Media Simpan Terbaik

Bismillah

Saat ini sih pake Google Cloud Storage dengan memanfaatkan free credit senilai 300 dollar, selama setahun. Sudah beberapa kali data hilang karena hard-disk rusak. Memang sangat riskan menyimpan sesuatu secara offline. Jadi karena koneksi internet sudah semakin cepat dan murah, jadi ane lebih prefer menyimpan yang layak disimpan di Cloud.

Kalau kata Linus Torvalds,
Real men don't use backups, they post their stuff on a public ftp server and let the rest of the world make copies

Seni dalam menyimpan data ini juga menyebabkan beda tipe data beda pula penanganannya. Misal photos bisa ditaruh di photos.google.com untuk unlimited storage, dengan kekurangan bahwa kualitas video dan foto kita akan dikurangi. Kalau untuk source code ya ditaruh di Github atau penyedia jasa sejenis. Untuk video secara spesifik juga bisa ditaruh di YouTube, tentu dengan beberapa keterbatasan.

Khusus untuk kasus data hilang, ceritanya Ibu pernah simpan foto waktu haji tahun 2010 silam. Seingat saya, semua foto sudah disimpan di laptop saya, di PC rumah, dan sekaligus di sebuah flashdisk. Laptop saya rusak, PC rumah juga. Sudah dibawa ke service, data sudah tidak bisa diambil. Nah, tinggal di flashdisk yang sekarang nggak tahu rimbanya. Sedih juga sih.. Ibu bilang soal foto favorit beliau, "Di situ ada foto Ibu sama Bapak lagi di terowongan Mina".

Cara lain, kami semua umroh, ke Mina, dan berfoto lagi. Semoga ada rejeki dari Allah. Aamiin.

Pendukung Klub Bola

Bismillah

Pendukung klub bola mayoritasnya penuh kelucuan dan bumbu humor. Agak sulit menemukan frasa yang tepat untuk menyampaikan ini, jadi kita gunakan istilah “lucu” saja. Istilah ini berkonotasi semi positif, agak ada sinisme sedikit, tapi tak sampai membuat tensi sekolam naik jadi 200. Mudah-mudahan.

Bagaimana tidak lucu?

Klub bolanya tidak kita kenal baik. Sering kali berada di negara lain, yang mengejanya saja kita susah. Bahasanya tidak paham. Dibela mati-matian seperti membela negara saat sedang perang. Daripada bela klub negara orang, masih cakep bela safira. Begitu, kan?

Saya sendiri suka menonton bola, tapi kalau soal klub mana yang harus didukung dan dibela, terpaksa golput. Ada perbedaan antara suka menonton pertandingan bola, dengan menonton klub yang dibela bertanding. Suka menonton pertandingan bola adalah orientasi seorang satisfaction hunter. Pemburu kebahagiaan. Terlepas menang atau kalah. Sedangkan suka menonton klub bola bertanding ada kecenderungan jadi stress, walaupun klub yang dibela menang. Hlo, sudah menang kok stress? Kayak mana itu?

Bayangkan orang kalau membaiat diri sendiri sebagai bobotoh, jakmania, atau bonek, bisa emosi lihat plat D, B, atau L. Jadi urusan plat nomor kendaraan saja bisa bikin orang melotot. Istilahnya Rocky Gerung,
AJAIB

As-Is

Bismillah

Kalau sekadar untuk cuci mata, biasanya kami ke IKEA. Bukan buat belanja. Hanya sekadar untuk dapat inspirasi desain produk, sekaligus numpang duduk-duduk di sofa (di rumah tidak ada sofa). Tak lupa, beli the most and only affordable thing: es krim 4 rebu.

Baru tahu, ada seksi tersendiri untuk barang-barang yang dijual apa adanya. Biasanya karena bekas display, atau ada bagian yang rusak. Tentu dengan harga yang lumayan jauh lebih murah. Namanya As-Is.



Saya pikir mungkin lebih baik kita itu hidup seperti itu. As-Is.

Tak perlu ada yang ditutupi. Item As-Is ditempatkan di bagian pojok, tanpa lampu LED bling-bling, dan tampil tanpa polesan berarti. Tidak perlu tampil mencolok dan penuh dengan segudang keberpuraan, karena toh orang bakalan tahu bahwa item-item ini ada kekurangannya.

