Kesan Kaya

Bismillah.

Waktu saya kecil, sempat berpikir sebetulnya apa sih yang membedakan orang itu kaya atau tidak? Sehingga, pada pikiran anak kecil yang otaknya juga mungkin masih kecil, terbersit standar-standar berikut.

  • Rumahnya bertingkat.
  • Punya mobil minimal 2.
  • Kulkasnya penuh dan selalu ada belahan semangka warna merah dan buah apel.
  • Sarapannya orange juice dan roti selai stroberi.
  • Di atap rumahnya ada parabola.
  • Punya pemutar video (dulu masih dalam format VHS).
  • Kalau ke kantor pakai jas dan dasi, lengkap dengan koper merek President (atau semacamnya).
Tapi sekarang standar-standar itu terdengar makin absurd. IMO, kaya atau tidak kaya itu hanyalah mindset. Bukan soal saldo terkini, jumlah aset, atau punya bisnis yang gilang gemilang. Karena bisa juga aset habis dalam semalam, karena tidak punya mindset kaya dari awal. Atau sebaliknya pula, saldo habis tapi tidak terpuruk dan cepat bangkit.

Kalau boleh nambah satu hal kecil, menurut saya orang kaya adalah orang yang jemurannya tidak di depan rumah. Apalagi daleman istri, yang saat ada tamu datang atau mamang pengantar paket, langsung tahu ukurannya.

Salam Kaya.

Renovasi

Bismillah.

Dalam proses perbaikan rumah kecil kami, tujuan awal sebetulnya sederhana: supaya tidak kebanjiran. Cukuplah pengalaman buruk di awal tahun lalu membuat trauma saya, terlebih anak dan istri (yang waktu itu terbangun dengan posisi terendam air).

Dalam perjalanannya, tidak mudah bagi kami untuk memulai. "Meninggikan lantai" memiliki collateral damage ke hal-hal berikut ini:

  1. Kusen pintu dan jendela harus berubah. Dan ini masuk komponen termahal setelah biaya lantai dan pekerja konstruksi.
  2. Karena lantai kamar mandi meninggi, berarti harus sekalian ubah stuktur pipa air kotor.
  3. Meja dapur (dari beton) harus dibongkar dan ditata ulang
  4. Area jemuran harus berubah juga karena posisi pipa air kotor yang meninggi dan tata letak pintu belakang berubah.
Selain itu, rumah juga punya isu bertahun-tahun lainnya seperti kualitas plester dinding yang seperti tepung campur telor doang, dan juga kebocoran pipa air bersih. Dua masalah ini juga harus kami pikirkan. Sekalian.

Mengapa tidak satu-satu? Jika ditunda, biaya yang timbul di masa depan akan lebih besar, karena harus makan waktu untuk bongkar ulang. Komponen waktu ini yang sering dilupakan sebagai biaya. Jadi, selagi rumah berantakan, kita pikirkan apa yang bisa kita perbaiki dari sekarang. Ini termasuk hal-hal kecil seperti posisi keran, colokan listrik, gantungan baju, gantungan shower, lampu, dll.

Memilih Pekerja Konstruksi

Saya membaca tulisan Pangeran Sitompul soal tips memilih pekerja bangunan yang berkualitas. Karena lupa sumber aslinya, kira-kira ini yang bisa saya ingat dan bagikan:
  1. Cari rekomendasi dari orang yang rumahnya bagus-bagus. Kalau perlu, pas di jalan lihat rumah gedongan, bel aja pintunya langsung nanya (haha). Lebih mantap lagi, jika punya teman yang mandor proyek / kontraktor.
  2. Lihat kedisiplinannya. Lihat cara dia menghargai waktu. Disiplin bekerja, disiplin beristirahat.
  3. Lihat kelengkapan alat-alatnya. Punya bor, gerinda, waterpas, dan alat-alat sendiri. Jangan lupa, mereka harus bawa meteran ke mana-mana.
  4. Lihat motornya. Kalau motornya norak, dengan warna pink dan modifikasi di sana-sini, langsung blacklist.
  5. Cara bicaranya seimbang, antara memberi, menerima, dan membantah saran pemilik rumah.
  6. Perawakannya seimbang. Tidak kurus sekali atau gemuk sekali.
  7. Tanyakan pertanyaan-pertanyaan layaknya orang sedang interview kerja saat mereka datang melihat lokasi pengerjaan.
  8. Ini tips tambahan dari saya: lihat kebiasaan merokoknya. Kalau baru ngobrol bentar udah nyala sebat, menurut saya orang seperti ini gampang stress. Cut aja.
Tukang bangunan yang bagus akan selalu dicari orang. Mereka akan terus punya pekerjaan dan tidak menganggur, sehingga tidak perlu mempromosikan dirinya. Usahakan jangan cari via online (ini kesalahan kami sih). Kami menggunakan 4 orang berbeda sejak awal, dengan drama masing-masing.

