Obat Penenang

Bismillah.

Kami sedikit lebih tenang kalau sekarang hujan lebat. Sebelumnya, tiap ada petir menggelegar di langit, pasti Bob dan Markonah sudah siap-siap gulung tikar, menaikkan kasur dan barang-barang lainnya. Takut kebanjiran. Ketenangan karena lantai rumah relatif tinggi, itu juga adalah sebuah nikmat yang harus disyukuri. Alhamdulillah.

Ada orang yang rela membayar, hanya untuk mendapat ketenangan. Walau bentuk bayarannya macam-macam. Pakai narkoba. Sewa centeng. Beli asuransi. Makan obat tidur. Kayak mana tuh, kalau demi untuk tidur enak saja orang membutuhkan obat penenang? Padahal kata Pak Ustadz, dalam quran sudah dibilangin:

Hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang.

Dengar-dengar, alasan pasangan yang ono memakai obat terlarang juga karena hidupnya tidak tenang.  Stress karena pandemi. Alhamdulillah ya, berarti kemisqueenan telah menyelamatkan kita dari narkoba.

Nie Moj Cyrk, Nie Moje Malpy

Bismillah.

Lebih tepatnya ditulis,

Nie mój cyrk, nie moje małpy

Berasal dari peribahasa Polandia yang artinya kurang lebih "Not my circus, not my monkey". Lebih dalam, maknanya adalah "I mind my own business".

IMO, harusnya ini jadi pedoman utama dalam bersosialisasi baik secara digital maupun di dunia nyata. Jangan sok-sokan dengan mengurusi perkara orang lain, sok tahu, atau sok paling update. Akibatnya nanti macam akun lambe turah. Segala hal dibahas mulai dari urusan rumah tangga orang, sampai-sampai bunyi token listrik kita sendiri pun kita jadi budeg.

Bisa jadi, itulah alasan betapa banyak urusan pribadi (atau keluarga) kita sendiri tidak rampung-rampung. Ya itu tadi, kebanyakan ngurusin masalah yang bukan jadi ranah kita. Tak heran, acara gosip laku banget di televisi, dan topik ghibah sangat ramai trafiknya.

Yok istighfar sama-sama yok.

Resiko Pekerjaan

Bismillah.

Kemarin modif tempat jemuran pakai besi galvanis supaya tidak mudah berkarat. Pada awalnya sempat kepikiran untuk mengerjakan sendiri, dengan semangat mencari tutorial dari YouTube dengan kata kunci "how to join metal without welding". Ternyata ujung-ujungnya harus beli alat-alat juga: bor listrik, gerinda, tang rivet, dll. Akibatnya, daripada ribut sama Markonah karena kelamaan mikir (dan rencana anggaran yang lebih sulit tembus dibandingkan RAPBN), ane berangkat cari bengkel las.

Di bengkel las, langsung dikerjakan dan selesai tak sampai 40 menit. Selama mengamati pengerjaan, sempat kepikiran banyak hal: 

  • Bengkel ini buka relatif awal, tak seperti banyak bengkel lainnya. Mungkin inilah makna dari keberkahan rizki di pagi hari.
  • Berseliweran kabel dan peralatan yang relatif "berbahaya". Gerinda masih jadi sebab utama kecelakaan kerja dibanding power tools lainnya. Belum lagi si Abang ini kalau ganti mata bor, nggak pake kunci lagi, tapi dipegang pake tangan. Ngilu lihatnya.
  • Bunga api di mana-mana, ditambah resiko meninggi karena perlengkapan keamanan yang khas negara dunia ketiga: sandal jepit dan kaos bonus caleg. Keselamatan kerja hanyalah slogan kalau mau lolos ISO, bukan kelas bengkel las pinggir kali seperti ini.
  • Dan terakhir, yang paling kepikiran, how much do they make annually? Sebanding kah dengan resikonya?
Lalu hati ini mulai bersedih. Terlalu sering mengeluh. Sering membandingkan dengan orang-orang yang parlente dan duitnya banyak, walau belum tentu berkah. Mikirnya kurang terus, lupa bersyukur dengan apa yang ada. Jarang berbagi, serba perhitungan. Kalau mau lihat ketimpangan sosial dan ketidaksempurnaan dunia, kita harus jujur dan melihat ke orang-orang yang nasibnya mungkin bisa dibilang tak semujur kita.

