Sangsot

Bismillah.

Arti kata "sangsot" sebetulnya saya kurang tahu persis. Hanya saja istilah ini sudah lama terkenal di kampung halaman. Gunanya untuk mengekspresikan sesuatu yang kusut, punya kesalahan, tidak beres, berselisih, atau hal-hal berkonotasi negatif serupa. "Sangsot" itu sangat pas sekali, sedemikian sehingga, kita tetap akan menggunakan term itu sampai ujung tulisan ini.

Sering kali berbagai cobaan yang kita hadapi itu kita bandingkan dengan nikmat yang dimiliki orang. Contoh, kalau lagi nggak ada duit, kita melihat orang lain yang duitnya seperti mengalir tanpa henti. Iri hati. Kurang bersyukur. Padahal, kalau mau jujur, kesangsotan kita ini belum seberapa dengan kesangsotan yang dialami orang.

Ya ampun, "kesangsotan"... Asal aja lah kasih istilah. Semoga nyambung. Haha.

Macam-macam hidup orang yang sangsot, yang sering kita lupakan: 

  • Lupa belajar ilmu agama. Ingat menjelang usia sudah tua. Fisik sudah tak kuat. Mata tak lagi awas membaca aksara Quran. Kaki lemah melangkah ke masjid.
  • Pertengkaran suami istri. Anak yang membandel atau tidak berbakti. Kurang harmonis. Meja makan dari marmer harga puluhan juta tetap dingin tak terpakai. Tak ada senda gurau, yang ada hanya ketegangan.
  • Terjebak dalam pekerjaan ribawi. Berputar-putar di lingkaran setan. Gali lubang tutup lubang.
  • Punya skandal dengan wanita / pria lain. Berawal dari percakapan sederhana, berakhir dengan ena-ena alias zina.
  • Kecanduan alkohol / narkoba. Sulit berhenti walau sudah berusaha. Keluar masuk panti rehabilitasi.
  • Ketidaktenangan hidup. Selalu merasa kurang, was-was, dan merasa diri paling susah sedunia.
  • Bermasalah dengan rekan usaha. Entah karena pajak atau hal-hal perdata lain.
  • Dan masih banyak lagi...
Hidup sangsot orang lain itu, kalau dibandingkan dengan hidup kita, boleh jadi jauh lebih parah. Yang kita kira sangsot, ternyata masih ada lagi yang lebih sangsot. Jadi menurut saya, bersyukur itu bukan hanya sekadar membandingkan nikmat kita dengan nikmat orang, tapi juga komparasi hal-hal sangsot di atas.

Akhirnya Ganti Hape Juga

Bismillah.

Hape lama rusak LCD-nya. Ini sudah yang kedua kali. Awal tahun 2020 lalu juga sempat diganti. Kamera belakang juga entah kenapa tidak berfungsi. Sudah coba diganti tetap saja. Tempat reparasinya juga sudah menyerah. Akhirnya dengan dana seadanya, beli iPhone 7 bekas dengan kapasitas 32 GB. Keputusan ini bukannya tanpa pertimbangan yang lama. Mau ganti sendal jepit saja harus buat proposal. Apalagi sekelas ponsel yang harganya lebih mahal.

Ponsel lama dibeli tahun 2015. Itu hampir 6 tahun lalu. Kalau buka WA bawaannya emosi. Lemot soalnya. Jempol sudah mengetik panjang. Tak tuk tik tuk... Sekitar 12 detik kemudian baru keluar apa yang kita ketik. Wow, mengetik lebih cepat dari bayangannya sendiri. Seperti Lucky Luke.

Kenapa mesti iOS / iPhone lagi?

Jawaban singkat: tuntutan pekerjaan. Platform laptop sudah Apple karena build iOS apps memang harus pakai Xcode. Tinggal gimana cari device yang mendukung tapi dengan anggaran rendah.

Beberapa pertimbangan: 

  • Cari yang keluaran 3 tahun lalu, karena secara teknologi masih bisa mengejar. Versi iOS nggak buluk-buluk amat.
  • Second berkualitas. Bisa dilihat dari beberapa store yang spesialisasinya di situ. Clue: ic*lor store, r3nanstore, pst*re, dll.
  • Kapasitas cukup yang 32 GB. Semakin besar, semakin mahal, semakin kurang bermanfaat juga karena tidak mencerminkan hidup minimalis.
Bismillah, semoga berkah.

Kata Aa Gym, harta kita kalau mau dilihat membawa berkah, lihat peruntukannya. Bikin kita mendekat kepada Tuhan atau malah justru menjauhkan?

Om Wardi

Bismillah.

Entah mengapa saya tiba-tiba teringat beliau, yang sebetulnya tidak ada hubungan kekerabatan dengan Bapak. Namun dahulu, Om Wardi ini tinggalnya di kampung yang sama dengan Bapak saya. Sehingga di tanah perantauan, bertemu, dan menjadi keluarga. Mungkin karena memiliki rasa senasib sepenanggungan. Hal yang sama juga berlaku pada beberapa "Om-om" yang lain.

