Jangan Melawan Tuhan

Bismillah.

Niat hati ingin ke pantai Tanjung Pasir, ternyata ada kegiatan TNI Angkatan Laut sehingga lokasi wisata ditutup 2 hari. Anak sudah teriak-teriak "mau ke pantai".

"Tadi sih ada plang tulisannya 'Wisata Mangrove'," kata Markonah.

Ide bagus. Daripada pulang dengan perasaan dongkol karena sudah terlanjur janji sama anak, akhirnya kami menyusuri jalanan kampung yang relatif kecil. Untungnya pakai motor.

Alhamdulillah. Tempatnya relatif sepi dan bagus. Cari saja dengan kata kunci "Hutan Mangrove Desa Muara".

Sepanjang jalanan kami pikir, Allah itu Maha Luar Biasa sekali. Mungkin beginilah cara Allah Mengalirkan rizki ke hamba-hambaNya. Kita tidak tahu pasti skenarionya. Jangan dilawan. Ikuti saja takdir membawa ke mana. Walau awalnya terkesan tidak enak.

Kematian Blog

Bismillah.

Kemarin tidak sengaja menghapus tulisan terakhir, yang judulnya "No Title". Bercerita tentang "kesyukuran" kami sebagai keluarga kecil, perasaan campur aduk karena masa depan pabrik yang tak tentu, dan beberapa hal yang menggelisahkan kalau tidak ditulis lainnya. Untungnya Markonah sudah selesai baca.

Salah hapus karena UI/UX Blogger memang perlu improvisasi.

  1. Ketika kita selesai mengedit pada draft tulisan, maka tulisan akan dicatat sebagai tulisan "terbaru", sehingga posisinya akan bergerak ke urutan pertama. Animasi "bergerak ke urutan teratas" inilah yang bikin salah klik. Sehingga tombol delete yang harusnya untuk draft, menjadi ke postingan terpublikasi terakhir.
  2. Seharusnya untuk penghapusan "single post", akan ada konfirmasi dengan kalimat kurang lebih seperti ini: "Anda akan menghapus post berjudul 'No Title'. Tulisan yang dihapus akan hilang selamanya. Yakin?" ditambah dengan button OK berwarna merah dan Cancel dengan jarak yang cukup. Ini memastikan tidak salah hapus.
Kalau di GCP atau Github, jika kita mau hapus instance atau repositori, diwajibkan untuk mengetik ulang instance ID atau nama repositorinya. Supaya tidak terhapus karena ketidak sengajaan.

Eh, ini tadi mau nulis apa sih sebenarnya?

Oh, kematian blog.

Blog bisa mati dengan banyak sebab. Domain yang tak diperbarui. Konten yang buntu tak terupdate. Atau ya bisa juga karena yang empunya memang sudah meninggal dunia. Tidak ada penerus. Tak ada kepanjangan tangan.

Padahal konten blog itu bisa mahal harganya. Punya valuasi, sedemikian sehingga, sebetulnya bisa diwariskan. Akan sangat disayangkan jika konten yang sudah susah payah dibuat hampir sepanjang usia, dibiarkan terpendam begitu saja.


Sunbeam

Bismillah.

Tiap-tiap orang, mungkin punya spot tersendiri di rumah, sedemikian sehingga betah berlama-lama di spot itu. Bisa jadi ruang tamu dengan sofa empuk, kamar tidur dengan jendela yang besar, roof top, atau mungkin meja kerja lengkap dengan perlengkapan untuk streaming game. Bahkan, kalaupun tidak ada cukup tempat di "dalam" rumah, di "luar" rumah pun sebenarnya bisa jadi tempat yang pas untuk merenung, menikmati hidup. Entah sambil minum kopi, atau merokok.

Buat saya, tempat itu adalah ruang tamu kami. Lebih tepatnya disebut "ruang multifungsi" karena jarang sekali ada tamu datang. Tidak difungsikan sebagai ruang televisi, karena tidak ada televisi. Tidak pula garasi motor, soalnya sejak bikin pagar akhirnya motor ditaruh di luar saja, dibiarkan kehujanan bin kepanasan.