Jika dibalik, kita harus berjibaku di teriknya matahari, tangan kapalan, kulit yang telah mati rasa, menahan aroma besi yg terpanggang seharian, pedihnya percikan panas dari alat-alat yang bukan hanya bisa bikin jari kita putus tapi juga kehilangan nyawa, apakah kita kuat?

Ya Allah. Ampuni kami.

Usang adalah Keniscayaan

Bismillah.

Agak geli kalau dengar pernyataan senada dengan ini.

Artis X walau usianya sudah di atas 50 tahun, tapi tetap terlihat seperti gadis 20-an tahun

Wow! Usahanya getol sekali ya, untuk tetap mempertahankan penampilan yang bukan hanya berbiaya besar, tapi juga ribetnya naujubilah. Operasi sedot lemak, suntik sana-sini, konsumsi vitamin, belum lagi kosmetik yang tebalnya seperti plesteran semen di tembok. Pertanyaannya, demi apa?

Padahal usia kita segitu-segitu saja. Menjadi tua, dan kemudian mati, adalah fitrah. Rambut akan memutih dan rontok. Gigi mungkin ompong. Kulit tak lagi kencang. Mata perlahan kabur. Jalan tertatih-tatih karena tulang sudah mulai keropos. Tetek bahkan hilang separuh. Semua itu akan kita jalani. Mau tidak mau, suka ataupun benci.

Saat kita menolak fitrah, maka beban kita akan semakin berat. Siapa yang mampu memundurkan waktu, atau membangkitkan orang mati? Siapa yang kuat melawan derasnya zaman, menantang malaikat maut? Siapakah yang mau mengayuh menabrak arus sungai, membalikkan keputusan sang Maha Membuat Keputusan?

Hal yang sama berlaku untuk berbagai hal keduniawian lainnya. Harta kita. Kendaraan, rumah, tanah, perhiasan. Apapun. Semuanya akan rusak, usang dan habis dimakan umur. Akan ada akhir untuk segalanya. Makin mobil kita disayang-sayang, dielus-elus dijaga supaya tidak lecet, justru akan semakin jadi bahan pikiran.

Titik Kecukupan

Bismillah.

Dalam beberapa video dari Daniel Gilbert, ia sering membahas tentang science di balik kebahagiaan seseorang. Mulai dari apa yang sebenarnya membuat manusia merasa bahagia, sampai soal fungsi dan evolusi otak manusia yang memproses itu semua. Kata kebanyakan orang, materi (atau keduniawian) itu tidak penting dalam menjadi sebab seseorang bahagia. Pendapat yang terdengar umum ini dipatahkan oleh Dan, lewat beberapa penelitiannya. Salah satunya, berjudul "If Money Doesn't Make You Happy Then You Probably Aren't Spending It Right". Intinya, jika pertambahan harta tidak membuat hidup kita bahagia, ada masalah dengan cara kita menghabiskannya.

Lebih lanjut, pertambahan kepemilikan di titik manapun, tidak membuat ukuran kebahagiaan orang menurun. There is no way that more money makes us less happy. Tinggal pertambahannya signifikan atau tidak? Pasti akan ada poin jenuhnya. Mulai dari perbedaan gaji sejuta sebulan dengan Rp 10juta sebulan, akan ada perbedaan. Tapi, di titik 1 T vs 10 T, kemungkinan perbedaannya tidak lagi sekentara 1juta vs 10 juta tadi. Walaupun sama-sama 10 kali lipat lebih banyak.

