Pulang

Bismillah

Di tengah "kesederhanaan" (kalau tak mau dibilang keterbatasan) finansial keluarga kami, akhirnya alhamdulillah tahun ini bisa mudik. Dengan harga tiket pesawat yang sempat membuat kepikiran untuk bikin paspor, pesan tiket ke Malaysia dulu, lalu menuju tanah kelahiran lewat jalur darat, tentu ini menjadi babak tersendiri dalam rangkaian episode pulang kampung tahun ini.

Pulang kampung bisa dibagi menjadi 2 kategori utama. Pulang kampung reguler, yaitu mudik lebaran atau karena libur panjang memanfaatkan tanggal merah, atau kepulangan yang niatnya permanen: seperti kepulangan setelah kuliah tahun 2009, dan kepulangan kami di tahun 2017. Masing-masing kepulangan permanen tentu menyisakan ceritera dan hikmahnya masing-masing.

Pulang itu bukan soal yes-no question atau bagaimana caranya, tapi lebih pada waktunya. Karena mau tidak mau, suka atau benci, yang namanya pulang adalah sebuah keniscayaan. Ini sih ane terinspirasi dari kata-katanya Mat Tejo pas makan bakso kemarin. Haha.

Ketakutan soal masa depan, walau sedikit, pasti terasa juga. Soal pendidikan. Jalan hidup yang dipilih masing-masing anggota keluarga. Domisili. Jaminan fasilitas kesehatan. Atau soal lainnya, yang turut jadi pertimbangan bin pikiran.

Percaya bahwa waktu adalah jawaban dari semua pertanyaan dan luka.

Bahagia itu Sederhana

Bismillah

Ketika Rasulullah ditanya, ingin apa dari dunia, beliau tak meminta apa-apa. Hanya sekadar menjadi pribadi yang pandai bersyukur. Jadi syukur itu bukannya karena berkelimpahan, tapi mahfum bahwa apapun keadaannya, dilarang keras mengeluh bin menekuk muka. Sehingga bisa kita simpulkan, penghulu kebahagiaan adalah syukur dan sabar, sedangkan nestapa berpangkal pada merengek tanpa pernah merasa cukup dan puas.

Tak seperti namanya, harga di RM Sederhana menurut saya tidak sederhana. Agak sulit mengkonotasikan kesederhanaan dengan nasi lauk tempe lalap daun ubi harga tiga puluh ribu. Tapi kita, orang-orang sederhana yang tak mau dibilang pas-pasan alias missqueen, selalu punya cara untuk hidup bergaya dengan segala macam keterbatasannya.

Tak punya AC, ya pergi ke Alfamart numpang ngadem. Atau di ATM. Lagipula penempatan AC di ATM adalah wujud pemborosan dan tak berkesesuaian dengan visi "An Inconvenient Truth"-nya Al Gore. Kalau belum bisa beli mobil ya naik Grab Car diskonan. Kalau tak punya sofa ya ke IKEA, mau duduk-baring-nungging silakan. Kalau tak punya TV ya ke Carrefour, numpang nonton TV 60 inchi.

Selalu ada cara untuk menyederhanakan kebahagiaan, karena bahagia itu tak melulu soal posesivitas.

Jarang Menulis

Bismillah

Apa sebab orang Indonesia jarang menulis? Mungkin jawabannya karena jarang membaca. Tidak tahu apa yang mau ditulis karena isi kepala jarang diinput dengan pengetahuan. Ide tak tumbuh. Buntu. Inilah salah satu sebab jika orang skripsinya tak selesai-selesai, disarankan pergi ke perpustakaan dan banyak baca karya orang lain.

Bentuk tulisan pun beragam, ada yang khas akademisi seperti karya tulis ilmiah, jurnal, dll, sampai dengan yang tak berbentuk seperti curhatan di FaceBook atau adu mulut di Twitter.