Momen penuh kedamaian itu hadir di pagi hari. Saat matahari sedang hangat-hangatnya. Alhamdulillah langit-langit yang tinggi membuat ruangan ini seolah luas. Sambil berbaring di karpet tipis, melihat ke dua buah jendela kecil di atas yang ditembus aliran sinar surya. Warna keemasan masuk dan jatuh di samping rak buku sederhana yang sudah kehilangan jati diri aslinya: penyimpan buku atau penampung segala pernik?

Kadang bingung juga, kok rasa satisfying-nya sedemikian, padahal cuma sekadar karena cahaya?

The golden line from the sunbeam through the small hole windows. Go on basking in the glory of things that we don't understand. We are happy anyway.

Tuhan sudah sangat baik kepada kami. Nikmat yang tak terlukiskan. Alhamdulillah.

Hobi Suami

Bismillah.

Apa sih hobi kebanyakan suami? Ada yang mainan burung, mancing, dan masih banyak yang lainnya. Kesenangan lelaki. Kebiasaan yang tidak hilang walau sudah menikah. Boys will be boys.

Tapi hobi saya sebelum menikah sudah banyak hilang. Futsal, badminton, bilyar, dan kegiatan luar rumah lain (bersama kenalan), sudah hilang. Baca buku sudah jarang, karena beli buku mahal. Tapi baca online dan nulis masih. Kalau dibilang benerin genteng bocor, membetulkan saluran air sumbat, menyemen tembok / lantai, itu sih bukan hobi, tapi memang issue rumah yang harus diberesin. Tidak ada "kesenangan" di situ. Malah cenderung beban.

Paling banter main game. Itu pun banyak keterbatasan dan pembatasan. Keterbatasan mungkin laptop dan hape speknya sudah tak mumpuni. Pembatasan, dari istri suka sebel kalau kita begadang atau lupa waktu.

"Opsi hobi" suami pun akhirnya mengerucut pada beberapa hal saja. Aneh juga sih, masak hobi orang dikerucutin begitu. Tapi demi keamanan keuangan keluarga dan kebersamaan, mungkin ini hal yang baik. Nah, tinggal 2 hal yang tersisa. Mau hobi main game (Dota dll) atau hidroponik. Sebelum ini ada "beli gitar", tapi ya sudahlah. Lupakan saja.

Hidroponik

Senang lihat yang seger-seger, satisfying, dan nggak perlu butuh gerak. Dan nggak perlu teman. Tapi pilihan ini butuh modal, waktu, dan keseriusan karena ada kecenderungan gagal karena nggak punya background bercocok tanam. Belum lagi nanti pasti dimarahin kalau berantakan dan merusak pemandangan.

Game

Ini agak lebih masuk akal karena selain nggak perlu modal banyak (masih bisa pakai laptop kantor). Beli game pun jarang. Bisa jam berapa saja. Selain itu, tidak perlu teman dan nggak butuh space banyak. Jadi kayaknya pilih ini saja.




Kaya Tujuh Turunan

Bismillah.

Istilah "kaya tujuh turunan" sepintas terdengar tak masuk akal. Tapi coba kita hitung-hitung dengan gambaran kasar.

Tujuh turunan berarti hingga keturunan ke-7, masih kaya juga. Taruhlah definisi kaya yang dimaksud adalah kecukupan hidup dengan pengeluaran Rp 5 juta per bulan. Ini kita hitung per kepala. Artinya, keluarga yang di dalamnya terdiri dari suami, istri, dan 2 orang anak membutuhkan total Rp 20 juta sebulan. Jumlah yang relatif lebih dari cukup.

Kita bisa hitung dengan beberapa asumsi di bawah ini.
  • Tidak ada perhitungan inflasi (karena tertutup oleh diversifikasi investasi jangka panjang).
  • Satu keluarga terdiri dari 2 orang anak.
  • Pernikahan terjadi di usia 25 tahun.
  • Selisih waktu antara pernikahan dan kelahiran anak, diabaikan.
  • Selisih usia anak pertama dan kedua, diabaikan.
  • Satu keturunan memiliki rentang waktu hidup 70 tahun.
Level 1 : suami + istri = 2 jiwa.
Level 2 : dua anak, masing-masing menikah = +4 jiwa.
Level 3 : 4 anak, masing-masing menikah = +8 jiwa.
dan seterusnya, bisa dilihat bahwa mengikuti pola 2 pangkat n, dengan n = level keturunan.

