Pindah Jalan Nasib

Bismillah

Sudah 3 hari belajar development di Flutter. Menurut ane sih ini jauh lebih baik dibanding harus belajar dua environment berbeda (iOS dan Android). Walau ujung-ujungnya akan ke situ juga. Mudah-mudahan berkah.

Masalahnya ada beberapa. Laptop sudah jadul dan XCode terakhir versi 9. Dengan handphone yang sudah jadul juga. Storage terbatas. Intinya di tengah keterbatasan semoga nanti ada jalan. Mungkin akan berhenti pake Sublime Text 3. Memang susah kalau mau maksain. Alhamdulillah nanti (katanya) dipinjemin laptop dari pabrik. Lumayan. Jadi masalah resource, storage, dll, bakal teratasi.

Oh, sekalian ngiklan nih. Karena ane pindah role, posisi backend developer pabrik bakal kosong. Jadinya silakan ya kalau ada yang punya sodara, om, anak, tetangga, yang lagi cari kerjaan, bisa kirim CV ke prabowo.murti at gmail dot com.

Kalau mau tanya-tanya juga boleh. Ini link lengkapnya : https://gilkor.com/hiring/. Terima kasih!

Breaking Bad

Bismillah.

Pada awalnya ia hanyalah guru kimia sebuah SMA. Kehidupan yang biasa. Normal. Kebanyakan. Ia mendapat pemasukan tambahan dari menjadi pencuci mobil.

Namun seiring waktu, ia berubah.

Sebabnya, Walter White, divonis dokter mengidap kanker paru-paru. Ini bahkan terjadi tak lama setelah istrinya mengandung anaknya yang kedua. Hidupnya berganti arus. Dengan semangat agar keluarganya tak hidup menggembel setelah Walter meninggal, ia "terpaksa" menjadi distributor meth dengan dibantu oleh mantan muridnya, Jesse.

Pada awalnya apa yang menjadi cita-citanya terkesan mulia. Yakni, cari uang sebanyak mungkin, sebelum mati. Namun pada perjalanannya, ia mesti berhadapan dengan orang-orang jahat, merampok, bahkan sampai menghilangkan nyawa orang lain. Ini kan ironi? Dia mau menyelamatkan dirinya dan keluarganya, tapi dengan mengotori tangannya sendiri.

Jadi ingat tulisan tentang Slippery Slope. Bahwa pada awalnya setan itu membujuk kita dengan melakukan kesalahan-kesalahan kecil dulu. Untuk berikutnya digiring sedikit, perlahan, dan tanpa terasa, ke jurang yang lebih dalam.

Kita adalah Pemimpin. Pemimpin adalah Kita.

Bismillah

Kita kecewa karena pemimpin tak sesuai dengan harapan. Namun apakah kita pernah berpikir bahwa sebetulnya pemimpin adalah cerminan dari mayoritas kita? Tidakkah kita sadar bahwa memperbaiki pemimpin hakikatnya adalah dengan memperbaiki tiap-tiap diri kita?

Pemimpin suka berhutang.

Berapa banyak kita beli mobil tapi nyicil? Berapa banyak dari kita yang memaksakan diri untuk ambil KPR tanpa peduli bahwa cicilannya akan mencekik leher? Lihat isi dompet kita, isinya kartu kredit, eh kartu hutang. Beli hape, ngutang. Beli makan pun kadang ngutang. Yang penting gengsi nomor satu. Jadi kebiasaan pemimpin yang berhutang itu ya cerminan kebiasaan kita berhutang.

Pemimpin suka impor, dan tak peduli dengan hasil produksi sendiri. Hla ya itu kan kita banget. Kalau lihat barang luar negeri apalagi dari aseng, karena lebih murah, pasti dibeli. Terlepas dari perlu atau tidaknya. Kita tidak punya mentalitas untuk membuat sendiri, memakai sendiri, dan bangga. Begitulah kita itu.

Pemimpin tak bisa bahasa Inggris.

Memangnya kita sejago apa? Padahal kita belajar itu sudah sejak kapan? Kita menghina kemampuan bahasa Inggris orang lain, padahal kita punya keengganan untuk meningkatkan skill berbahasa. Padahal ini tak kalah penting kalau mau komunikasi dan belajar hal lainnya.

Pemimpin suka pencitraan, misalnya dengan ngevlog dan lain sejenisnya.

Coba lihat sosial media yang kita punya. Isinya ya kurang lebih saja. Beli makanan mewah sekali sebulan pun pake difoto-foto. Jalan-jalan tak seberapa jauh pun perlu orang sedunia tahu. Berasa jadi selebgram. Walau belinya pake cicilan di Traveloka, dan setelah itu bingung mau bayarnya gimana.

Pemimpin tak bisa jadi imam sholat, dan kurang fasih dalam membaca quran.

Siapakah yang kalau disuruh jadi imam sholat maghrib berjamaah perlu didorong-dorong dulu pantatnya? Siapakah yang terbata-bata dalam membaca quran? Ya kita-kita juga. Masalahnya aib kita ini belum terekspose aja.

Pemimpin suka mengurusi hal-hal kecil, dan enggan terlibat dengan hal visioner.

Coba tebak, yang sering jadi trending di YouTube, Twitter, dan lain sebagainya: orang nggak bisa ngupas salak, gosip artis, prank-prank nir faedah. Itulah kita itu, dijejali oleh konten tanpa mutu, tapi ya ikut arus aja.