Cara menulis pun beragam. Kita dulu mengenal jurnal pribadi alias buku harian. Bentuknya kumpulan kertas bergaris yang harus ditulis dengan pena bertinta basah-basah ah ah ah. Cara lain dengan mengetik. Mengetik ini pun beragam, mulai dari memakai mesin tik tradisional, menggunakan gawai, atau dengan papan ketik / komputer.

Terlepas dari berbagai macam cara orang menyusun kalimat merangkai kata, sebetulnya banyak sekali alasan untuk menulis. "Menulis adalah menuangkan kegelisahan," kata Raditya Dika. "The first key of writing is to write, not to think. You write your first draft with your heart, and rewrite with your brain" kalau kata film Finding Forrester. Ini film bagus sekali buat yang malas menulis.

Menulis apa saja yang terlintas di dalam kepala. Mengalir. Tanpa jeda. Seperti tulisan ini, yang sekadar jadi pembayar hutang 2 postingan sebulan lalu.

MRT

Bismillah

Jika ditanya, bagaimana cara tercepat menuju pabrik (yang jauhnya 24 km dari rumah), maka jawabannya adalah naik motor, tapi di jam 12 malam hingga 4 subuh. Naik kendaraan pribadi di luar jam tersebut adalah penitian menuju neraka. Bunuh diri. Pengerasan hati, karena di jalan bertemu dengan pengendara lain yang emosional. Mata melihat perkelahian dan adu mulut, belum lagi resiko kecelakaan karena terlalu lelah. Alhasil, menggunakan kendaraan pribadi tak lagi menjadi opsi. Selain itu, istri juga sudah melarang.

Rute menuju pabrik dengan transportasi publik saat ini bisa dibagi menjadi dua rute utama.
  1. Dari stasiun KRL dekat rumah ke stasiun di Jakarta.
  2. Dari stasiun di Jakarta menuju pabrik.
Untuk pulangnya, tinggal dibalik sahaja.

Di rute pertama, sepertinya tidak bisa ada improvisasi lagi kecuali rela merogoh kocek lebih dalam untuk naik kereta bandara (Railink) yang harganya Rp 35ribu sekali naik (soal Railink akan jadi topik tersendiri).

Di rute nomor 2, biasanya terlalu banyak drama seperti waktu tunggu yang lama, atau menye-menye bersama jurumudi ojek daring alias "Maaf Pak kejauhan / ban bocor / muter dulu / dan lain sebagainya". Alhamdulillah sejak ada MRT, hal tersebut bisa diminimalisasi.




Walaupun dengan MRT bisa menghemat waktu tak lebih dari 15 menit, tapi lumayan jadi game changer, berefek domino, collateral damage, apapun istilahnya, pada keseluruhan waktu tempuh.

Kok, bisa begitu?

Karena di rute nomor 1, jadwal kereta Duri - Tangerang yang 30 menit sekali memaksa keterlambatan 3 menit untuk menunggu 27 menit. Terlambat x menit mengharuskan menunggu (30-x) menit. Tak sepadan antara rentang telat dengan derita masa penantiannya. #paansih.

Ilustrasinya kurang lebih seperti ini. Jam keluar pabrik 21:00.

  1. Jalan kaki dari pabrik sampai peron MRT 7 menit.
  2. Karena malam, masa tunggu MRT maksimal 10 menit.
  3. Istora - Dukuh Atas dengan MRT makan 6 menit.
  4. Jalan kaki dari MRT Dukuh Atas hingga peron Stasiun Sudirman 5 menit.
  5. Masa tunggu di Stasiun Sudirman 10-15 menit (tak jelas, apalagi ketika jadwal kereta mulai kacau).
  6. Naik kereta dari Sudirman ke Duri 15-20 menit, tergantung penumpang di Tanah Abang (juga tak jelas).
  7. Pindah peron di Duri dari jalur 1 ke jalur 5 = 1,5 menit.
Total waktu sampai Duri = 34,5 menit hingga 64,5 menit. Jadwal dari Duri ke Tangerang mulai pukul 21:15, 21:45, 22:15, dan seterusnya hingga terakhir 23:45. Mengejar yang jam 21:15 sudah tak mungkin. Jadi memang harus pasrah pada Tuhan, Menakdirkan jadwal yang 21:45 atau 22:15. 

