Sekadar Setoran

Bismillah

Tadinya nggak mau nulis apa-apa. Cuma sekadar membunuh kejenuhan di pabrik. Oh ya, besok laptop baru katanya sampai, jadi ane resmi kerja pake laptop pabrik. Alhamdulillah, dapet pinjeman. Toh semua yang kita punya ini juga pinjeman dari Yang Maha Kuasa. Haha. Laptop ane bisa dibawa pulang, dan dipake bini. Mudah-mudahan menjadi lebih produktif nulis dan jualan. Aamiin.

Cerita random sajalah.

Bini jualan.

Secara umum sih temanya frozen food. Tapi kami hanya mengandalkan freezer kulkas yang besarnya tak seberapa. Kemungkinan harus beli cooler box yang 100 liter. Jadi kalau ada order, nggak mesti menunggu akhir pekan untuk diantar. Kalau sekarang karena maksimal freezer hanya cukup untuk 12 pack, harus dikerjakan di akhir pekan saja. Jumat dibikin, Sabtu diantar. Sabtu dibikin, Minggu diantar.

Belajar nukang.

Mungkin skill ini memang skill keniscayaan. Wajib dimiliki bapak-bapak. Mungkin ya. Contohnya benerin genteng, bikin adonan semen, ganti keran, dan semacamnya. Alhamdulillah Ayah dan Abang  bisa ditanyain dan dimintain pendapat. Tidak melulu harus menghabiskan uang dengan panggil tukang.

Traffic website drop.

Ini juga dikeluhkan hampir banyak master-master yang ane kenal di dunia maya. Algoritma Google terlalu sering berubah. Mengincar traffic tidak semudah dulu. Harus sabar dan banyak backlink ghoib ke langit (sedekah maksudnya).

Video Editing.

Ini hobi yang ditinggalkan karena beberapa hal : handphone kurang mumpuni, laptop lemot, dan dimarahin bini karena beli Zhiyun Smooth 4 (gimbal smartphone). Haha. Soalnya dulu beli nggak pake diskusi dulu.

Batal sekolah.

Keputusan sudah final. Ane sepertinya nggak jadi nerusin S2 tahun ini. Alasan utama, selain karena budget yang amat sangat ketat, adalah soal waktu. Intinya kalau diceritakan pasti panjang. Terpaksa keinginan ini mesti ditunda hingga waktu yang entah kapan.

Kartu Kredit.

Sudah lama menggunting kartu kredit, tapi versi 'online' masih sesekali pakai, misalnya bayar hosting, domain, atau yang memang harus pake paypal. Ini jumlahnya memang nggak seberapa. Tapi minimal menjauh dari hutang (riba) dan sejenisnya. Daripada nanti terlanjur tenggelam dan susah nimbul lagi.


2020

Bismillah

Tahun 2019 banyak kesenduan. Makin sering mellow guslow xanana gusmow. Makin sering mengingat kematian. Makin sering kepikiran tentang dosa, dan apakah amal sudah cukup untuk bekal menuju perjalanan selanjutnya. Sampai-sampai bilang ke bini, "Gw mau pensiun dini. Naek haji terus berhenti kerja. Balik kampung jadi marbot."

Dan langsung dibalas dengan, "Terus yang bayar utang kita sapa?"
Oh iya ya. Mak jleb.

Yang terjadi di tahun 2019 lalu.
  1. Alhamdulillah hutang rumah ke bank lunas. Ini bukan berarti hutang-hutang yang lain kelar, tapi minimal udah nggak ada urusan sama lembaga keuangan yang mencekik leher. Huh.
  2. Kabarnya mau dipinjemin laptop dari pabrik. Alhamdulillah. Daripada beli baru, mehong coy.
  3. Hafalan bertambah walau sedikit. Susah mau disiplin dan menuntaskan juz 30.
  4. Rumah kebanjiran.
Di 2020, hari pertama, rumah kami kebanjiran versi 7.0. Jadi selama 3 hari terakhir kami sibuk mengungsi ke rumah Abang. Banjir ini tertinggi selama 6 tahun saya tinggal di sini. Dan memang sepertinya parah sekali, terbukti di beberapa daerah air naik hingga menghanyutkan harta benda.

Soal banjir ini mau saya ceritakan di sini saja.