Sehingga hingga level ke-8 (keturunan ke-7), maka total jumlah keluarga di atas adalah 

256 + 128 + 64 + 32 + 16 + 8 + 4 + 2 = 510 jiwa.

Dengan asumsi di atas, maka untuk 510 jiwa membutuhkan 

510 x Rp 5 juta x 12 bulan x 70 tahun = Rp 2.142.000.000.000,-

Dari perhitungan kasar di atas, kita ketahui bahwa untuk mendapat predikat kaya hingga tujuh turunan, seseorang harus mengumpulkan aset setara Rp 2,142 trilyun.

Demikian tulisan tidak penting kali ini.

Survival Mode

Bismillah.

Dalam keadaan ekonomi yang serba tak pasti seperti ini, orang-orang yang "aman" bukanlah yang tajir melintir. Dan belum tentu juga orang-orang yang terlihat lemah secara finansial, hidupnya jadi berantakan.

Orang-orang yang menjaga arus keuangannya agar tetap positif tanpa harus memusingkan cicilan, menurut ane, itulah orang-orang yang mampu hidup dalam survival mode. Kalau uang masuk sebulan sedikit, sebetulnya tak masalah selama pengeluaran karena hutang tidak menggunung.

Coba bayangkan pebisnis yang modalnya sepenuhnya berasal dari pinjaman ke bank. Atau mungkin bahkan lebih kejam: rentenir. Sudah pasti pusing. Pendapatan menurun karena semua lini bisnis pasti kena. Tapi kan debt collector tak peduli. Mereka tahunya ya sebulan orang ybs harus membayar sekian belas juta.

Akibatnya bisa ditebak. Mungkin harus jual aset yang ada. Mobil, tanah, rumah, bahkan rice cooker sama nasi-nasinya. Semua demi bertahan hidup. Lebih tepatnya, bertahan agar tidak dikejar-kejar tukang tagih lagi.

Berbahagialah dan bersyukurlah orang-orang yang tak punya hutang. Yang tidak pusing dengan gali lubang tutup lubang. Kaya hati lebih baik daripada kaya harta.

Tidak Naik Kelas

Bismillah.

Agak kurang suka term "tidak naik kelas" atau "tinggal kelas". Konotasinya sangat tidak enak didengar. Ketika anak itu tidak naik kelas, dia harus mengulang belajar hal yang relatif sama selama setahun penuh, bersama dengan anak-anak lain yang relatif lebih muda setahun. Jika tidak naik kelas lagi, maka secara psikologis anak tersebut akan ditambah "siksa"-nya setahun lagi. Demikian seterusnya.

Kok jadi ingat si Kori. Sekitar 9 tahun tidak ketemu, sudah sampai mana dia belajar sekarang?

Di hutan ada sekolah. Ada monyet, gajah, belatung, singa, sama ikan. Pelajarannya manjat pohon. Wajar kalau ikan nggak bakal lulus.

Anak itu bukannya tidak naik kelas. Lebih tepatnya, anak itu hanya sekadar nggak dipilih oleh sistem untuk lanjut ke kelas berikutnya.

Siapa yang buat sistemnya? Orang-orang di Kemendiknas (dan semacamnya).

Orang-orang ini, dari mana kita tahu dari kecil tidak pernah tinggal kelas? Bukankah jadi ironi, kalau sistem naik atau tinggal kelas ini, diciptakan oleh orang yang dulunya pernah tinggal kelas? Yakinkah kita kalau mereka-mereka ini tidak ada niat jahat untuk balas dendam kesumat dan jadi psikopat?

"Sialan. Guwa udah 3 kali gak naik kelas. Guwa akan belajar yang rajin supaya keterima jadi orang Depdikbud. Terus guwa ubah sistemnya. Biarin, biar makin banyak yang gak naik kelas juga. Emang enak, lengan udah banyak bulu tapi masih satu ruangan sama bocah kelas 2 SD terus?"

