Setelah Punya Anak

Bismillah.

Beberapa waktu lalu bekesempatan menjumpai seorang teman lama. Beliau ini boleh dikatakan menikah di usia yang tak lagi muda, tapi anaknya sudah dua. Menikah, lalu memiliki anak, adalah tahapan dalam kehidupan yang menambah tantangan. Masing-masing ada kesulitannya. Wajar bila teman saya ini punya kekhawatiran.

"Akan sampaikah?" tanya dia.

Akan sampaikah usia kita saat anak beranjak dewasa? Bisakah kita melihat dia tumbuh besar, mendapat pendidikan yang layak, sehat lahir batin, berkeluarga dengan lelaki pilihan yang sholeh, berbahagia hingga akhir hayat? Ada kecemasan. Rasa takut. Takut bila doa kita kepada anak, atau sebaliknya, dari anak kepada orang tua, tak sampai. Takut kalau-kalau, sederhana saja misal, anak dirundung di sekolah. Takut bila anak terjebak pergaulan yang tak sepatutnya. Bila pikirannya dipenuhi pikiran cemas yang sama dengan orang tuanya.

2026

Bismillah.

Satu tahun terlewati dengan kerja keras, keringat dan tangis. Perjuangan pendidikan 2 tahun akhirnya diselesaikan dengan keengganan menghadiri ritual formalitas. Stereotipe akademis yang dirasa ndak perlu-perlu amat buat didatangi. Bukannya tidak menghargai institusi, tapi mohon maaf kalau harus ambil cuti dari pabrik rasanya berat. Episodenya masih belum final, soalnya ijazah masih ditahan karena belum ada publikasi.

A photo from Jason Leung

Di tahun yang baru, tentu makin banyak harapan baru. Yang belum tercapai. Susah digapai. Untuk bangsa, keluarga, dan pribadi. Setahun itu waktu yang lama. Banyak hal bisa terjadi. Tapi bukankah kita diajari doa untuk mengawali hari? Dengan mensyukuri pagi. Menghirup udara dingin yang masih belum tercemar ambisi dunia. Mendengar tetesan air dari langit di pinggir jendela yang separuh basah. Dengan tidak terburu-buru menyesap udara untuk 365 hari dalam satu tarikan nafas. Mengatur ritme. Menuju puncak gunung dalam ribuan langkah kecil dan berpeluh, bukan satu lompatan raksasa.

Tabah pada percakapan dan hubungan yang tulus. Tidak melihat roti di keranjang orang lain dan mengabaikan remahan rengginang dalam genggaman sendiri. Tapi tak juga sampai pesimis dengan meredupkan lilin dalam badai. Yakin bahwa akan ada kenyataan baik yang belum diberikan Tuhan. Kalau tidak di dunia, di kehidupan setelah dunia.

Workspace 2025

Bismillah.

Sejak April tahun lalu, hampir tidak ada yang berubah. Spek begitu-begitu saja. Bahkan buat tesis malah pake laptop pinjeman dari pabrik (karena butuh CUDA-nya). Di satu sisi jadi bersyukur karena punya mesin yang tidak punya mobilitas tinggi. Biar ada batas antara kerja dan istirahat.


Kalau ada dana lebih, kepikiran untuk ganti ke spek yang lebih tinggi. Tapi dengan keadaan sekarang pun sepertinya lebih dari cukup. Kita lihat nanti, perang chip masih terjadi. Tren farming pakai VGA sepertinya berubah. Market masih dinamis bergerak. Entah makin murah atau justru sebaliknya. Yang pasti kita menunggu "orang kaya buang sampah". Sabar dan siap menyerok di harga rendah.