Alhamdulillah setelah di rumah pakai mesin cuci otomatis, tingkat kebahagiaan meningkat drastis. Jika mesin cuci manual itu mesti ditungguin saat ngisi air, ditambah dengan kalau kelar nyuci mesti dipindah ke bagian mesin pengering, ditambah drama glodak-glodak dulu kalau nggak pas masukin bajunya, maka menggunakan mesin cuci otomatis dengan menekan tombol dan menunggu 40 menit, adalah sebuah karunia luar biasa. Bagai berpindah kuadran cash-flow ala Robert Kiyosaki. Seperti berpindah peradaban dari berburu dan meramu ke bercocok tanam. Kayak RA Kartini nemuin bohlam.

Lalu, berapa angka titik kecukupan ini?

Di sinilah para peneliti belum sepakat tentang nominal persisnya, tapi (kalau mau percaya beberapa artikel) kisarannya di USD 10,000 setahun. Atau, mungkin benar seperti yang Ibrahim Vatih katakan, Rp 10juta sebulan.



Kesan Kaya

Bismillah.

Waktu saya kecil, sempat berpikir sebetulnya apa sih yang membedakan orang itu kaya atau tidak? Sehingga, pada pikiran anak kecil yang otaknya juga mungkin masih kecil, terbersit standar-standar berikut.

  • Rumahnya bertingkat.
  • Punya mobil minimal 2.
  • Kulkasnya penuh dan selalu ada belahan semangka warna merah dan buah apel.
  • Sarapannya orange juice dan roti selai stroberi.
  • Di atap rumahnya ada parabola.
  • Punya pemutar video (dulu masih dalam format VHS).
  • Kalau ke kantor pakai jas dan dasi, lengkap dengan koper merek President (atau semacamnya).
Tapi sekarang standar-standar itu terdengar makin absurd. IMO, kaya atau tidak kaya itu hanyalah mindset. Bukan soal saldo terkini, jumlah aset, atau punya bisnis yang gilang gemilang. Karena bisa juga aset habis dalam semalam, karena tidak punya mindset kaya dari awal. Atau sebaliknya pula, saldo habis tapi tidak terpuruk dan cepat bangkit.

Kalau boleh nambah satu hal kecil, menurut saya orang kaya adalah orang yang jemurannya tidak di depan rumah. Apalagi daleman istri, yang saat ada tamu datang atau mamang pengantar paket, langsung tahu ukurannya.

Salam Kaya.

Renovasi

Bismillah.

Dalam proses perbaikan rumah kecil kami, tujuan awal sebetulnya sederhana: supaya tidak kebanjiran. Cukuplah pengalaman buruk di awal tahun lalu membuat trauma saya, terlebih anak dan istri (yang waktu itu terbangun dengan posisi terendam air).

Dalam perjalanannya, tidak mudah bagi kami untuk memulai. "Meninggikan lantai" memiliki collateral damage ke hal-hal berikut ini:

  1. Kusen pintu dan jendela harus berubah. Dan ini masuk komponen termahal setelah biaya lantai dan pekerja konstruksi.
  2. Karena lantai kamar mandi meninggi, berarti harus sekalian ubah stuktur pipa air kotor.
  3. Meja dapur (dari beton) harus dibongkar dan ditata ulang
  4. Area jemuran harus berubah juga karena posisi pipa air kotor yang meninggi dan tata letak pintu belakang berubah.
Selain itu, rumah juga punya isu bertahun-tahun lainnya seperti kualitas plester dinding yang seperti tepung campur telor doang, dan juga kebocoran pipa air bersih. Dua masalah ini juga harus kami pikirkan. Sekalian.

Mengapa tidak satu-satu? Jika ditunda, biaya yang timbul di masa depan akan lebih besar, karena harus makan waktu untuk bongkar ulang. Komponen waktu ini yang sering dilupakan sebagai biaya. Jadi, selagi rumah berantakan, kita pikirkan apa yang bisa kita perbaiki dari sekarang. Ini termasuk hal-hal kecil seperti posisi keran, colokan listrik, gantungan baju, gantungan shower, lampu, dll.