Menikmati Proses

Yang bisa kami ceritakan, banyak sekali drama-drama sejak proses perbaikan di rumah, sampai menjelang berakhir. Penting untuk berdoa dan minta doa orang tua. Apalagi dengan anggaran kami yang sangat minim dan terbatas. Saya pribadi sangat menikmati semuanya. Mulai dari konflik dengan pekerja, cara komunikasi, pemilihan bahan bangunan (sempet salah-salah juga di lantai kamar mandi), sampai terpaksa harus sewa kontrakan karena kamar mandi dan kamar tidak bisa dipakai.

Oh, mungkin ini juga cara Tuhan Menyelesaikan masalah kami. Saya mendapat rekomendasi tukang bangunan yang bagus dari pemilik kontrakan. Alhamdulillah.

Banyak sekali ilmu-ilmu tukang bangunan yang saya serap selama proses pengerjaan ini (gak mau rugi, harus dapet ilmu dan pembelajaran baru). Mulai dari pemilihan bahan bangunan, sampai tips trik untuk mengatasi masalah rumah. Terdengar sepele, tapi bisa menghemat biaya jasa pekerja karena ke depannya kita bisa kerjakan sendiri.

Kesimpulan

Kami sangat bersyukur semuanya sudah selesai. Tinggal bersih-bersih dan pekerjaan kecil yang insya Allah saya bisa kerjakan sendiri, baik di akhir pekan atau pagi-pagi sebagai olahraga ringan. Inilah rumah kami. Rumah dengan beragam cerita yang tiap sudutnya ada alasan mengapa harus begini dan begitu. Saya rasa tiap orang pun sama. Ada yang jemuran bajunya di depan teras, ada yang cat temboknya warna pink. Macam-macam pastinya, sesuai kebutuhan dan selera.

Intinya punya rumah itu bukan sekadar untuk gaya-gayaan dan pamer (terlebih kalau statusnya masih ngutang), tapi apakah ada peningkatan pada kualitas hidup kita?

Terima kasih.

Pekerja Konstruksi, Kontrakan, dan Cara Berpikir Orang Kaya (Lagi)

Bismillah.

Pekerja Konstruksi

Hingga tulisan ini terbit, saya masih tinggal sendirian. Anak dan istri masih di rumah mertua, karena rumah kami sedang diperbaiki. Sepertinya sudah 3 bulan lebih keadaan seperti ini, ditambah terpapar kemarin total 3 minggu lebih, jadi tambah lama. Mungkin kami masih harus menimba ilmu tentang bagaimana menghadapi pekerja konstruksi, mulai dari mencari orang yang tepat bukan hanya sekadar skill level tapi juga attitude bin personality, manajemen waktu, serta komunikasi. Cukup trauma karena pekerja saat ini adalah orang ke-4 setelah orang-orang sebelumnya kami "cukupkan", tentu dengan drama masing-masing.

Jadi ingat cerita Papah mertua Abang yang sempat tinggal di Kanada. Beliau pasang ambalan di atas bracket TV, dan miring. Saat komplain, "tukang" Kanada-nya bilang, itu yang salah bracket TV-nya. Yang dia pasang sudah benar, bisa dibuktikan dengan waterpas. "Ya sudah, ambalannya disejajarkan saja sama TV, supaya mata saya gak sakit."

Tukangnya bersikeras tidak mau. Nanti lisensinya dia bisa dicabut, dia tidak bisa kerja lagi. Kalau mau komplain silakan sama tukang sebelumnya. GG juga nih tukang..

Di Indonesia sebenarnya ada juga sertifikasi serupa, namanya Sertifikat Elektronik Tenaga Kerja Konstruksi, dibuat di bawah Dirjen Bina Konstruksi (PUPR). Namun, yang memperoleh sertifikat hanya 7,5 persen saja. Sangat kecil dibanding jumlah pekerja yang mencapai 8,5 juta orang. Kok bisa begitu? Ndak usah dipikirin, udah ada orang yang dibayar puluhan juta sebulan untuk mikirin itu.

Kontrakan

Karena WC dan kamar belum bisa terpakai, kami akhirnya memutuskan kontrak rumah petak. Tidak besar ukurannya, tapi alhamdulillah lebih dari cukup untuk tidur, buang hajat, dan bekerja. Khusus hubungan sosial dengan tetangga sekitar, saya rasa ada banyak hal yang perlu saya "sesuaikan" dan maklumi. Soal masalah rumah tangga orang lain, tentang keadaan finansial mereka, sampai soal suara musik dangdut koplo di tengah malam.

