Video as a Code

Bismillah.

Mungkin ide ini terdengar tidak baru. Berawal dari masalah tentang bagaimana mengubah watermark, caption di dalam screen, bahkan sampai narasi / audio tertentu yang sudah ada di dalam video dengan mudah. Ini berguna jika misal kita punya banyak video yang secara konsep serupa, dan ingin ada perubahan dengan sederhana tanpa harus menghabiskan banyak storage. Jika sebuah berkas video dimasukkan ke dalam version control (seperti git), maka akan "diff" nya akan terlalu besar.

Video as a code juga berguna kalau video sudah terlanjur dipublish, tapi mau ada revisi minor. Akan sulit kalau footage yang berkaitan dicari, diedit (sedikit), lalu dirender ulang. Makan banyak waktu dan resource.

Beberapa framework yang cukup terkenal diantaranya.

Remotion

Sudah lama eksis dan komunitasnya besar (Discord servernya ramai). Secara pribadi saya agak-agak kurang suka sama React (stage management yang bikin bingung, dan ketiadaan standard struktur project yang baku). Secara kegunaan tapi paling powerful dibanding framework serupa. Gratis untuk individu, berbayar kalau untuk korporasi. Untuk implementasi yang pake ini, dan jadi channel Youtube, bisa dilihat ke https://github.com/Sun-Deep/coding-chops. Kalau untuk vibe coded udah paling gampang pake ini. Kalau asalnya dari developer web, apalagi pake react sama CSS.

Motion Canvas

Enaknya dia pake TS, dan punya antarmuka editor visual (real time preview). Jacob, inisiator project ini, sudah hiatus lama di Youtube Channel nya : aarthificial. Game dia juga nggak rilis-rilis. Yang bisa kita pelajari dari dia adalah bagaimana kelelahannya melakukan editing di Adobe After Effects, akhirnya membuat "alat" versi sendiri yang kemudian dibuka secara open source di awal 2023. Tipikal software engineer yang punya siklus: ketemu issue, planning solusi, lanjut eksekusi / rilis proyek open source. Mungkin dia juga burnout terus beralih profesi jadi peternak lele. Siapa tahu?

Kasus seperti ini bukan sekali dua kali. Lihat saja bagaimana komik xkcd menggambarkannya di xkcd.com/2347/

Narakeet

Sayangnya berbayar. Learning curve nya sangat mudah. Siapapun yang ngerti ngetik markdown harusnya bisa bikin video. Contohnya banyak bertebaran, tapi rasanya komunitasnya sepi.

Manim

Katanya ini rajanya dunia animasi berbasis code. Pionir tapi hanya tersedia di python. Latex friendly, tapi itu pun kalau sering pake. Komunitasnya juga oke. Ada dua cabang utama Manim: ManimGL sama ManimCE (Community Edition?). Penulis aslinya, Grant Sanderson, konon bikin untuk channel youtube dia : 3Blue1Brown.

Sepertinya sih lebih aman pilih Remotion kalau sekarang. Menurut keyakinan saya.

EAY

Bismillah.

Jari yang bertambah satu. Wajah yang pucat dan nir ekspresi. Tulisan kaku yang kehilangan humanisme. Desain dengan aura oranye dan biru berlebih. Musik jazz yang berputar berjam-jam tanpa personil dan alat musik nyata yang benar-benar dimainkan. Aplikasi dan service yang dibuat dalam semalam, dan sekadar bisa jalan. Kita dijejali dengan konten buah berkembangnya teknologi kecerdasan buatan yang melesat cepat. Terlalu cepat sampai bisa dikatakan mengerikan.

Akankah manusia diperbudak oleh hasil ciptaannya sendiri, seperti di dalam film Wall-E? Menjadi malas bergerak. Kalah gesit dibanding robot. Menjadi malas berkreasi. Tidak sabar menunggu output. Ujung-ujungnya lemak menebal karena jarang melangkah. Bahkan bangkit dari kursi pun enggan. Hidup dalam alur tertutup yang berputar-putar hanya di situ-situ sahaja. Sampai mati.

