadang gatel juga pengen mencet, walaupun sudah tahu gimana caranya masuk. Ada rasa nikmat yang tak biasa, ketika dulu waktu zaman bocah, memencet bel rumah orang, lalu lari sembunyi di balik pohon atau semak-semak, dan menunggu sang empunya rumah keluar sambil celingak-celinguk dengan ekspresi kebingungan. Jadi kalau bel rumah sekarang dipencetin anak-anak, ya mungkin karena karma.

Bel rumah pada dasarnya tidak perlu sampai ada tulisan penegasan, semisal “BEL” atau “PENCET DI SINI” atau yang semacamnya. Karena toh bentuk bel harusnya sudah bisa menjelaskan fungsi naluriahnya. Demikianlah UI/UX dalam dunia pengebelan. Menurut ane sih begitu ya. Nggak tahu kalau menurut panjenengan, bikin blog sendiri aja kalau beda pendapat. Hahaha.

Oh, balik lagi ke keisengan anak-anak tadi. Bagaimana membedakan antara keisengan anak-anak dengan orang yang memang niat bertamu? Gampang. Kalau setelah bunyi bel ada suara langkah lari-lari, berarti yang mencet anak-anak. Tetangga dan keluarga jarang bertamu dan kalaupun mau namu biasanya kirim WA dulu. Pengantar paket kan ketahuan, kalau kita mesen pasti ditungguin, biasanya tambah suara motornya.

Pernah bel dipencet berkali-kali. Karena istri melihat beberapa pasang kaki anak-anak dari sela-sela pagar, akhirnya nggak dibukain. Dikirain iseng dan nanti juga pergi. Eh, bel dipencet terus. Akhirnya bini keluar. Ternyata anak tetangga beneran mau masuk. Mau ngambil bola yang kebetulan masuk ke halaman kami. Haha. Makanya jangan suka iseng, nanti nggak dipercaya orang lagi.

Railink a.k.a. Kereta Bandara

Bismillah

Kereta Bandara yang dioperasikan oleh Railink ini sebetulnya lumayan sepi. Railink sendiri merupakan usaha gabungan PT KAI dan PT AP II. Kalau diperhatikan, sebagian penggunanya adalah pekerja yang berdomisili di Tangerang, yang naik dari Stasiun Batu Ceper, dan turun di Stasiun BNI City di bilangan Sudirman. Ini adalah fakta menarik, bahwa kata "bandara" yang disematkan sebagai branding kereta ini, justru digunakan oleh orang-orang yang tidak ada kaitannya dengan bandara. Tidak bekerja di bandara, tidak berangkat ke atau dari bandara, dan bahkan tidak ada hubungannya dengan pesawat.

Sayangnya (atau justru, untungnya?), Railink menutup rute kereta dari Bekasi ke BNI City. Selamat tinggal penumpang pesawat dari Bekasi, tentu Anda sering dirundung ketidakpastian berperjalanan. Railink berdalih, ini untuk optimasi menjelang operasional kereta dari Stasiun Manggarai. Ah, bilang aja salah bikin kebijakan. Hla wong 4 kali sehari rute dari dan ke Bekasi gerbong kereta hanya diisi masinis sama kernetnya 2 orang.

Railink ini tarifnya boleh dibilang mahal. Bayangkan sebuah rute lurus dari SHIA, Batu Ceper, Duri, dan BNI City (Sudirman). Ambil contoh Batu Ceper ke Duri, yang berjarak 23 menit, harganya Rp 35 ribu. Namun Batu Ceper ke BNI City (melewati Duri), yang berjarak 33 menit, juga sama tarifnya. Lalu, berapa tarif dari Batu Ceper ke SHIA, yang jaraknya 12 menit? Sama juga, Rp 35 ribu!

SHIA - 12 menit - Batu Ceper - 23 menit - Duri - 10 menit - BNI City

Namun bukan plus enam dua namanya kalau tak cerdik cendikia. Ada istilah group booking, di mana pemesanan untuk lebih dari 10 orang calon penumpang, akan mendapat potongan harga sehingga tiket menjadi Rp 20 ribu sahaja. Jadi kalau lihat ada keramaian di depan konter seperti arisan, nah itulah mereka yang bersatu mewujudkan sila kelima Pancasila. Sampai ada group telegramnya. Sungguh berfaedah.

Aura kaya pun terpancar dari orang-orang ini. Sebetulnya naik KRL itu dari Batu Ceper ya bisa juga sampai Stasiun Sudirman, cuma bayar Rp 3 ribu. Namun kereta bandara versus KRL bukan semata perkara perselisihan harga, waktu tempuh, dan kenyamanan. Ini adalah perselisihan kelas sosial!

Aura kaya itu terpancar alami, walau orangnya tidak terlihat seperti orang kaya. Ini seperti Mark Zuckerberg yang cuma pake kaos. Atau beberapa orang anak yang berkerumun di sekolahan prestisius. Atau jika ente kebetulan sholat di masjid yang lokasinya di dalam perumahan elit. Aura kaya itu tidak terpancar dari seminar MLM. Beda, Bos.. Aura kaya itu secara naluriah akan terasa sendiri, bukan dibuat-buat dengan pakai jas atau sisiran rambut keluaran salon Bang Johnny.

Jakarta dan Klakson

Bismillah.

Kemarin Jogja dan klakson sudah dibahas. Sekarang kita mau bahas Jakarta dan klakson. Seharusnya dua hal ini adalah entitas tak terpisahkan. Mendarah daging. Meresap hingga ke tulang. Bagai cinta Majnun kepada Layla, Romeo kepada Juliet, Napoleon pada Cleopatra, atau Liang Shanbo pada Zhu Yingtai.

Mau bagaimana lagi, di tengah tingkat stress yang tinggi, membunyikan klakson adalah bentuk pelampiasan atas kekesalan pada pemerintah, pada plokis lalu lintas, pada kenyataan hidup, dan entah apa lagi, barulah di urutan ke sekian, ada objek klaksonisasi sebenarnya : pengendara ugal-ugalan, emak-emak yang sein kiri belok kanan, atau sekadar orang kaya baru yang menyetir mobil secara lambat.

Objek klaksonisasi belum tentu salah. Tapi pembunyi klakson merasa tak mau disalahkan duluan, sehingga akhirnya adu cepat-cepatan pencet klakson. Seperti cerdas cermat SD. Salah minus 50, tapi kan kalau benar dapat 100. Jadi diambillah resiko itu. Yang tentu tak lupa disematkan sepasang mata yang melotot.

Bagai piramida makanan di jalanan, klakson pun punya level. Di level paling bawah ada pejalan kaki, yang memang tak bawa-bawa klakson. Bersama dengannya ada pesepeda yang walaupun punya klakson, bunyinya tak seberapa. Di level roda dua dimensinya banyak bin beragam. Mulai dari emak-emak, ojek online yang kalau ribut temennya dateng nolongin, atau pengendara motor besar. Ada pula pengendara roda dua yang tak perlu pakai klakson lagi, tapi suara bising knalpot yang tujuan intinya sama-sama mengintimidasi. Jangan lupakan eksistensi emak-emak atau aki-aki yang tiap mau belok pasti klakson. Entah apa pulak maksudnya?

Duh ane kebelet boker.

Kapan-kapan kita bahas klakson patwal, klakson truk tronton 18 roda, sampai ada orang pakai klakson untuk sesuatu yang tidak umum semacam jualan sayur, negur orang, atau pengganti suara pencet bel rumah.






About Me