Oh, tulisan ini kan judulnya MRT, ya? Oke, tentang MRT.
  • Amat sangat membantu menghemat waktu tempuh, seperti ilustrasi di atas (yang kepanjangan dan berbelit-belit).
  • Nggak gimana-gimana amat. Okelah, bagus, bersih, cepat, tepat waktu, tapi mungkin ini karena ane sudah pernah naik moda transportasi yang lebih baik sekitar 5 tahun lalu di negara lain. Negara kita memang banyak ketertinggalan dan perlu pembenahan di banyak aspek.
  • Seharusnya ada eskalator turun juga, selain eskalator untuk naik. Ini bermanfaat untuk yang susah turun tangga, mungkin karena cedera lutut dsb, tapi tak cukup pantas untuk menggunakan lift prioritas untuk penyandang disabilitas, ibu hamil dan lansia. Sudah komen di fanpage nya juga tapi tak ditanggapi.
  • Aturan kiri diam kanan mendahului sudah lebih baik penerapannya. Apa mungkin karena penumpang MRT beda "kelas" dengan KRL? Penumpang MRT wangi-wangi, cantik dan ganteng (baca: lebih berpendidikan / teredukasi).
  • Tapping time tergolong lama karena masih pakai teknologi yg sama dengan KRL. Mesin gate-nya tidak secanggih Singapura atau Jepang yang sensor RFID-nya lebih cepat atau pakai bluetooth app di mobile phone. Tapping time yang lama ini berakibat pada penumpukan antrian. Mungkin dipikir orang Indonesia itu selow-selow, jadi beli mesin yang murah meriah aja..
  • Soal tarif, rasanya masih masuk akal dan relatif sepadan bila dibanding harus naik moda transportasi lainnya. Kopaja sekarang Rp 4ribu. Kalau TransJakarta masih disubsidi dengan tarif Rp 3500 semua rute.
Mungkin itu saja.

Overnight Success

Bismillah

Yang namanya sukses dalam sekejap bin kaya mendadak, mungkin sering terbayang di benak setiap orang. Entah karena dapat harta karun, menang undian, atau warisan dari seorang pangeran dari Nigeria (kalau bener). Seringnya kita menganggap bahwa semua orang itu mendapatkan hasil besar dalam waktu yang relatif singkat.

Pada kenyataannya, Joanne Kathleen Rowling ("Kathleen" adalah nama neneknya) memulai cerita Harry Potter di tahun 1990, masih dalam keadaan depresi karena kemiskinan. Itupun dikerjakannya sambil menunggu kereta yang terlambat. Selama 2 tahun berturut-turut ia menawarkan naskahnya ke 12 penerbit, selama itu pula ia harus berjibaku dengan keadaan finansial yang tak bisa dibilang menyenangkan.

Pada akhirnya, pada percobaan yang ke-13, ia berhasil. Bloomsbury, sebuah penerbit buku khusus anak-anak, menerima naskahnya dan menerbitkannya dengan bayaran GBP 10,000. Itupun dengan tambahan kerelaan darinya, bahwa namanya diinisialkan, dengan alasan penerbit takut kalau bukunya tidak laku untuk dibaca anak lelaki, karena mereka mengetahui penulisnya perempuan.

Ketika cerita Harry Potter sampai terkenal di tahun 2000-an, pendapatan Rowling mencapai USD 29 juta, hanya dari setahun sebelumnya, menjadikannya penulis dengan gaji termahal se-Inggris Raya. Asetnya di 2019 ditaksir sekitar USD 1 milyar atau kalau dikali Rp 14,500 ya sekitar... ya pokoknya banyak lah.