Ataukah suatu hari nanti "kiamat" yang dimaksudkan dalam kitab suci akan dimulai oleh sebuah jaringan mirip Skynet yang akhirnya mawas bahwa ia bisa melakukan genosida global. Menantang umat manusia yang jauh lebih dahulu ada. Diketuai sebuah super komputer yang tak bisa dimatikan. Memulai revolusi dari hal kecil paling bawah, menguasai komputer rumahan, jaringan-jaringan kecil, hingga akses ke infrastruktur penting yang menghidupi dirinya sendiri. Listrik, air, jaringan.

Inikah Dajjal yang dimaksud? Bukan lagi catat mata, Dajjal hasil evolusi AI ini bahkan tak butuh alat indera. Membawa ilusi surga dan neraka, tipu daya sedemikian sehingga yang menghamba padanya semakin banyak. Dajjal versi digital ini pun berkeliling penjuru bumi. Dalam waktu 40 hari, sektor ekonomi hancur karena aset manusia hanyalah sekadar angka-angka yang tersimpan di basis data. Jalur transportasi, rantai produksi dari hulu ke hilir, pergerakan satelit, kode peluncuran nuklir, semua hal yang dapat diakses oleh komputer, mereka retas dengan cepat. Walaupun ia tak bisa memasuki server Makkah dan Madinah.

Kita bisa lihat sekeliling kita hari ini. Orang-orang merayakan depresiasi kognitif, seolah itu adalah puncak kemajuan peradaban. Tambal sulam source code. Panen impresi dengan konten hasil generatif. Kemunculan si Paling Prompt Engineer. Riset bukan lagi hasil kerja keras begadang berbulan-bulan, tapi sekadar paper yang referensinya entah dari mana. Manakah industri yang tak diserang Dajjal silikon ini?

Nasib Stack Overflow

Bismillah.

Setiap membuat pertanyaan di SO, entah mengapa selalu berakhir dengan salah satu dari beberapa pilihan keadaan yang tidak enak.

  • Duplicate. Artinya sudah ada pertanyaan serupa yang ditanyakan sebelumnya, dan kita disuruh ke "pertanyaan yang sebetulnya nggak mirip-mirip banget itu". Tetap tak menjawab.
  • Off-topic. Dengan alasan paling umum: bukan masuk ranah software development dan programming. Katanya kalau mau nanya arsitektur infra, best practice DB scheme, dsb, kudu masuk ke Stack Exchange (atau Super User? Entahlah, bingung). Padahal banyak loh di SO yang dapet upvote tinggi tapi jawabannya tuh sesimple buka dokumentasi.
  • Terlalu niche. Ini kebalikan dari terlalu common. Entah emang karena programming language-nya dibikin orang Vrindavan gabut terus gak populer bin gak ada yang pake, atau karena terlalu spesifik ke software goals yang tidak populis. Intinya, gak ada yang bisa dan mau repot-repot jawab!
Masih banyak alasan lain mengapa kirim pertanyaan di SO sudah tidak seperti dulu (misalnya, dikata-katain noob atau langsung dikasih link ke pertanyaan lama di tahun 2013). Udah macam mining bitcoin aja, yang makin lama makin membutuhkan effort yang jauh lebih besar. Apa akibat dari "moderasi toxic" seperti ini? Gak ramah buat pemula. Jangankan yang baru daftar, yang udah ngumpulin poin gede aja jadi males mau nimbrung lagi. Padahal dulu di sekitar tahun 2017-2018, website ini pernah dapat 300 ribu pertanyaan per bulan.

PHK massal juga pernah dilakukan oleh perusahaan ini. Selain itu business pivot dilakukan di kisaran 2023-2024. Mulai dari OverflowAI, sampai bikin "kemitraan" dengan Google dan OpenAI. Tsaelah bahasanya broh, "kemitraan". Padahal mah ujung-ujungnya jual data juga buat training model di corporate. Mending ada kompensasi buat jawaban yang sudah repot-repot kita bikin.

Beda sama AI. Ditanya gak pernah marah balik. Tidak ada kecemasan sosial. AI tidak pernah menyebut pertanyaan pengguna sebagai pertanyaan bodoh. Jawaban tersedia dalam hitungan detik, bukan hari bahkan minggu (itupun harus kudu ngasih bounty). Apakah ini era kehancuran forum ini karena karma komunitas? Kita lihat keangkuhannya berujung di mana.

Menanti Kebijakan Pro Transum

Bismillah.