Memilih Pekerja Konstruksi

Saya membaca tulisan Pangeran Sitompul soal tips memilih pekerja bangunan yang berkualitas. Karena lupa sumber aslinya, kira-kira ini yang bisa saya ingat dan bagikan:
  1. Cari rekomendasi dari orang yang rumahnya bagus-bagus. Kalau perlu, pas di jalan lihat rumah gedongan, bel aja pintunya langsung nanya (haha). Lebih mantap lagi, jika punya teman yang mandor proyek / kontraktor.
  2. Lihat kedisiplinannya. Lihat cara dia menghargai waktu. Disiplin bekerja, disiplin beristirahat.
  3. Lihat kelengkapan alat-alatnya. Punya bor, gerinda, waterpas, dan alat-alat sendiri. Jangan lupa, mereka harus bawa meteran ke mana-mana.
  4. Lihat motornya. Kalau motornya norak, dengan warna pink dan modifikasi di sana-sini, langsung blacklist.
  5. Cara bicaranya seimbang, antara memberi, menerima, dan membantah saran pemilik rumah.
  6. Perawakannya seimbang. Tidak kurus sekali atau gemuk sekali.
  7. Tanyakan pertanyaan-pertanyaan layaknya orang sedang interview kerja saat mereka datang melihat lokasi pengerjaan.
  8. Ini tips tambahan dari saya: lihat kebiasaan merokoknya. Kalau baru ngobrol bentar udah nyala sebat, menurut saya orang seperti ini gampang stress. Cut aja.
Tukang bangunan yang bagus akan selalu dicari orang. Mereka akan terus punya pekerjaan dan tidak menganggur, sehingga tidak perlu mempromosikan dirinya. Usahakan jangan cari via online (ini kesalahan kami sih). Kami menggunakan 4 orang berbeda sejak awal, dengan drama masing-masing.

Menikmati Proses

Yang bisa kami ceritakan, banyak sekali drama-drama sejak proses perbaikan di rumah, sampai menjelang berakhir. Penting untuk berdoa dan minta doa orang tua. Apalagi dengan anggaran kami yang sangat minim dan terbatas. Saya pribadi sangat menikmati semuanya. Mulai dari konflik dengan pekerja, cara komunikasi, pemilihan bahan bangunan (sempet salah-salah juga di lantai kamar mandi), sampai terpaksa harus sewa kontrakan karena kamar mandi dan kamar tidak bisa dipakai.

Oh, mungkin ini juga cara Tuhan Menyelesaikan masalah kami. Saya mendapat rekomendasi tukang bangunan yang bagus dari pemilik kontrakan. Alhamdulillah.

Banyak sekali ilmu-ilmu tukang bangunan yang saya serap selama proses pengerjaan ini (gak mau rugi, harus dapet ilmu dan pembelajaran baru). Mulai dari pemilihan bahan bangunan, sampai tips trik untuk mengatasi masalah rumah. Terdengar sepele, tapi bisa menghemat biaya jasa pekerja karena ke depannya kita bisa kerjakan sendiri.

Kesimpulan

Kami sangat bersyukur semuanya sudah selesai. Tinggal bersih-bersih dan pekerjaan kecil yang insya Allah saya bisa kerjakan sendiri, baik di akhir pekan atau pagi-pagi sebagai olahraga ringan. Inilah rumah kami. Rumah dengan beragam cerita yang tiap sudutnya ada alasan mengapa harus begini dan begitu. Saya rasa tiap orang pun sama. Ada yang jemuran bajunya di depan teras, ada yang cat temboknya warna pink. Macam-macam pastinya, sesuai kebutuhan dan selera.

Intinya punya rumah itu bukan sekadar untuk gaya-gayaan dan pamer (terlebih kalau statusnya masih ngutang), tapi apakah ada peningkatan pada kualitas hidup kita?

Terima kasih.

About Me