Cara Berpikir Orang Kaya (Lagi)

Katanya kalau Bill Gates itu pulpennya jatuh ke bawah meja, dia mending ambil pulpen baru yang lain. Karena biaya untuk menunduk, meraba-raba lantai, menegakkan badannya kembali yang sudah pewe sedari awal, itu biayanya lebih besar bahkan daripada membeli pulpen yang baru.

Apakah cara berpikir kita (ya, mungkin ane doang sih) pernah seperti itu? Waktu kita ini sangat berharga. Isi kepala kita ini mahal. Ide mahal. Langkah hidup kita mahal. Relasi mahal. Kenikmatan dan ketenangan mahal. Cara orang kaya memberi valuasi pada hal-hal mahal itu, berbeda dengan orang kismin. Sehingga, orang kaya rela menukar berapapun biayanya demi waktu, namun orang miskin punya waktu tapi disia-siakan.

Cara Berpikir Orang Kaya

Bismillah.

Agak males sebetulnya nulis beginian. Takut menyinggung karena bawa-bawa urusan duit. Sensitif gitu loh, kayak test pack. Tapi yo ndak papa, hla wong menulis itu demi memuaskan hasrat dan (sedikit banyak) membuat bahagia.

Bertahun-tahun ane berpikir, kita ini tidak jadi kaya, apa karena cara pandang, pola pikir, wawasan kita, itu tidak seperti orang-orang kaya pada umumnya? Cara berpikir yang seperti apa? Apa saja. Bukan hanya tentang memaknai uang dan materi, tapi kehidupan secara umum. Jika mau disimpulkan, apa saja harus dipikirkan berkebalikan dengan cara pandang orang miskin.

Orang miskin punya duit sejuta, habis sejuta. Punya duit 100 juta, habis 100 juta. Dapet gaji 3 juta beli hape baru, dapet 5 juta kredit iPhone 12 pro max. Dapet warisan atau ganti rugi gusuran tanah langsung beli Xpander. Walau, jika boleh meminjam tulisan Seno Gumira Ajidarma, tiap malam pulang ke gang sempit yang bikin bodi mobil lecet, dan tetangganya habis maghrib ngumpul di teras pakai singlet dan sarung main karambol sambil kipas-kipas.

Orang miskin fokus pada penambahan pendapatan. Orang kaya fokus how to spend money wisely. Orang miskin pas kongkow obrolannya valuasi love bird atau cupang ratusan juta. Mengawang-awang, ghibah, nir manfaat. Kalau berangkat ke kantor ngebut salip sana-sini, takut kena potong gaji karena telat. Orang kaya santai, duitnya udah banyak, siapa yang mau mecat dia?

Orang miskin susah berpikir jernih karena perutnya kosong. Berpikir (jernih) itu perlu energi. Dan energi datangnya dari makanan. Wajar bila kita sering mendengar berita orang menjadi nekat karena sekeluarga lapar. Sangat bisa dimaklumi.

Miskin dan kaya itu menurut ane hanya sekadar mindset. Kalau kita pernah tahu seseorang yang dari dulu sampai sekarang hidupnya terus-menerus ngeblangsak di dasar jurang, perlu dipertanyakan tentang apa yang jadi isi kepalanya. Bagaimana dia memandang dunia ini? Apakah dia rajin sholat? Apa saja doanya? Bagaimana hubungannya dengan orang tua? Keluarganya? Kerabat dan sahabat-sabatnya? Seperti apa sih, circle dia? Status di sosial medianya isinya keluhan, sindiran, menyalahkan keadaan?

Perlu lebih dalam dilihat, dan tidak semata-mata hanya karena urusan saldo saja.

Udah ah, mau lanjut mancing!


Under the Radar

Bismillah.

Dalam sebuah adegan di film The Terminal, Gupta Rajan bercerita tentang kejahatan yang dilakukannya di negeri asalnya. Viktor Navorski (diperankan Tom Hanks) bertanya apa yang terjadi kalau pemerintah US menangkapnya dan mengembalikannya ke India.

As long as I keep my floor clean, keep my head down, they have no reason to deport me, they have no reason to notice a man like me.

Under the radar. Tanpa perhatian. Unnoticed. Tidak berada di bawah sorotan lampu.

Ada banyak penghuni surga yang berasal dari orang-orang yang tidak terkenal. Mereka bukan ustadz. Tidak punya amalan yang terlihat orang banyak. Tak terkenal di bumi, tapi namanya menggema di langit. Begitulah kita seharusnya. Tanpa harus haus pujian dan popularitas.

Orang yang kaya betulan tidak akan terlihat kaya. Orang beneran pintar tidak akan mengemis gelar atau pasang plang di depan rumahnya bertuliskan "orang pintar". Orang-orang yang punya kemampuan luar biasa, justru tidak butuh masuk podcast DC, bahan interview di TV, atau trending topic di Twitter. Kalau perlu jadi Manusia Kamar versi Seno Gumira.

