Crossing The Border

Bismillah.

Border. Kalau kata terjemahan,

the edge or boundary of something, or the part near it

Bentuknya bisa apa saja. Dinding tebal. Garis. Pembatas. Sungai. Yang penting bisa membedakan. Apa yang dibedakan? Juga bisa apa saja. Mungkin status sosial, tingkat ekonomi, nasib. Bahkan bisa juga surga atau neraka.

Betapa banyak orang yang ingin menyeberangi "batas" imajiner yang manusia buat sendiri. The Wall, misalnya. Berapa banyak orang Meksiko yang sudah bertaruh jiwa hanya sekadar punya penghidupan yang lebih baik di US? Mereka harus berjibaku dengan kehidupan yang keras di negara asalnya. Kartel narkoba. Kemiskinan. Kekusutan dan ketidakamanan. Mereka mendambakan berada di sisi lain dinding. Untuk mengenyam roti yang lebih nikmat. Air yang lebih jernih. Hijrah menuju negara yang katanya jadi mimpi sebagian besar orang di dunia, walaupun tiap hari ada aja berita mass shooting.

Bagi sebagian orang, bahkan mimpinya nggak yang muluk-muluk banget. Sebatas bisa beli nasi uduk pakai telor, atau bisa beli happy meal. Boro-boro mau berangkat haji, bisa makan 3 kali sehari aja udah alhamdulillah.

Bersiap Kecewa

Bismillah.

Program Matrikulasi sudah dimulai. Sudah mulai banyak yang "berguguran" di tengah jalan. Alasannya pun kita tidak bisa tahu pasti. Yang jelas, uang yang sudah dibayarkan ke pihak kampus akan hangus dan paling-paling hanya bermanfaat untuk punya email pelajar dan apply Github Pro, JetBrains, dsb.

Di awal, Bob merasakan beban berat. Markonah dari awal sudah wanti-wanti.

Jangan pakai ekspektasi versi almamater kamu. Ingat, ini kampus swasta. Masing-masing punya motivasi berbeda. Nanti kamu sekelompok sama Mamak-mamak yang ambil program master hanya sekadar untuk naik pangkat. Boro-boro mau ngerti coding. Pusing dia ngurus kerjaan, keluarga, skincare.

Lowering your expectations makes you happier.

Kompetisi dan Kolaborasi

Bismillah.

Nenek moyang kita terbiasa, atau terpaksa, berkompetisi. Memperebutkan makanan. Shelter. Sumber daya. Pasangan. Apapun. Masalahnya, semakin ke sini, kita akan semakin berbeda dengan para pendahulu kita. Manusia zaman now akan cenderung memilih jalan kolaborasi dibanding kompetisi.

Inilah yang menjadi salah satu penyebab orang-orang dengan tangan dominan kiri menjadi semakin sedikit, walau secara statistik mereka itu juga punya peluang yang sama besar dengan orang yang terlahir dengan dominan tangan kanan. Orang yang punya DNA kidal, akan "terhanyut" dengan "mayoritas" (tangan kanan) supaya mereka bisa berkolaborasi lebih baik. Orang kidal, dalam dunia olahraga misalnya, akan punya keunggulan tersendiri karena mereka minoritas yang orang kanan kurang terlatih menghadapinya.

Perayaan kemerdekaan diisi dengan hal-hal berura kompetitif. Akan ada perasaan "jika saya ingin menang, maka orang lain harus kalah". Padahal mungkin ada orang yang pengen dapet hadiah supaya sekeluarganya bisa makan. Atau, mirip seperti cerita Children of Heaven, di mana Ali ingin mendapat juara 2 saja (bukan juara 1) supaya hadiahnya, sepasang sepatu, bisa ia berikan kepada Zahra, adiknya.

Isu kemanusiaan masih banyak yang harus dipecahkan. Semuanya butuh kolaborasi. Paling minimal, kita pecahkan dulu alasan mengapa pasang elpiji 3 kilo harus dikaretin dulu dan diganjel pakai cobek.

Sanity

Bismillah.

Kalau diterjemahkan mungkin bakal jadi "kewarasan". Versi keminggris-nya : 

    - the ability to think and behave in a normal and rational manner; sound mental health

    - reasonable and rational behavior

Ada jalan satu arah. Dari arah depan, truk kencang melawan arah. Kita naik motor. Karena merasa benar, kita tetep nggak mau minggir. Kita ditabrak. Pertanyaannya bukan "siapa yang salah" tapi lebih ke "siapa yang lebih bodoh"?