Apa yang kita lihat? Overnight success.

Apa yang tidak kita lihat? Banyak.

Perjuangan Rowling bertahan hidup sampai harus meratapi kematian ibunya yang relatif muda, 45 tahun. Menjadi pengasuh bayi dengan gaji tak seberapa. Mengapa Harry Potter mengenakan kacamata? Itu karena Rowling, saking sering dan sukanya dengan buku, berkacamata sejak ia anak-anak. Ia ingin menyampaikan pesan, bahwa seorang pahlawan juga bisa rabun.

Dari sekian banyak kisah indah yang kita dengar dari media bak dongeng, selalu ada jutaan kisah pilu menyayat hati yang kadar kesenduannya tidak bisa kita bayangkan. We have no idea what they have been fvcking through. Not a single damn thing. Jadi kalau ada orang ngelihat orang lain kok hidupnya enak tralala trilili yeyeye, mungkin itu karena belum merasakan yang dirasakan ybs sahaja.

Biliar

Bismillah

Seingat saya, dulu masih populer meja biliar dengan koin. Per sekali main dihargai seribu rupiah. Mungkin sekarang sudah jarang karena waktu berlalu, masa berganti, dan zaman berubah. Tulisan ini akan mencoba untuk mengupas dua topik utama seputar olahraga ini.

Konotasi negatif tentang biliar

Ane cerita dengan bini, kalau orang sepabrik akan kumpul buat makan-makan, sambil main biliar. "Hati-hati, di tempat biliar banyak cewek..." kurang lebih pesannya begitu. Hla, kan lebih banyak ketemu cewek justru di KRL daripada di tempat biliar? Tapi ya sudahlah, ngerti sih maksudnya pesan itu = "Mas jangan khilaf dengan nepok pantat mbak-mbaknya yang pake hotpants".

Rokok, bir, perjudian, kehidupan malam, mafia / gangster, dan perkelahian. Ayo kita bahas satu-satu aku sayang ibu, dua-dua juga sayang kamu.

Asap rokok memang menjadi penghias meja biliar, namun itu karena main biliar memang butuh mikir dan ada momen nunggunya, dan kalau orangnya memang perokok dia pasti sambil merokok. Pada kenyataannya, kalau dihitung secara survey malaiholo, mungkin hanya separuhnya yang merokok. Sisanya, minum bir. Hahaha.

Soal perjudian, memang benar sejak dahulu meja biliar sering dijadikan ajang bertaruh uang. Dan konotasi negatif tersebut melekat hingga saat ini. Si Bayu cerita, ada player ada gambler. Jadi orang yang jago main biliar itu belum tentu menang kalau diajakin judi. Sedangkan orang yang maniak judi, nggak perlu pinter-pinter amat maen biliar. Ane sampai sekarang masih gak paham dan mencoba mencerna quote si Bayu. Mungkin karena hidup ane belum sekelam hidupnya dia. Hahaha.

Arena bermain biliar memang sering diidentikkan dengan kehidupan malam. Karena kalau meja biliar bukanya siang, paling yang main Om-om pengangguran atau pelajar yang bolos sekolah. Mungkin maksud dari "kehidupan malam" ini pun beragam, mulai dari wanita tuna susila, penari seksi, atau yang satu spesies dengannya.

Soal sarang mafia, gangster, penjahat, dan perkelahian, ane tanya ke juragan pabrik. Beliau sempat tinggal lama di US.

"Pak, emang kalau di Amerika, kenapa orang suka ribut di deket-deket meja biliar?"
"That only happens in the movies, Bo.."

Nah looo...