Atas Nama Konten

Bismillah.

Vincent Van Gogh hanya berhasil menjual 1 lukisan seumur hidupnya, lebih tepatnya sepanjang 10 tahun karirnya di dunia seni. Ia meninggal di usia 37 tahun. Saudaranya, Theo, yang berusaha untuk tetap mempromosikan karya-karya Van Gogh, bahkan meninggal 6 bulan setelah itu. Usaha ini terus dilanjutkan oleh istri Theo. Lebih dari 900 lukisan Van Gogh, justru terkenal jauh hari setelah itu.

Dalam lebih dari 25 lukisannya, Van Gogh menggambar self-portrait. Modelnya adalah dirinya sendiri. Alasannya sederhana, ia tak punya cukup uang untuk membayar model, tapi ia butuh latihan untuk menggambar wajah orang.

Pada 23 Desember 1888, ia memotong telinga kirinya. Banyak pendapat berseliweran tentang motif Van Gogh ini. Tapi Museum Van Gogh memberi penjelasan, bahwa itu terkait "mental breakdowns" yang dideritanya. Van Gogh kebingungan dan kesulitan mencari inspirasi. Ia pun mengabadikan momen itu dalam sebuah lukisan seorang pria dengan perban model bandana. Di lukisan itu, yang terpotong adalah telinga kanan, karena Van Gogh melukis sambil menatap dirinya di cermin.

Haruskah kita jadi stress seperti Van Gogh?

Sekarang kita sibuk membuat konten. Tidak lucu, dipaksa lucu. Gibah, tapi banyak peminat. "Kemiskinan elu adalah bahan YouTube guwa". Nir manfaat. Drama omong kosong. Yang penting viral. Akhirnya apapun yang kita lakukan, motifnya hanya sekadar atas nama konten.

Sedekah? Demi konten. Pergi liburan, acara kawinan, lahiran anak, potong rambut? Jadi konten. Bahkan perkara sepele semisal makan aja bisa jadi konten. Ujung-ujungnya orang rela menggadai harga diri demi jadi konten. Sekali konten, tetap konten. Hidup konten!

Oh, saya paling suka alasan Van Gogh memotong telinganya versi sebuah sampul buku tulis waktu SD.

Akhirnya Van Gogh memotong telinganya sendiri karena sering lupa menaruh pensil di situ

Being a Herald Player

Bismillah.

Jika ada banyak pertanyaan sensitif yang tak boleh diajukan pada seorang perempuan, semisal berat badan atau usia, maka pada seorang lelaki cukup pantang bertanya soal rank Dota. Apalagi untuk komunitas khusus di SEA server. Servernya orang-orang dari negara dunia ketiga, yang penuh serapah via chat, tak peduli pada rekan setim ataupun lawan. Itu yang disebut Lamhot sebagai "mentalitas khas orang-orang yang selalu bawa-bawa emosi hidup pribadinya ke manapun". Haha.

Tapi seiring waktu menjadi Herald (rank terbawah) adalah sebuah kebahagiaan.

Mentalitas yang harus dibangun adalah mentalitas bertahan hidup, dibanding harus terus menerus bernafsu mencari kenaikan level dan kemenangan. Saat Anda berada di level terbobrok dalam strata halu khas manusia, Anda sudah tidak bisa turun lebih rendah dari itu. Ini seperti harga saham yang jatuh hingga ke Rp 50 selembar. Seperti menjadi orang termiskin di dunia khas Hamdan ATT, yang tidak mungkin bisa lebih miskin lagi. It just can't get any worse.

Dalam kehidupan pun sama. Tiap orang punya peran. Masih ingatkah kita dengan kutipan, "Sekolah hanya mengenang dua macam pelajar: yang terpintar dan ternakal". Ketika tidak ada ruang untuk juara pertama, masih ada peluang untuk menjadi yang paling barbar. Tidak mungkin tidak ada tempat sama sekali untuk siapapun. Selalu ada celah.

Sebagai bagian dari masyarakat yang standardnya absurd, kita tidak perlu peduli dengan omongan orang lain. Jalani role yang kita punya sekarang, tanpa perlu memandang orang di kedudukan yang "lebih tinggi". Tinggi atau rendah itu hanya perkara angka. Kata siapa, ketika orang jadi lebih kaya atau lebih terkenal, hidupnya akan lebih bahagia?

Menjadi Herald adalah sebuah pilihan, bukan karena keadaan. Hanya dengan cara demikian, kita bisa membangun cara pandang yang positif, dan tetap bisa menikmati permainan.

About Me