Di dalam hidup banyak sekali hal irasional dan kusut yang tak sesuai dengan idealisme kita. Tapi bisa jadi, semakin kita melawan, kadar kewarasan kita semakin terkikis. Markonah pernah bilang,

Makin rasional, kita itu makin baperan. Kayak Squidward. 

Satu Bikini Bottom, yang nggak aneh dia sendiri. Tapi justru dia itulah yang paling nggak menikmati hidup. Perkara waras atau tidak waras, sudah masalah mayoritas versus kaum marginal. Kalau Anda yang marginal, Anda itu yang tidak waras.

Gitu kali ya rumusnya? Auk ah.

Mal

Bismillah.

Kami jarang sekali ke pusat perbelanjaan karena minimal dua hal.

  • Budget terbatas, takut terlalu boros.
  • Risih karena banyak dada dan paha.
Pernah suatu kali kami ke sebuah mal di Jakarta Barat, yang ada jembatan warna-warninya. Niatnya cuma mau foto-foto aja. Itu isinya mbak-mbak pakai hot pants yang bisa bikin hidung mimisan. Hoalah Mbak, itu celana pendek apa celana dalem? Kok sampai pangkal pahanya kelihatan gitu. Apa ndak malu kalau sampe borok selangkangannya kelihatan?

Akhirnya kami memutuskan kembali ke tempat kami menginap saja. Bukankah kita itu sering kali merasa, 
"Ini sepertinya bukan tempat kita. Kita nggak cocok di sini."
Kami lebih senang cari tempat yang sepi dan minim pengunjung, supaya anak lari-larian sampai puas. Beli makan sempol ayam saja atau risol bekal sendiri dari rumah. Minumnya teh manis hangat. Udah gitu doang.

Hari Pertama Sekolah

Bismillah.

Kami bersyukur menjadi orang tua yang mendapat kesempatan untuk mengantar anak berangkat sekolah di hari pertamanya. Sebetulnya tak juga bisa dibilang "pertama", karena sebelumnya ada "Fun Kids". Itu semacam latihan bersosialisasi dan semi-sekolah supaya anak tidak terlalu kaget.

Sayangnya, saya belum bisa menjemput. Belum bisa menjadi yang pertama mendengarkan cerita anak di hari sibuk dalam kehidupannya yang masih belia. Cerita tentang teman-temannya yang berbagai macam. Ada yang nangis, ketakutan, teriak-teriak, berebut mainan, gemetar memeluk tiang kelas, sampai buang hajat di celana.

Aba dan Umi tidak menyekolahkan kamu supaya jadi orang yang pintar, Nak. Kami hanya berharap engkau bahagia. Berbahagialah, Nak. Sukur-sukur bisa membahagiakan kedua orang tua dan orang banyak. Aamiin.

Nihongo

Bismillah.

Dulu waktu kuliah, seperti pada umumnya teman-teman seangkatan yang tertarik pada hal-hal berbau Jepang, pada akhirnya memutuskan untuk belajar bahasanya. Motivasi paling utama ya supaya bisa kuliah ke sana. Cari beasiswa. Keinginan kuat ini berujung pada semangat kursus di salah satu lembaga bahasa Jepang di Yogyakarta.

Teman-teman baru. Lingkungan yang menyenangkan. Sensei yang baik hati. Semua serba kondusif. Bahkan sampai ada momen unik. Ceritanya waktu itu kami shiken (test). Terus mati listrik. Sudah jam 5 sore. Gelap kalau di dalam ruangan. Karena ribet harus cari lampu atau lilin, dan waktu pun tinggal beberapa menit lagi, akhirnya kami terpaksa ujian di luar kelas (biar terang gitu maksudnya). Perdjoeangan.

"Ya Allah, harus banget mirip di manga, yak?"

Keinginan pergi ke Jepang meluntur seiring waktu, karena tak bersemangat mencari beasiswa lagi.

Jadi teringat percakapan dengan Mbak Vivi, salah satu sensei kami yang pernah ke Jepang.

"Mbak, pengen ke Jepang lagi?"
"Nggak"
"Hlo, kenapa?"
"Hmmm... Nggak aja," jawabnya sambil senyum-senyum.

Mbak Vivi ini orangnya periang, dan super sabar. Tidak pernah sekalipun menampakkan raut wajah sedih. Tapi, pertanyaan itu masih menjadi misteri. Tanpa jawab. Sampai sekarang. Bahkan, sampai kapanpun.

Mbak Vivi meninggal dunia tak lama setelah kami naik ke level 3.

Selamat jalan, Sensei..

About Me