Update: daftar lengkapnya menjadi sebagai berikut

  • Mac Mini M1 2020 8/512 (second)
  • Monitor LG 24QP500 (2K 24")
  • Keyboard Logitech K380
  • Keyboard Royal Kludge N80 low profile (second)
  • Mouse Logitech M650 Large
  • USB Microphone DA Stream 002
  • Headset Sony WH-1000XM4 (second)
  • Kursi Torkel dari IKEA (jadul tapi awet banget)
  • Meja Mxtark Electric Standing Desk (discontinued)
  • Deskmat dari keykraft.shop (custom design)
  • Wacom CTL-472 (second)
  • Webcam Eyesec 1080p
Selain itu saya juga punya 3 monitor di 3 lokasi berbeda (masing-masing ukuran 24" tapi hanya FHD). Mengapa? Karena saya sudah menyerah dengan laptop. Macbook Pro dari pabrik lama tidak dapat dioperasikan lagi (lebih tepatnya, males cari tempat service). Menurut saya performa desktop masih sulit dikalahkan, kecuali untuk orang yang mencari mobilitas (sering kerja beda tempat). Mungkin ini akan jadi tulisan tersendiri.


"Jaminan" Hari Tua

Bismillah.

Sebetulnya, kalau kita mau jujur, frase "jaminan" tersebut terkesan seperti gimmick marketing yang sedikit dipaksakan. Layaknya perusahaan asuransi yang salesnya bergerilya demi mencari sebanyak mungkin nasabah, maka perusaaan plat merah tersebut juga seharusnya melakukan aksi serupa. Nasabah atau karyawan dengan gaji bulanan adalah sumber cuan dan bahan bakar untuk gedung-gedung mentereng dan mbak-mbak dengan gaya menggoda dan suara mendesah separuh basah. Semakin membuat perusahaan terlihat parlente dan mbois.

A photo from Simon Godfrey

Tapi akumulasi potongan gaji tersebut ternyata ingin diambil secepat-cepat mungkin oleh nasabah. Nasabah tak ingin menunggu masa tuanya datang, baru bisa menikmati. Kebutuhannya hari ini bin sekarang. Mungkin sudah keburu takut perusahaan tersebut dikorupsi petinggi pemerintahan ataukah gagal bayar seperti perusahaan penjual "kecap" yang lain. Ataukah mungkin nasabah tidak percaya oleh janji manis yang disodorkan, merasa tak ada gunanya berharap pada nominal yang tak seberapa, dan harus bolak-balik mengecek angka saldo yang tak berubah signifikan selama puluhan tahun.

Pekerja sektor informal, bukanlah target pasar perusahaan ini. Mereka bekerja hari ini, dan kemungkinan besar mendapat uang hari ini, untuk kemudian dihabiskan pula hari ini. Mereka tidak percaya dengan "jaminan". Tidak ada itu di kamus mereka. Mereka lapar sejak kemarin. Jangankan menunggu belasan bahkan puluhan tahun, menunggu hari ini berakhir pun dengan sejuta kekhawatiran.

Tapi, bukankah kita diajari berbagai macam doa untuk menghadapi berbagai kesulitan? Doa Nabi Ibrahim 'alaihissalaam ketika terkepung bara api. Nabi Yunus ketika berada di dalam 3 lapis kegelapan. Nabi Ayub ketika sakit keras. Nabi Musa ketika beliau sulit bicara di depan pejabat zalim. Nabi Muhammad sholallahu 'ala wassalam ketika meminta kebaikan dunia. Jika kita gentar menghadapi masa depan, siapakah selain para nabi yang kita jadikan role model, sedang mereka menghadapi beban yang berkali lipat lebih berat?

Arafah

Bismillah.

Wukuf punya (salah satunya) makna berhenti. Walau hanya sejenak. Berkontemplasi. Bercermin. Mengevaluasi yang berlalu, menatap masa depan dengan optimisme. Menanggalkan ambisi keduniawian. Menapaktilasi perjuangan Bapaknya para nabi. Dan pada akhirnya, berusaha memenuhi panggilan Tuhan. Bersegera. Meminta kekuatan dari Yang Maha Kuat. Berharap agar diberi kemampuan untuk bersabar atas segala ujian. Kehilangan harta dan kenyamanan. Jauh dari keluarga.