Kami memang tidak terlalu dekat. Yang bisa diingat, beliau ini kadang (sebelum menikah) mampir ke rumah dan menginap di kamar depan. Satu atau dua hari saja. Dan selalu, pagi-pagi sekali keesokan harinya, beliau membantu membersihkan rumah dengan mengelap kaca ruang depan rumah Ibu. Selalu begitu. Kalau sholat di masjid, pulangnya lama. Saya pernah disuruh menyusul sama Bapak. Eh, ternyata Om Wardi lagi tidur. Kenangan masa kecil saya sempat diisi dengan diajak Om Wardi ke bandara. Melihat pesawat terbang. Dari kejauhan, tentu saja.

Pernah suatu kali, beliau meminjam gerobak Bapak. Misinya adalah mengangkat sebuah lemari besar dari dermaga kapal menuju rumah barunya. Saya bantu dorong. Jaraknya cukup jauh, mungkin sekitar 1 atau 2 kilometer. Itu belum termasuk membawa gerobak dari rumah Bapak ke dermaga. Lebih jauh lagi. Tapi pada akhirnya berhasil juga. Mission Impossible.

Ia selalu tersenyum, dan jarang sekali marah. Namun tersirat kelelahan yang amat sangat dari wajahnya. Mungkin letih sekali beliau ini dengan kehidupan yang keras. Seperti tidak ada habisnya. Tak ada ampun. Kejam menekan tanpa memberi jeda untuk istirahat.

Beliau meninggal beberapa tahun yang lalu. Lupa persisnya kapan. Tapi usia beliau relatif muda ketika kecelakaan kerja merenggut nyawanya, dengan meninggalkan istri dan 5 orang anak. Salah seorang anak beliau sempat tinggal di rumah orang tua dan melanjutkan sekolah. Tapi itu pun tidak lama.

Mungkin, Tuhan Mengambil Om Wardi di saat terbaik. Di saat beliau memang benar-benar butuh istirahat. Melepaskan penat, menghilangkan beban, mengeringkan peluhnya. Selamat berpulang, Om.

Harga Imajinasi

Bismillah.

Kata Ibu, saya orangnya terlalu banyak menghayal. Imajinasinya liar. Suka lama merenung bin termenung. Kayak orang plonga-plongo. Yang tidak Ibu tahu, banyak yang saya pikirkan. Tentang hidup, tentang masa depan, tentang hal-hal kecil yang jarang dipikirkan orang kebanyakan.

Terlalu banyak khayalan ini juga yang membuat saya sering kali terjebak bersama teman satu kelompok, sedemikian sehingga hasil kerja bersama kami berantakan. Berantakan karena saya mengemukakan gagasan yang sulit buat diimplementasi.

Mungkin benar kata Markonah, 

"Nggak heran kamu tidak punya teman, Mas..."

Waktu SMP saya masih ingat kami diberi tugas prakarya. Sebetulnya perintahnya sederhana: silakan buat apapun dari batok kelapa. Boleh dikerjakan berdua satu kelompok. Waktu itu yang menjadi korban adalah Rahman Hakim. Dengan berapi-api saya mengutarakan ide "brilian" membuat asbak (atau toples?) yang bisa dibuka-tutup. Kira-kira sketsa kasarnya seperti gambar di bawah ini.


Batok kelapa dipotong seperempat, lalu diambil / dibuang sedikit bagian tepinya. Masing-masing bagian, diberi lubang sebagai poros. Poros inilah yang memungkinkan bagian seperempat tadi bisa menjadi tutup buat bagian yang lebih besar. Udah kayak coret-coretan Leonardo Da Vinci.

Yang tidak kami sadari, sulit sekali mencari batok kelapa yang bulat sempurna. Saat digergaji, kalau tidak presisi, batok kelapa bisa pecah atau minimal hasilnya tak seindah perhitungan di atas. Waktu itu tidak umum bengkel bubut dan sejenisnya.

Sudah jam 5 sore. Prakarya sudah akan dikumpulkan besok pagi. Rahman sudah sewot. Akhirnya kami memutuskan untuk bikin gayung saja yang simpel. Itupun masih harus dibantu Babeh. Kusut lah pokoknya. Saat dikumpulkan, dengan pelitur yang masih lengket, Bu Guru hanya komentar, "Cuma kayak gini mesti berdua?"

Kalau diingat-ingat, masih ada banyak kejadian terkait tugas berkelompok dari sekolah yang karena ide-ide saya yang absurd, berujung semrawut. Misal, tugas pembuatan peta Indonesia yang saya rancang timbul (mirip maket di TMII). Ujung-ujungnya gagal dan akhirnya bikin peta biasa aja pake krayon / cat air.

