Naik Ambulans

Bismillah.

Naik ambulans punya dua sudut pandang. Pertama, sebuah privilege karena tidak semua kendaraan di jalan raya bisa menerobos lampu lalu lintas, melawan arah, diberi tempat spesial.

Tapi bagi yang naik di dalam, ada ketegangan. Berpacu dengan waktu. Menyangkut nyawa. Beresiko tinggi kehilangan orang-orang yang disayang. Di dalam ruangan sekecil itu, ada harapan besar mobil bisa melewati jebakan kemacetan. Muncul pikiran-pikiran yang meracau. Akumulasi bagaimana-kalau bagaimana-kalau.

Pada akhirnya yang tersisa hanya kepasrahan, dalam lirih doa. Keyakinan bahwa semua ada Yang Maha Mengatur.

Pernah Dicintai

Bismillah.

Beberapa waktu terakhir, saya punya kegemaran baru. Berburu barang bekas. Orientasi untuk mencari barang bekas ini karena sering sekali setelah beli barang, kepikiran untuk upgrade ke yang spek-nya lebih tinggi, atau merasa kurang maksimal dalam menggunakannya, jadi mending dijual saja.

Ada banyak keuntungan sebetulnya.

Pertama, harga yang lebih miring. Kalau seandainya pengen dijual lagi, gap antara harga beli dan harga untuk kita jual lagi jadi nggak terlalu terasa.

Kedua, mengurangi perilaku konsumerisme. Walau tidak terlalu ngefek karena dari perusahaan aslinya juga pasti produksi terus. Dan karena marketingnya mereka luar biasa, akhirnya tetap kapitalisme yang menang.

Di dalam jiwa setiap barang bekas, tersimpan memori kepada pemilik terdahulunya. Ada guratan. Lecet. Bekas dipakai. Tapi di situ pula ada cinta, yang makin pudar. Tapi tidak pernah habis. Makanya namanya preloved. Pernah dicintai.

Btw, ini bukan ngomongin janda ya...

Tugas Kuliah

Bismillah.

Tiap semester punya 4 mata kuliah. Berarti ada 4 beban hidup tambahan. Berusaha hidup dari pekan ke pekan. Dengan tugas-tugas yang kadang diinterpretasikan berbeda sama mahasiswa lain.

Pusing. Lelah. Belum kalau ketambahan isu lain macam benerin genteng bocor atau habis diomelin mandor pabrik.

Oh iya, belum bayar cicilan semesteran juga.

Bikin Playlist di Kanal YouTube

Bismillah.

Sebagai cara untuk belajar ngomong dan menyampaikan gagasan lewat audio visual (bukan tulisan), saya buat kumpulan video curhat seputar dunia perkuliahan, terutama program master. Sudah ada 13 video, yang masing-masingnya cuma 1 menit sahaja.

Apa efeknya?

Belajar bikin naskah (ujung-ujungnya nulis juga sih) sekaligus menghafalkannya, supaya terlihat lebih natural. Karena ini video random, bukan Mata Najwow. Emang diniatkan mirip-mirip seperti blog ini, yang eksistensinya jangan terlalu dipaksakan. Ngomong udah makin tertata (ya iyalah, scripting). Intonasi udah mulai tidak mirip robot. Mata sudah mulai fokus. 

Memang sangat jauh dari sempurna, tapi minimal ada dulu, buat lucu-lucuan sama Markonah.

Suara Tiang Listrik Dipukul

Bismillah.

Biasanya dari jam 1 sampai jam 3 pagi.

Tung! Tung! Dua kali berarti sudah jam 2. Sangat bermanfaat untuk orang yang insomnia tapi nggak mau pasang jam dinding di kamar tidurnya. Memang ini adalah waktu-waktu krusial di mana kadang-kadang ide random muncul out of nowhere. Waktu terbaik untuk meminta pada Tuhan. Sesuatu yang terlihat sulit di mata manusia. Waktu di mana "saingan" Anda sedikit.

Sampai kapan ada suara tiang listrik ini? Sejak kapan orang punya konvensi seperti itu? Mungkin ada semacam kesepakatan tidak tertulis di masyarakat, cuma kitanya saja yang belum tahu.

Nasihat dari Aldo

Bismillah.

Punya teman namanya Rinaldo Hasibuan. Waktu teman-teman satu grup KKN mau nonton bioskop, Aldo enggan untuk ikut. Saya tanya alasannya.
Filmnya apa? Di bioskop, kalau kita mati, kemungkinan besar kita mati dalam keadaan sedang tidak mengingat Allah.

Sungguh nasihat yang makjleb sekali untuk ukuran anak muda yang masih menggebu-gebu darahnya.

Terlepas dari kejadian menyayat hati yang menimpa saudara-saudara kita baru-baru ini, saya hanya sekadar berbagi nasihat dari sahabat saya. Mari kita sayangi waktu kita. Nyawa kita. Siap memulai kehidupan yang benar-benar baru, adalah inti dari menjalani kehidupan kita saat ini.

Supaya Bisa Lancar Menulis

Bismillah.

Tentu saja ditulis oleh orang yang tidak lancar menulis. Tapi salah satu trik dalam lancar menulis adalah membawa topik tentang ketidaklancaran menulis. Alasan pikiran mandek. Sebab jemari kaku. Mengapa kata-kata sulit keluar.

Tidak bisa dipungkiri, ada keinginan penulis agar tulisannya dibaca orang. Banyak pula. Kalau bisa sedunia akherat. Inilah yang bikin beban. Membuat tulisan adalah sebuah hal, dan mendapat apresiasi adalah hal berbeda. Mungkin seperti orang maen dingdong yang nggak terlalu kepengen dapet sesuatu dari situ.

Dia hanya ingin "melampiaskan", tanpa perlu pamrih. Ada kepuasan karena minimal apa yang berada di ujung lidah tersalurkan. Tanpa perduli tata bahasa atau ejaan mana yang benar. Toh sebuah tulisan yang sudah jadi pun masih bisa diubah-ubah semaunya.

About Me