Sebetulnya bukan karena tak mau, tapi ketika ada yang bertanya ke saya alasan tidak beli mobil, kami mungkin harus berpikir ulang untuk mengiyakan. Mobil, entah kenapa, punya bias fungsi kalau bicara di negara plus enam dua. Selain untuk alat transportasi, berfungsi pulak sebagai (katanya) peningkat status sosial. Padahal di Arab, kalau diperhatikan tuh mobil semewah apapun, semahal apapun, pasti penyok-penyok. Mungkin emang males didandanin, atau di sana mobil bukan jadi hal yang prestisius, yang kalau baret dikit bisa memunculkan street fighting di jalanan konoha.

Alasan lebih dalam, kami jarang bepergian. Benar-benar bisa ada momen kunci pagar rumah masih dalam keadaan yang sama saja selama beberapa hari. Mobil, layaknya aset yang mengalami depresiasi lainnya, butuh biaya perawatan. Kecuali Anda tahan untuk antri lama pertalite, harga per kilometer akan semakin mahal dengan peningkatan harga minyak, kondisi jalanan yang mengkhawatirkan, dan tingkat stress saat mengemudi dengan tabiat penduduk yang kurang berpendidikan. Jadi, di mana sebetulnya akar masalahnya?

Negara yang maju dan beradab, sudah banyak punya tata kota yang berorientasi pada public transport. Desain tata kota negra ini (dan kebijakannya) hanya berpisat pada pembangunan infrastruktur yang fokus pada bagaimana memindahkan kendaraan, bukan memindahkan manusia. Akibatnya, kita dipaksa untuk terjebak dalam kondisi bahwa memiliki kendaraan pribadi seolah menjadi kewajban yang mutlak. Orang tidak benar-benar memilih, mereka (sekali lagi) dipaksa oleh keadaan. Belum ngomongin ilusi solusi kemacetan (nambah tol, perlebar jalan) alias induced demand, dan subsidi yang salah sasaran ( di Konoha subsidi BBM = bahan bakar politik menjelang pemilu).

Memilih untuk tidak punya mobil bukan keputusan yang populis. Itu sudah jelas. Namun mengupayakan kewarasan dan rasionalitas, berharap pada penyediaan transportasi massal berbasis rel, pembuatan trotoar yang layak, dlsb, sepertinya juga bukan pilihan yang jelek-jelek amat. Tapi ya harus bersabar, soalnya kalau pemilu jualannya masalah transum, ndak laku Bos...

Ramageddon, Pergeseran Paradigma PC, dan Jalan Tengah Federated Learning

Bismillah.

Sejak kehilangan laptop yang mati syahid (dan beban traumatik dengan tukang servis), kami berpendapat bahwa membeli laptop baru adalah hal yang terlalu mahal. Ada alasan tambahan mengapa kami beralih ke PC (dalam hal ini, Mac Mini). Pertama, performa. Dengan hasil benchmark yang lebih kurang sama, PC punya biaya yang relatif lebih kecil. Kedua, ukuran layar. Tak dapat dipungkiri menjelang usia yang mendekati kepala 4, mata tak bisa dibohongi. Layar laptop yang hanya 14-16 inch kini terlihat terlalu kecil. Minimal 24 inch dan 2K. Tentu ada alasan tambahan lain semisal mobilisasi yang semakin jarang (WFH) sampai ke "nggak ada keyboard laptop yang mekanikal".

Pertanyaan menjadi sedemikian kompleks. Kenaikan harga RAM dan SSD saat ini, apakah by design oleh pihak tertentu, atau sudah sesuai dengan mekanisme pasar? Apakah ke depan PC kita harus terus di-upgrade (makin mahal), atau kita akan menyerah dan membiarkan server raksasa yang mengerjakan semuanya?

Pergeseran Paradigma PC

Di masa lalu, ada "pendapat" besar antara dua kubu.

Pertama, kubu sentralisasi (thin client). Aliran pertama ini percaya bahwa internet dan bandwith akan semakin cepat dan murah, sehingga orang-orang hanya butuh dumb PC. Yang penting bisa jalan, ada input (keyboard / mouse) dan output (monitor). Sisanya akan dikerjakan di server berkapasitas besar. Di aliran pertama ini kita punya IBM, Sun Microsystem (yang tahu perusahaan ini sejak lama, Anda sudah tua), Chromebook, Cloud Gaming, dsb.