Biasanya saya tidur di bawah, beralaskan kasur busa. Yang pengalaman punya anak kecil pasti mahfum bahwa anak dan bini lambat laun akan "menguasai" teritori tempat tidur. Jadi ane "migrasi" ke bawah.

Malam itu, tanggal 1 dini hari. Tak seperti biasanya, bini sama anak yang tidur di kasur bawah. Hujan memang deras seharian. Namun saya sempat melihat air tidak naik. Jadi jam 2 saya mulai menutup mata. Jam 4 shubuh, anak saya melompat ke atas diikuti teriakan istri yang sudah basah kuyup.

Air sudah masuk rumah hingga setinggi kasur. Lebih kurang 15 cm.

Saya tak bisa bayangkan trauma bini dan anak yang bangun karena banjir. Mungkin kalau saya yang tidur di bawah, traumanya bikin jadi nggak bisa tidur berhari-hari.

Alhamdulillah, tak banyak barang yang terendam. Mungkin karena sedari awal kami memang tak punya TV, sofa, atau karpet berbulu. Kalau lihat videonya, ada mobil dan motor yang terseret air. Bayangkan, barang sebesar itu jadi terlihat seperti mainan. Ini sebetulnya pesan untuk kita semua, bahwa apapun yang kita usahakan di dunia, toh pada akhirnya bukan milik kita. Semuanya bisa diambil oleh Yang Maha Empunya.

Masih banyak lagi kisah pilu orang-orang terkait banjir. Semoga Allah Menghadirkan hikmah jauh lebih banyak untuk kita semua setelah kejadian ini. Aamiin.

Rencana di tahun 2020 ini: 
  1. Melanjutkan hafalan.
  2. Merenovasi beberapa bagian rumah. Mungkin harus bertahap tergantung budget.
  3. Sebetulnya pengen daftar S2, namun melihat beberapa hal, sepertinya harus ditunda dulu hingga 2022.
Mungkin itu saja rencana-rencana besar kami di tahun ini. Semoga harapan tak berbeda jauh dari kenyataan.

Empat Tahun

Bismillah

Beberapa hari lalu mencoba sewa apartemen di Mediterania 1. Idenya adalah gimana caranya ke Jakarta, tapi nggak capek, dan tetap murah meriah. Selama ini sih pake KRL agak pagi, ke tempat tertentu pake bajaj / grab car diskonan, lalu pulang agak sore. Sampai rumah sudah tepar karena semua dikerjakan di hari yang sama.

Nah, akhirnya ngikut sarannya Julip, cari-cari promo Travel*ka untuk sewa kamar di apartemen yang relatif terjangkau. Yang penting bisa buat istirahat, lalu pulang ke Tangerang di hari berikutnya. Lengkapnya: hari ke-1 pagi jalan naik KRL, istirahat di kamar sewa, jalan-jalan, balik apartemen buat tidur, hari ke-2 jalan lagi, sekalian pulang.

view apartemen mediterania 1
View dari tower Bougenville lantai 27

Alhamdulillah, kami diberi kamar dengan tipe 2 BR, dengan konsekuensi salah satu kamar dikunci. Lumayan lebih lega. Ada TV, dapur, shower air panas, sofa, internet, dan tempat tidur untuk 2 orang. Tambah anak kecil disempilin masih cukup.

Apartemen Medit 1 ini tidak terlalu jauh dari Central Park. Cukup jalan kaki. Rencana awal, kami mau lihat Jakarta Aquarium. Tapi batal karena tiketnya cukup mahal karena tak kebagian promo. Alasan selanjutnya, sampai di apartemen sudah sore, dan venue tutup jam 20:00 WIB. Nanggung.

Oh ya, kami telat check in karena saya terlalu lama ngeberesin rumah supaya nggak kebanjiran.

Pas malam hari, jalan kaki ke taman di CP. Untuk urusan makan, pake Grab Food subscription, supaya lebih terjangkau. Daripada di CP, sudah mahal, makannya nggak bisa sambil ngangkang. Haha.

Selain jalan-jalan di taman dan pulang via Sky Bridge, kami coba masuk ke CP dan lihat-lihat sebentar. Aslinya ane dan bini tidak terlalu suka mall. Ditambah, banyak yang pakai hotpants ya jadi agak risih sih. Bahkan kami nggak jadi lewat karena Mbak-mbak sales di salah satu gerai pake baju minim banget kayak kekurangan bahan. Ya udah pulang aja yok? Wkwk.