Kita ini seringnya banyak gaya. Belagu. Penghasilan kelas warteg, tapi makan seminggu sekali di Sushi Tei. Rumah kecil ngontrak masuk gang sempit, nyicil Expander. Instagram isinya pamer hal duniawi.

Mungkin sudah saatnya kita berhenti hidup dengan topeng yang kemahalan.

Pagar

Bismillah

Sebagaimana kebijakan lain yang berkaitan dengan Kementerian Keduitan di rumah tangga kami, opsi pembuatan pagar pun telah mengarungi fase legalitas dan kajian strategis. Meliputi sumber dana, hingga azas kebermanfaatannya. Bak Mister Rigen yang mendapat mandat dari Omar Kayam untuk mengurusi segala aspek logistik di dapur, maka seperti itu pula lah saya mendapatkan mandat untuk pembuatan pagar.

Si Bayu pernah ngomong.
Bo, kalaupun ada maling masuk rumah ente, kemungkinan bakal keluar lagi. Mau nyolong apa? Hla TV aja ente nggak punya..
Ada benarnya. Tapi pagar menurut hemat kami juga bukan soal keamanan. Ada beberapa hal lainnya

  • Penambah tameng aurat untuk istri (dan saya juga sih). Soalnya sering sekali ada orang datang tahu-tahu sudah di depan pintu dan mengintip ke dalam.
  • Supaya fungsi ruang depan yang tadinya ada 3 (ruang tamu, ruang makan, dan garasi motor) setidaknya berkurang beban tugasnya 1.
  • Sebagai penambah privasi dan penambah valuasi rumah.
Yang utama sih cuma itu. Tambahannya: 
  • Agar tetangga paham bahwa halaman rumah kami bukan fasilitas umum (parkir mobil tambahan, arena bermain anak, tempat nongkrong sambil merokok, dll). Buat yang sudah lama hidup bertetangga, insya Allah sudah mengerti soal ini.
  • Istri ingin memaksimalkan kegiatan di luar rumah, tanpa harus merasa risih.
Semoga prosesnya lancar dan berkah. Aamiin.

Rumah

Bismillah

Rumah sangat sederhana sekali kami ini, waktu beli dulu, punya kisah tersendiri. Sekitar 5 tahun lalu, karena tidak ada uang, saya tidak ada rencana. Tapi takdir berkata lain.

Pagi itu sehabis shubuh, Bapak jalan kaki dari masjid ke arah pasar. Benar-benar sekadar jalan kaki. Tak sengaja, lewat di depan sebuah rumah yang sedang dibangun. Rencananya ada 10 unit kala itu, nomor 1 dan 2 sudah berdiri. Mau dijual, kata pekerja di situ. Iseng, Bapak minta brosur. Minta pendapat saya, beliau mengusulkan mulai mencicil rumah. "Ambil yang nomor 1 saja, jadi bisa langsung ditempati," pikirnya.

Diskusi keluarga pun dimulai. Bapak fokus pada kesempatan emas ini. Abang fokus pada kualitas bahan bangunan, lokasi, kadar kepercayaan dengan pengembang, dsb. Sedangkan saya sendiri mulai bingung, "bagaimana saya akan membayar ini semua?" Namun Ibu menenangkan dengan "insya Allah ada jalannya, niatkan supaya punya tempat tinggal yang dekat dengan keluarga". Ada benarnya, sih. Tapi kalau lihat saldo tabungan yang seringnya tidak bisa diambil di ATM walau selembar, kok kayaknya ndak mungkin.

Tapi palu sudah diketok. Keputusan sudah final. Diskusi keluarga dianggap selesai. Saya jelas kalah suara. Sekira jam 7 pagi, kami menelpon, pesan nomor 1, untuk selanjutnya pengembang akan datang jam 9 untuk mengurus tanda jadi dan sebagainya.

Tak dinyana, saat Pak Een datang, beliau menyampaikan hal mengejutkan.

"Maaf Pak, nomor 1 udah ada yang ambil"
"Hlo, tadi pagi katanya masih kosong?"
"Iya maaf Pak, tadi jam 8 orangnya datang ke kantor. Langsung DP 2 juta"

"Nggak beres nih," kata Bapak dalam hati. Agak dongkol. Kami menyatakan pikir-pikir. Pak Een pun pulang.

