Bismillah.
Konsep tentang kurs atau nilai tukar suara kita saat pemilihan, sebetulnya mirip dengan implementasi kurs pada umumnya. Sesuatu itu ada nilainya, dan diusahakan ditukar dengan sesuatu yang lain dengan perkiraan nilai yang setara. Dolar dengan rupiah. Beras dengan garam. Nila setitik dengan susu sebelanga. Seringnya, pertukaran itu tidak seimbang. Atau, bisa dikatakan, sulit mendapatkan titik yang ideal.
Nilai tukar suara kita dapat tinggi atau rendah, tergantung berbagai kondisi. Bagi orang yang kelaparan, miskin, dan butuh makan segera, nilai tukar suaranya murah dan rendah (jika kita anggap menggunakan uang sebagai alat tukar yang disepakati). Ini berbeda jika pemilik suara hidup berkecukupan, berpendidikan tinggi, dan melek politik. Inilah fenomena yang mungkin membuat para politisi busuk berusaha membuat nilai kurs suara serendah mungkin, karena hanya dengan cara seperti itulah, pemenang perolehan suara akan dapat diprediksi dengan mudah. Semakin kaya, semakin mampu mencari "marketplace", semakin mudah menang.
Boleh jadi, inilah alasan kita dibiarkan bodoh dan tidak sejahtera? Agar kurs suara ini rendah terus?