Kata bini sih tinggal di apartemen bikin takut. Soalnya lorongnya sepi, udah gitu lebih sempit (dapurnya). Kurang bebas. Karena dulu pabrik tempat kerja di apartemen juga, ane nggak terlalu kaget. Intinya tinggal di apartemen ada pros dan cons nya.

Besok paginya sarapan pakai Grab Food lagi. Btw, di Medit 1 ini sepertinya lumayan lengkap dan banyak tempat makan. Dan Abang-abang Grab-nya seperti sudah hafal posisi towernya. Posisi Medit ini lumayan strategis juga karena dekat dengan Tanjung Duren yang banyak pilihan makanan.

Setelah sarapan, anak sama bini nyoba berenang di kolam renang di lantai 1. Lumayan daripada masuk kolam renang umum. Di sini relatif sepi mungkin karena yang punya apartemen udah pada bosen. Hahaha. Oh ya, di sini tidak ada tempat sewa baju renang, pelampung, dan sejenisnya, jadi harus siap sedia sedari rumah. Selesai berenang, ada kamar ganti. Oh, ada tempat main anak juga sih, tapi kecil banget (rebutan pake sama anak lain).

Ane : "Hai..."
Anak lain : "Halo..."

"Tinggal di mana?"
"Arafah"

"Tower mana itu?"
"Di dekat Mina"

Hoalah ternyata dia juga nyewa toh di sini. Hahaha.

Selesai berenang dan puas main, kami makan siang (pakai Grab Food lagi), sholat, dan menunggu check out jam 13:00. Dari apartemen ke stasiun tidak begitu jauh, pakai ojol sekitar 15 menit. Dari situ baru pulang naik KRL lagi.

Banjir 6.0

Bismillah

Beberapa hari lalu rumah kebanjiran. Lagi. Ini sudah yang ke-enam kalinya sejak pertama ditempati. Sebetulnya tak terlalu repot karena toh di dalam rumah tidak ada furnitur apapun. Tidak ada sofa, karpet, TV, meja TV, atau yang sepaket dengannya.

Tapi kasihan juga lihat istri sama anak, jadi sulit aktivitas selama sehari. Pindah rumah sebetulnya sempat jadi opsi sejak kebanjiran versi 5.0 lalu, namun apa daya Allah belum Memberi kesempatan. Salah satu alternatif solusi adalah meninggikan lantai rumah hingga 30 cm. Kalau dihitung kasar, bisa Rp 300 ribu-an per meter persegi. Ini belum termasuk harus memikirkan kusen pintu dan jendela, ventilasi, meja dapur, toilet WC, perbaikan pipa pembuangan, termasuk efek psikologis bila langit-langit terasa lebih rendah.

Alternatif lain yang lebih murah adalah hanya meninggikan bagian teras dan belakang rumah. Istilahnya bikin 'bendungan'. Tapi saya kurang setuju karena akan jadi tidak enak dilihat. Kalau ada tamu harus agak ngangkang dulu sebelum masuk. Belum lagi kalau di dalam sudah masuk air, bersihinnya susah.

Cara lain yang patut dicoba adalah bikin flooding gate. Udah banyak yang jual di luar negeri. Secara teori bisa, tapi prakteknya ane nggak ngerti apa bisa benar-benar menghentikan air. Kalau versi Indonesia-nya ada nih di https://www.youtube.com/watch?v=iuF8czVy0B8. Mantap dan bisa jadi inspirasi.

Rusak

Bismillah

Rusak adalah keniscayaan. Sebagaimana kita sakit, menua, dan mati. Emang sudah takdir bin kodratnya sedemikian. Nggak usah dilawan.

Aneh juga kalau lihat artis usia sudah 40-50 tapi masih ingin "berontak" dan melawan alam. Pakai kosmetik dan perawatan supaya masih tetap kelihatan kinclong dan glowing bak anak SMA. Tua mah tua aja, Bu...

Eh, kok jadi ngomongin orang. Astaghfirullah.

Dalam 3 hari berturut-turut, barang-barang di rumah rusak. Termasuk rumahnya juga sih. Kipas angin, misalnya. Tadinya nggak kenapa-kenapa tapi tiba-tiba macet. Sudah diutak-atik dan dimodalin mahal untuk ganti kapasitor dan beli pelumas. Tapi hanya bertahan 2-3 hari, akhirnya harus beli baru.