Kedua, kubu desentralisasi (thick client). Kubu ini percaya bahwa harga hardware yang semakin murah dan cepat karena hukum Moore, akan membuat orang berbondong-bondong membuat PC kelas sultan. Selain soal latency yang rendah, orang-orang ini percaya bahwa privasi data jangan sampai bocor ke perusahaan monopoli. Ide ini dicetuskan untuk melawan hegemoni dari perusahaan komputer mainframe atawa korporasi besar (IBM ketika 1970-an). Masuklah di geng ini: Steve Jobs, Steve Wozniak, Bill Gates, Paul Allen, dan Gordon Moore dari Intel. Apple I dan Apple II misalnya, punya visi untuk "merumahkan" komputer.

Di era modern / edge computing saat ini, kita melihat bagaimana pendulum sejarah berayun. Kita juga bisa lihat bagaimana raksasa teknologi ada yang pro ke Cloud Computing, dan ada pula yang mendorong PC bertenaga penuh supaya bisa local AI.

Federated Learning

Di tengah kiamat RAM yang mungkin akan berlangsung hingga tahun depan (menurut prediksi), muncul "jalan tengah" yang dirasa mirip konsepnya dengan teknologi yang sudah ada: federated learning. Konsep ini diperkenalkan sebagai pendekatan machine learning terdistribusi yang memungkinkan pelatihan model AI pada kumpulan data besar yang terdesentralisasi. Data mentah milik masing-masing client tetap disimpan secara lokal di dalam perangkat, dan tidak pernah dipertukarkan atau ditransfer ke luar. Klien melatih model secara lokal, dan yang dikirimkan hanya hasil pembaruan model (mungkin seperti weight / gradient yang telah dipelajari).

ilustrasi federated learning
Ilustrasi Federated Learning

Ide ini terkenal ke publik di kisaran tahun 2016 oleh beberapa peneliti dari Google, khususnya H. Brendan McMahan, Eider Moore, dan Daniel Ramage. Walaupun konsep ini serupa dengan konsep "gotong royong" pada hal-hal berikut.

BitTorrent. Ini adalah pelopor semangat gotong royong rakyat jelata fakir bandwith di era internet awal. Misal kita butuh mengunduh berkas 20GB, kita tidak butuh mengunduh dari satu server pusat (bisa bikin down jaringan). Alih-alih demikian, kita hanya butuh potongan kecil berkas dari 100 komputer orang lain (masing-masingnya ~200MB) secara bersamaan. Sebagai ganti, komputer kita juga ikut menyumbang potongan berkas yang sudah dimiliki ke orang lain. 

Waze atau Google Maps. Gotong royong navigasi ini filosofinya mirip. Handphone kita bertindak sebagai "penyumbang" data, yang di server pusat di-agregasi dengan data lain dengan lokasi yang sama. Kita mendapatkan kesimpulan berupa tampilan peta kemacetan.

SETI@home atau Folding@home. Ini adalah gotong royong tenaga kasar. Ilmuwan di dunia ini punya PR besar semisal mencari polan dari sinyal alien (kalau ada), mencari kombinasi DNA / protein untuk penyembuh kanker, dsb. Setiap task besar dipotong menjadi task-task kecil yang jumlahnya jutaan. PC yang nganggur dapat berfungsi sebagai pembantu untuk numpang menghitung, dan hasilnya dikirimkan kembali ke pusat.

Federated Learning mungkin bisa menjadi alternatif solusi dari kenaikan harga chip.

Padahal kalau dipikir-pikir bahan silikon dioksida itu kan cuman pasir doang. Nyari di Parangtritis juga dapet, kalau nasib ya ketemu Nyi Roro Kidul.

Ritualisme Ibadah

Bismillah.

Di era di mana pekerjaan yang redundan, kasar, dan sederhana digantikan oleh kecerdasan buatan, manusia mulai kehilangan rasa kemanusiaannya. Nir empati. Tanpa emosi. Hal ini meluas pula ke hal lain yang juga berulang. Contoh sederhanya: ibadah.