Dulu ane waktu SD langganan juara 1. Cuma di kelas 4 dapet juara 2. Kalau dipikir-pikir sekarang, demi apa? Demi rasa bangga dipanggil kepala sekolah dan disalami di depan ratusan siswa lain? Nggak ah, biasa aja. Demi mendapat hadiah peralatan tulis yang lumayan? Mungkin juga sih, namanya juga bocah. Demi kemudahan menjadi murid di SMP favorit? Sepertinya bukan, karena masih ada NEM atau nilai ebtanas murni yang jadi patokan. Terus, ngejar apa?

Masih ingatkah Anda dengan siapa yang menjadi wisudawan termuda, lulusan SMA terbaik, peraih rangking pertama abadi di SD? Kalau pun masih ingat, apakah fakta tersebut masih relevan saat ini? Jadi apa mereka-mereka itu saat ini?

Di kelas 1 SMP, sudah ada bibit-bibit liberalis di kepala. Benih pemberontakan. Pemikiran logis. Bahwa selama ini sistem pendidikan Indonesia itu nga-to-the-wur. Jadi sejak 1 SMP sudah mulai ada rasa malas. Apalagi video game menjamur. Eh, hlo kok ndilalah masih dapet juara juga. Ya itu rejeki namanya. Nggak dikejar, tapi masih dapet. Alhamdulillah.

Di kelas 2 SMP, lebih parah. Terdepak dari 10 besar. "Mungkin nggak cocok sama sistem semester" jadi alasan ke orang tua dan beberapa guru yang bertanya. Padahal, ya karena males aja.

Ada salah seorang teman. Bete namanya. Bete sebetulnya bentuk lain dari BT, singkatan nama panjangnya yang Bonifasius Timotius. Di SMP dulu kami punya pelajaran Muatan Lokal.

Belajarnya ngapain? Nebas rumput!

Beberapa teman bahkan menyebutnya romusha. Kerja paksa. Rodi. Gejolak perasaan tak senang menyeruak, tapi masih berupa gerakan bawah tanah. 

Si Bete ini, sebagai sesama rekan group liberalis tanpa nama, memulai percakapan. 

"Kok, mau kita dibodohin seperti ini, Wok?" katanya berapi-api. Dia pun berprinsip, daripada mengerjakan sesuatu yang nir nilai kemanusiaan, lebih baik kena sangsi berupa tugas membersihkan ruangan kelas. Sebagai sesama rekan yang tidak bawa alat tebas, ane waktu itu hanya angguk-angguk aja.

"Wok, nanti kalau bayangan guru kelihatan dari langit-langit, kita siap-siap angkat kursi ini sama-sama," katanya sambil duduk santuy, memulai sandiwara kami "bersih-bersih". Lejen bener ni orang. Ane nggak tau jadi apa dia sekarang. Jangan-jangan kerja di Kemendiknas?

Coba lihat orang-orang tua yang umurnya di atas 50 tahun tapi baru mulai belajar mengaji. Ane tidak yakin itu disebut sebagai "tinggal kelas". Kalaupun bertahun-tahun masih di level iqro' yang sama, bukan berarti orang tersebut "tinggal kelas", karena yang sudah (mengaku) lancar mengaji pun kadang-kadang masih harus masuk kelas tahsin. Ah, lagi-lagi soal istilah.

Yang masuk kelas tahsin, itu kan zaman dahulu juga belajar iqro' dan selalu "naik kelas". Tapi kok nggak bisa bedakan alif dan 'ain? Nah, itu dia letak kegagalan sistemnya.

Sama kan kayak sekolah formal? Yang "naik kelas" juga sebetulnya kebanyakan medioker dan nggak pinter-pinter amat. Yang "tinggal kelas", belum tentu "bodoh" dan kurang terdidik. Balik lagi ke pendapat ane di atas: perkara naik atau tinggal kelas, itu cuma parameter dari sistemnya.

Ngomong apaan sih ini jam 2 pagi? Haha.
About Me