Qodarullah. Mesin cuci juga mati. Motornya nyala, tapi nggak mau muter. Alhamdulillah pengeringnya masih bisa dipakai. Mungkin karet motornya yang lepas. Belum sempat dicek, eh hujan. Terus saluran belakang mampet dan air hujan mengalir ke dapur. Ya Allah. Ane inget, penyebabnya sepertinya karena menguras bak 500 liter di atas, kotorannya mungkin bikin sumbat.

Pas cek handphone mau izin nggak berangkat ke pabrik, eh di layar handphone kok hitam-hitam. Dan "noda"-nya semakin membesar. Wah, mesti ganti LCD. Astaghfirullah, dosa apa kami ini? Ya dosa ngomongin orang tadi lah kali ya??

Kata bini, sebetulnya sebagai seorang Bapak-bapak, hal-hal tersebut (maksudnya masalah-masalah di rumah seperti genteng bocor, keran mati, dll) harus dijalani sebagaimana Bapak-bapak pada umumnya. Justru dengan banyak dan bertubi-tubinya masalah datang, kita jadi makin jago handle. Dan di titik tertentu, bukannya justru menghindar. Kita malah mencari, menunggu, dan menikmati, jika ada masalah seperti itu.

Emang sih, buktinya bini kasih tahu Ibu kalau rumah kebanjiran, Babeh langsung telpon. Tak sabar ingin ikut nimbrung memberi rekomendasi. Haha. Berarti Babeh sudah daalam tahap "menikmati" masalah.

NB: Alhamdulillah handphone udah nyala. Ayo semangat memperbaiki sisanya.


Pindah Jalan Nasib

Bismillah

Sudah 3 hari belajar development di Flutter. Menurut ane sih ini jauh lebih baik dibanding harus belajar dua environment berbeda (iOS dan Android). Walau ujung-ujungnya akan ke situ juga. Mudah-mudahan berkah.

Masalahnya ada beberapa. Laptop sudah jadul dan XCode terakhir versi 9. Dengan handphone yang sudah jadul juga. Storage terbatas. Intinya di tengah keterbatasan semoga nanti ada jalan. Mungkin akan berhenti pake Sublime Text 3. Memang susah kalau mau maksain. Alhamdulillah nanti (katanya) dipinjemin laptop dari pabrik. Lumayan. Jadi masalah resource, storage, dll, bakal teratasi.

Oh, sekalian ngiklan nih. Karena ane pindah role, posisi backend developer pabrik bakal kosong. Jadinya silakan ya kalau ada yang punya sodara, om, anak, tetangga, yang lagi cari kerjaan, bisa kirim CV ke prabowo.murti at gmail dot com.

Kalau mau tanya-tanya juga boleh. Ini link lengkapnya : https://gilkor.com/hiring/. Terima kasih!

Breaking Bad

Bismillah.

Pada awalnya ia hanyalah guru kimia sebuah SMA. Kehidupan yang biasa. Normal. Kebanyakan. Ia mendapat pemasukan tambahan dari menjadi pencuci mobil.

Namun seiring waktu, ia berubah.

Sebabnya, Walter White, divonis dokter mengidap kanker paru-paru. Ini bahkan terjadi tak lama setelah istrinya mengandung anaknya yang kedua. Hidupnya berganti arus. Dengan semangat agar keluarganya tak hidup menggembel setelah Walter meninggal, ia "terpaksa" menjadi distributor meth dengan dibantu oleh mantan muridnya, Jesse.

Pada awalnya apa yang menjadi cita-citanya terkesan mulia. Yakni, cari uang sebanyak mungkin, sebelum mati. Namun pada perjalanannya, ia mesti berhadapan dengan orang-orang jahat, merampok, bahkan sampai menghilangkan nyawa orang lain. Ini kan ironi? Dia mau menyelamatkan dirinya dan keluarganya, tapi dengan mengotori tangannya sendiri.

Jadi ingat tulisan tentang Slippery Slope. Bahwa pada awalnya setan itu membujuk kita dengan melakukan kesalahan-kesalahan kecil dulu. Untuk berikutnya digiring sedikit, perlahan, dan tanpa terasa, ke jurang yang lebih dalam.

About Me