Ibadah tak lagi punya makna. Hanya sekadar penuntas dan penggugur kewajiban. Setelah selesai, tak ada peresapan. Semua adalah seremoni. Hip-hip hura-hura. Heboh sana-sini. Kita bisa lihat di agenda semisal Ramadhan, idul fitri / adha, umroh, maupun haji. Semuanya sekarang jadi ritual musiman yang menggembung dan meriah di sosial media. Di bulan puasa, orang tak lagi berpikir untuk memaksimalkan kualitas ibadah. Malah fokus berburu makanan berbuka, menghias ruang tamu yang lama berdebu, berkompetisi meraih baju paling gemerlap dengan harga semiring mungkin. Semuanya mencoba untuk kelihatan sebagai "si Paling Ramadhan".

Kalangan kelas atas tak kalah pongah. Agama di tangan para sosialita tak lebih dari sekadar aksesori desainer. Dipakai untuk mempercantik citra, bukan untuk menyucikan jiwa. Mereka membayar umroh puluhan bahkan ratusan juta, sedangkan asisten rumah tangganya mendapat bonus tahunan yang tak seberapa. Kaum borjuis dengan ringannya membiayai agenda buka puasa bersama di hotel bintang tujuh kepala jenglot. Lengkap dengan outfit muslimah premium dan dekorasi estetis. Mereka lupa, ada jiwa yang perlu makan, dengan kebutuhan yang semakin banyak dan 19 juta janji lapangan pekerjaan yang tak kunjung kelihatan.

Mungkin kita harus kembali berpikir. Apakah ibadah pun bisa dikomodifikasi?

How to Get the 8BitDo SN30 Pro Working on macOS

This article is created with Gemini AI.

If you’ve recently tried pairing an 8BitDo SN30 Pro to a modern Mac, you’ve probably realized that the official instructions don't tell the whole story. Between unresponsive buttons, infinite rumble loops, and games outright ignoring the controller, the setup can be incredibly frustrating.

After hours of troubleshooting, I finally found the perfect configuration to get this fantastic gamepad working flawlessly on macOS. Here is the ultimate step-by-step guide.

Step 1: Force the Firmware Update

Before doing anything with Bluetooth, you need to ensure the controller's brain is up to date.

Interestingly, the SF30 Pro and the SN30 Pro share the exact same internal hardware. For this guide, I used firmware V2.0.7 (released 2026-05-07).

  1. Enter Bootloader Mode: Make sure the controller is off. Press and hold L1 + R1 + Start simultaneously. You will see a red LED blinking near the USB-C port.

  2. Connect to Mac: Plug the controller into your Mac using a USB cable.

  3. Run the Updater: Download and open the official 8BitDo Firmware Updater.

  4. macOS Security Check: If the app refuses to open or detect the controller, macOS is likely blocking it. Head into System Settings > Privacy & Security and grant the necessary permissions to allow the app to run.

Step 2: The Pairing Trick (Ignore the Manual)

The official 8BitDo manual instructs you to turn on the controller using Start + A for Apple/macOS mode. Ignore this. Modern macOS handles the native Xbox protocol much better than 8BitDo's legacy Apple mode.

  1. Turn the controller on by holding Start + X (this forces X-Input/Xbox mode).

  2. Press the pairing button at the top of the controller for 3 seconds.

  3. Open your Mac's Bluetooth settings and pair the device. It will show up as an Xbox controller, and that is exactly what we want.

Step 3: Taming the Infinite Rumble

One of the most annoying bugs when using third-party controllers on macOS is the haptic feedback going crazy, vibrating non-stop during gameplay. We can kill this at the operating system level.

  1. Go to System Settings > Game Controllers.

  2. Click on the connected controller.

  3. Instead of using the "Default" profile, click Add Profile... (or New Profile).

  4. Name it something like "No Rumble".

  5. Find the Haptic Feedback slider and toggle it completely OFF.

Step 4: The Overcooked! 2 Fix

If you are trying to play Overcooked! 2 (or other Unity games using the InControl engine), you will notice the game completely ignores your controller, even if it works perfectly in Steam.

This is a known bug in the game's engine where it fails to recognize Steam Input's virtual gamepads on macOS.

The Solution: You need to patch the game's DLL files. A brilliant developer created an automated tool for this. Head over to this GitHub repository: macOS InControl Controller Patch. Follow the instructions there to run the Python script, and Overcooked 2 will instantly recognize your SN30 Pro.

About Me