Lalu ada lagi tugas prakarya Pancasila dan Kewarganegaraan. Saya lupa tugas persisnya disuruh ngapain, tapi saya ngegas pengen presentasinya pake kertas karton atau kardus yang dibuat seperti roket. Yang lupa saya pikirkan, bentuknya yang besar membuat sulit dibawa dari rumah ke sekolah. Akhirnya di angkot sempat penyok dan kurang optimal.

Tidak masuk akal. Terlalu rumit. Ribet. Itulah komentar Markonah ketika hidup bersama Bob yang masih melanjutkan kebiasaan mewujudkan gagasan yang aneh-aneh bin tak wajar. Ada waktu idenya berhasil, tapi lebih banyak lagi yang kandas.

Mohon maaf ya... His name is also effort.

Komparasi Nikmat

Bismillah.

Ada dua fakta yang tidak terbantahkan. 

  1. Tuhan itu Maha Adil.
  2. Kalau melihat ketidakadilan, lihat lagi fakta nomor 1.
Ada pasangan yang tidak dikaruniai keturunan oleh Allah, lalu berikhtiar dengan program bayi tabung yang biayanya 2 milyar. Tentu, kalau anak kita "dibeli" orang dengan harga Rp 2 M, belum tentu mau. Jadi kalau kita boleh memberi "valuasi" pada segenap nikmat yang diberikan Tuhan pada kita, sebenarnya tiap orang akan mendapatkan jatah yang kurang lebih sama.

Ada yang duitnya banyak, tapi keluarganya ribut.

Ada yang cantik, tapi di dalam hatinya hampa.

Ada yang populer, tapi kesepian.

Ada yang bisa beli restoran, tapi susah mau makan enak karena kolesterol.

Ada yang bisa pesan hotel mewah, tapi mau tidur susah.

Daftar di atas akan terus bertambah.

Jika kita membandingkan berbagai macam nikmat yang diberikan oleh Allah sama kita, dengan "nikmat" yang kita lihat pada orang lain, tentu sulit menentukan valuasinya.

Nikmat atau tidak nikmat, semuanya ditentukan dari seberapa besar rasa lapang di dalam dada kita untuk bersyukur. Untuk tetap tersenyum di pagi hari. Untuk selalu mengucap alhamdulillah apapun kondisinya.


Biaya Nikah - Bagian 2

Bismillah.

Sering kali, karena pemikiran kita terlalu anti-mainstream, melawan arus, dan tidak sejalan dengan opini publik kebanyakan, perlu waktu lebih dari satu generasi untuk sekadar timbul. Ini tentu hal yang wajar.

Banyak sekali pencapaian orang-orang besar bagi dunia ini, dimulai dari pertentangan luar biasa. Mulai dari keluarga, teman, saudara, tetangga, bahkan seantero negeri. Semuanya menolak. Tidak sepakat. Misalnya, Galileo yang katanya dihukum gantung karena percaya paham heliosentris. Paham tersebut bertentangan dengan paham gereja Katolik yang geosentris.

Terlepas dari benar tidaknya sebuah pandangan, memang agak sulit kalau sudah terlanjur beredar pandangan lain yang berlawanan, yang mendarah daging sejak lama sebelumnya. Contohnya ya soal resepsi nikahan.

Kalau sekarang ini pandangan kita tentang resepsi yang sederhana nan bersahaja itu masih sulit diterima (baik keluarga ataupun masyarakat), tidak apa-apa. Mungkin di era anak kita nanti, sudah tak zaman lagi resepsi dengan boros. Kalaupun bukan di era anak kita, di era cucu kita. Terus begitu, mungkin hingga ratusan tahun lagi.

Biaya nikah itu harusnya nggak mahal. Yang mahal gengsinya. Takut diomonginnya. Nafsu untuk dipuji. Itu semua mahal.

Kita pro dengan resepsi sederhana, eh calonnya nggak. Kedua calon mempelai sudah oke, eh keluarganya enggak. Selalu ada hal yang susah buat dikemukakan. Tapi jangan menyerah, karena kombinasi kedua calon mempelai, dan keluarga yang pro dengan resepsi sederhana, insya Allah akan ada.

Mereka lalu punya anak, yang diberi pemahaman tentang berhemat dalam merayakan pesta sedari kecil. Lalu anak ini pun ketemu dengan anak lain yang keluarganya juga pro pendapat itu. Mereka punya anak lagi, dan terus seperti itu. Sehingga lama kelamaan orang akan sadar, bahwa pandangan ini bukan pandangan yang keliru.


2021

Bismillah.

Tahun 2020 adalah tahun campur aduk. Masih terpatri di ingatan, air bah yang masuk ke dalam rumah di dini hari awal tahun. Alhamdulillah.

Pandemi memukul setiap keluarga dengan berbagai terpaan. Termasuk keluarga kami. Rencana tahun kemarin banyak yang tidak berhasil sesuai harapan.

Tuhan Maha Tahu keadaan terbaik untuk setiap hambaNya. Selalu bersyukur dan berjuang. Semoga di 2021, keadaan kita semua semakin membaik. Aamiin.
About Me