"Gimana kalau kita ke situ, Bapak pengen lihat sekali lagi," Bapak belum menyerah rupanya. Boleh jadi beliau ini mampu melihat yang tak terlihat. Vision. Kami berangkat. Diskusi keluarga tahap kedua dimulai. Perut saya mulas.

"Gimana kalau kita ambil nomor 7, tanahnya sedikit lebih luas," Bapak memulai ketegangan. Tanah lebih luas = harga lebih mahal. Pikiran saya makin kusut. Bapak dan Abang mulai negosiasi dengan Pak Een. Soal harga, soal kedongkolan barusan, soal rencana pembangunan. Layaknya caleg partai gurem yang kotak suaranya dihitung ulang, saya cukup menyendiri di pojok. Hasil akhirnya tak akan jauh berbeda. Diskusi keluarga tahap kedua selesai. Kami siap kasih tanda jadi untuk nomor 7.

Perut saya pun makin mulas.

Itu 5 tahun lalu. Bayangkan, kata orang kan beli rumah itu pengeluaran paling besar dalam hidup kita. Hla kok ini dalam hitungan jam, masih dalam satu pagi yang sama, keputusan penting itu diambil. Namun pada perjalanannya, kami sangat bersyukur. Alhamdulillah. Banyak sekali hikmah yang kami dapat. Kalau diceritakan satu-satu, kemungkinan tak akan habis selesai.

Rumah buat saya adalah tempat menghabiskan waktu paling lama. Atau setidaknya, idealnya begitu. Tempat kita melepas penat dan menenangkan diri. Rumah juga jadi pelindung aurat istri dan anak perempuan kita. Insya Allah.

Jogja dan Klakson

Bismillah

Septo nikah. Jadi Jumat malam saya berangkat ke Jogja pakai kereta api ekonomi dan Minggu sore pulang, dengan alasan finansial, juga dengan kelas ekonomi. Karena kehabisan tiket dari PT KAI, akhirnya pesan ke "agen". Akibatnya pakai ID orang lain. Melanggar hukum, tapi kan kita bukan orang jahat. Ngeles 2019.

Jogja berubah. Drastis. Di 2015 saat Sigit nikah, Jogja sudah ramai. Harga tanah dan rumah sudah meroket. Sekarang, Jogja bukan Jogja. Idealnya Jogja itu tidak macet. Sekarang jalanan dipenuhi mobil. Sepeda tak nampak. Asap kendaraan bikin hati sesak. Jika mengingat dulu kuliah di sini 4 tahun lebih, kok jadi sedih, tapi nggak keluar air mata.

Apakah kota ini akan tumbuh menjadi kota bisnis nan materialis, yang kehilangan sisi humanis dan kearifan lokalnya? Jangan sampai di Jogja ada suara klakson. Semoga.

Pulang

Bismillah

Di tengah "kesederhanaan" (kalau tak mau dibilang keterbatasan) finansial keluarga kami, akhirnya alhamdulillah tahun ini bisa mudik. Dengan harga tiket pesawat yang sempat membuat kepikiran untuk bikin paspor, pesan tiket ke Malaysia dulu, lalu menuju tanah kelahiran lewat jalur darat, tentu ini menjadi babak tersendiri dalam rangkaian episode pulang kampung tahun ini.

Pulang kampung bisa dibagi menjadi 2 kategori utama. Pulang kampung reguler, yaitu mudik lebaran atau karena libur panjang memanfaatkan tanggal merah, atau kepulangan yang niatnya permanen: seperti kepulangan setelah kuliah tahun 2009, dan kepulangan kami di tahun 2017. Masing-masing kepulangan permanen tentu menyisakan ceritera dan hikmahnya masing-masing.

Pulang itu bukan soal yes-no question atau bagaimana caranya, tapi lebih pada waktunya. Karena mau tidak mau, suka atau benci, yang namanya pulang adalah sebuah keniscayaan. Ini sih ane terinspirasi dari kata-katanya Mat Tejo pas makan bakso kemarin. Haha.

Ketakutan soal masa depan, walau sedikit, pasti terasa juga. Soal pendidikan. Jalan hidup yang dipilih masing-masing anggota keluarga. Domisili. Jaminan fasilitas kesehatan. Atau soal lainnya, yang turut jadi pertimbangan bin pikiran.

Percaya bahwa waktu adalah jawaban dari semua pertanyaan dan luka.
About Me