Biliar sebagai olahraga

Tak adil rasanya kalau kita melihat biliar hanya dari sisi jeleknya sahaja. Faktanya, biliar itu menjadi olahraga yang diikutsertakan di olimpiade. Di dalamnya ada semangat berkompetisi untuk menjadi citius, altius, fortius. Dan perlu diakui bahwa olahraga ini memerlukan otak (strategi, perhitungan, skill, ilmu matematika-fisika / momentum / kekekalan energi) dan otot (stamina, daya tahan, kekuatan). Ya kadang tambah sedikit keberuntungan.

Sila tonton video berikut ini untuk mengetahui teknis bermain biliar, cukup 10 menit.


Dari biliar kita juga belajar banyak hal. Berlatih untuk sabar, tenang berkonsentrasi, kalem bertindak, berpikir sebelum nyodok, menghitung semua kemungkinan yang terjadi, membayangkan masa depan. Nilai-nilai filosofis ini bermanfaat juga dalam menjalani kehidupan.

Kata Bang Yosep dan Bung Zibar, hidup itu seperti main biliar, jangan menyerah kalau 1 lubang tertutup, masih ada 5 lubang lainnya. Ahsek..

Lalu, bagaimana melepaskan stigma negatif pada biliar? Menurut ane sih ada dua hal : cari arena bermain yang ramah keluarga (ada beberapa kalau mau cari), atau beli meja biliar sendiri dan main di rumah. Meja itu ada ragamnya, dari yang bagus (baca: mahal, bisa 20 jutaan) sampai yang biasa-biasa aja (4-5 juta seken).

Pernah juga ditawarin sama temen, Rp 700ribu. Dia bikin sendiri pakai triplek, karet dari ban bekas untuk tepi meja, dan karpet ijo yang biasanya dipake di masjid. Kalau bisa jangan yang gini gini amat lah...

#2019

Bismillah

Tahun ini adalah tahun penuh syukur dan rasa suka. Oh ya, karena tanggal kawinan 27 Desember, sepertinya tulisan akhir tahun dijadikan satu saja sama tulisan ulang tahun pernikahan. Sekalian.

Kita buka dengan quote nilai hidup yang membuat pikiran jernih dan tidak gampang kusut.
Hanya dengan menganggap semua hal terjadi karena takdir Allah, kita akan memandang semuanya dengan perspektif positif  Novel Baswedan
Kalau menu makan sehari-hari itu-itu saja dan tak layak masuk instagram, ya syukuri sahaja karena ada orang yg sarapannya pakai indomi 1 telor 1 itu pun dibagi ke 4 anggota keluarga.

Rumah kita kok reot banyak rayap dan tikus, ya syukuri karena ada yg bertahun-tahun nggak punya rumah hanya sekadar mimpi dari kontrakannya yang berpindah-pindah, atau masih menumpang di pondok mertua indah.

Kalau kaki malas melangkah, badan enggan diajak ke masjid, perlu direnungi bahwa ada orang buta, atau berkaki satu, atau stroke sebelah, atau bentuk keterbatasan lainnya, yang jauh lebih bersemangat daripada kita dalam mengejar surga.

Tentang segala kekurangan yang kita rasakan, sadari bahwa ada orang lain yang merasakan nestapa yang lebih tak terbayangkan. Mungkin kehilangan sanak saudara. Tak bisa menemukan air walau seteguk. Hidup dalam bisingnya suara bom dan genderang perang. Bahkan sekadar untuk tidur nyenyak dan mimpi indah pun sulit. Maka bersyukurlah...

Tentang resolusi tahun 2019, masih melanjutkan resolusi tahun 2018 silam.

  1. Melanjutkan hafalan quran juz 30.
  2. Menyicil untuk umrah sekeluarga.
  3. Melunasi hutang rumah.
  4. Ganti alat perang yang usianya sudah 7 tahun lebih. Ini kalau ada dana lebih tahun ini.

Harapan-harapan yang lain, yang umum-umum, sepertinya tidak perlu ditulis lagi. Udah itu aja. Semoga tercapai, aamiin.
About Me