Wukuf tidak lama. Bahkan ketika keadaannya sedemikian sulit, misalnya saat sakit parah, wukuf diperbolehkan dilakukan di dalam mobil ambulance, dengan puluhan selang yg tersambung di raga. Untuk selanjutnya mobil akan kembali ke rumah sakit. Demikian pentingnya rukun haji ini, sehingga jika tidak ada wukuf, hajinya tidak sah. Oleh sebab itu, orang akan berupaya (yang entah bagaimanapun caranya bahkan dengan hal-hal di luar nalar) agar tetap bisa masuk ke Arafah.

Sekilas terlihat simpel. Sekadar diam sebentar. Tapi, apakah kita mampu melaksanakannya?

Perangkap Kesejahteraan

Bismillah.

Mengapa sulit sekali keluar dari lingkaran kemiskinan? Ann Helen Bay menjelaskan tentang istilah "welfare trap" atau perangkap kesejahteraan dalam sebuah ilustrasi video dari TED. Negara Konoha ini punya tagline gemah ripah loh jinawi. Tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Lumbung padi Asia. Tak terhitung macam-macam spanduk bertebaran untuk memotivasi jiwa yang kosong dan depresi. Tapi kok tetep banyak yang miskin?

Benefit yang didapat oleh si miskin misalnya subsidi listrik, boleh pakai gas kemasan 3 kg, antri pertalite dapat harga ceban, makan siang gratis (kabarnya ini di beberapa sekolah sifatnya opsional, boleh untuk tidak ambil kalau merasa kaya atau alergi dengan makanan murahan), atau model bansos yang beraneka rupa. Tapi, sebetulnya ini dapat berakibat buruk jika tidak disikapi dengan benar. Contoh, ketika Ayah sebagai kepala keluarga sudah berhasil mendapatkan pekerjaan yang penghasilannya setara UMP/UMR, maka predikat "miskin" sudah tidak lagi bisa disandang. Dan akibatnya, satu per satu benefit pun harus dicabut. Inilah yang membuat keluarga pra sejahtera (wuih enak banget didengernya daripada "melarat") enggan naik kelas. Kenaikan pendapatan yang tak seberapa membuat penurunan drastis "income" dalam bentuk bantuan pada rakyat jelata itu.

Apakah memang benar bahwa fakir miskin dan anak terlantar akan dipelihara negara? Dalam artian "dipelihara", akan terus menerus dipertahankan untuk tetap miskin? Karena orang miskin ini adalah bahan bakar utama dalam acara lima tahunan. Komoditas. Sumber suara. Coba kalau kita ini jadi lebih pintar sedikit saja, tidak mengalokasikan sumber pendapatan ke pengeluaran tak perlu macam rokok hasil sogokan dan joget-joget artis di lapangan kantor kecamatan, dan lebih memprioritaskan pendidikan dan gizi anak, tentu agak sulit disogok dengan amplop isi beberapa lembar uang merah.

Pekerjaan rumah kita ternyata masih panjang.

Foto Keluarga

Bismillah.

Lebaran kali ini sedikit berbeda. Alhamdulillah seluruh saudara dari keluarga istri bisa pulang sehingga Markonah menginisiasi rencana untuk berfoto bersama di studio foto. Tapi, tentu saja, banyak orang berpikiran serupa. Mumpung pakai baju bagus dan sudah disenadakan. Dan, karena studio foto yang buka di hari pertama idul fitri bisa dihitung dengan sebelah tangan, walhasil kami harus antri lebih dari 2 jam. Itu belum termasuk memilih foto terbaik dari sekian kali pengambilan gambar.

Photo by Andrea G

Sebetulnya saya termasuk yang menolak narasi "harus punya foto keluarga". Apalagi untuk sekadar dipajang di ruang tamu yang tamunya pun jarang-jarang ada. Kalau sekadar dilihat pribadi, menurut saya foto sendiri saja jangan sampai ke studio foto. Namun ide ini tentu ditolak mentah-mentah Markonah yang sudah terlanjur termakan scam abang-abang Nikon.

Yah, tulisan ini memang sesinis tulisan tentang wisuda lalu. Haha.
About Me