Semoga kita semua bisa berkaca, dan mempersiapkan bekal untuk menjadi pemimpin. Karena kita ini minimal memimpin diri kita sendiri. Memperbaiki pemimpin, dimulai dari memperbaiki diri kita sendiri.

Pendekatan Bisnis dalam Dakwah

Bismillah

Kita perlu menyadari bahwa keberhasilan dakwah Rasul tak lepas dari karakteristik beliau yang seorang pebisnis ulung. Bayangkan beliau ini anak yatim, tak kenal ayah sejak lahir. Sebetulnya kalau dipikir ya tak punya role model. Tapi karena asuhan kakek serta paman, beliau tumbuh menjadi pribadi hebat. Menjadi "professional" dengan menjadi penggembala kambing orang. Artinya sudah belajar menjadi karyawan sebelum terjun menjadi pengusaha sukses, dengan mengikuti paman beliau ke luar negeri.

Ketika menikah, asetnya sudah milyaran. Bandingkan dengan kita-kita ini yang dulu saat bujang bukannya menumpuk aset tapi sibuk dengan gaya hidup konsumtif. Gonta-ganti handphone, nongkrong di warung kopi negara lain (yang ironisnya tak punya lahan untuk perkebunan kopi), dan banyak sekali keputusan finansial yang salah. Sedemikian, sehingga saat menikah, bukannya memulai kehidupan dengan modal yang banyak, tapi tertimbun hutang demi hutang sehingga sampai usia pernikahan dua digit pun tak kunjung punya rumah sendiri.

Menggunakan pendekatan "bisnis" dalam memperkenalkan islam, adalah salah satu karakter Rasulullah yang perlu kita pelajari. Beliau tidak frontal bin memaksa. Karena sejatinya hidayah itu adalah hak prerogatif Allah, sedemikian sehingga paman yang merawat Rasulullah sejak kecil pun tak kunjung tersentuh hatinya untuk mengucap dua kalimat syahadat, walaupun Abu Thalib selalu menjadi tameng dari gempuran intimidasi kaum Quraisy.

Jalan ini penuh liku. Penuh onak. Penuh dengan rasa sabar dan tertatih-tatih. Perlu bertahun-tahun. Mungkin bukan hanya puluhan atau ratusan tahun, tapi berlapis-lapis generasi. Perseverantia.

Saldo Masjid

Bismillah

Mari mengkritisi saldo masjid yang hingga ratusan juta. Ini merupakan isu sensitif karena kalau terkait agama nanti kita disangka anti islam dan sejenisnya. Padahal ada banyak masalah dalam manajemen rumah ibadah kita ini, sebagaimana ada (lebih) banyak masalah di rumah ibadah agama lain. Dan terlebih, role pengurus masjid itu adalah sebuah jabatan publik yang memang fungsinya melayani, sehingga kalau fungsinya tak tercapai, selayaknya dilayangkan protes nan santun.

Menurut ane pribadi, kita jangan lagi menyumbang di masjid yang saldonya hingga ratusan juta. Terkadang saldo masjid itu sangat-sangat berlebih dan menumpuk, sehingga bisa cukup untuk bikin masjid satu lagi. Pertanyaan pertama, tentu "mengapa harus ditumpuk dan tidak disalurkan?" Bukankah kebutuhan ummat ini sangat-sangat banyak? Ada yang putus sekolah. Ada yang kekurangan makan. Belum lagi soal bencana, ketersediaan air bersih, wabah penyakit, kesulitan ekonomi, dan lain sebagainya.

Masalah ummat ini sangat kompleks sedemikian sehingga negara saja yang punya sumber daya jauh lebih banyak, tak jarang gagal menangani. Harta yang baik seperti air yang mengalir. Dia akan terus bergerak tanpa berlama-lama berada di penampungan yang melulu itu. Saran saya, sudahlah jangan lagi nyumbang di kotak amal masjid yang saldonya sudah kelewat banyak. Masjid mau ditambah lantainya? Mau bikin hotel? Ini masjid apa institusi bisnis? Padahal saudara-saudara kita di wilayah konflik jauh lebih berkesusahan, hla ente kok komersil amat?

Tidak ada kewajiban masjid untuk mengumpulkan dana ummat sebanyak-banyaknya. Kalau memang ada kebutuhan terkait perencanaan besar, umumkan dan pisahkan dananya sehingga bisa bertahap pelaporannya. Jamaah kita ini nyumbang biar pahalanya cepet dapet. Jamaah udah beruban dan bau tanah, nyumbang demi mengharap kebaikan dari amal jariyah. Eh, keburu mati duluan, duitnya masih di situ-situ aje...

Masjid yang ane tahu mengusahakan agar saldonya selalu nol salah satunya adalah masjid Jogokariyan di Yogyakarta. Kalau ada duit selalu diputar dan dikembalikan ke masyarakat. Bukan hanya yang muslim tapi juga yang bukan islam. Semoga Allah Mudahkan kita untuk bisa mengikutinya. Aamiin.

Waktu Bersama Keluarga

Bismillah

Waktu bersama anak (dan istri) yang semakin berkurang, itu terasa dan ditandai dengan tiba-tiba anak sudah memiliki skill tambahan yang, walaupun tak begitu berfaedah bin sepele, kita nggak ngerti progress-nya. Tiba-tiba saja begitulah. Misal, anak sudah bisa naik sepeda, sudah bisa baca quran, sudah bisa nyanyi lancar, atau apapun itulah. Eh, anak bisa naik sepeda, emang siapa yang ngajarin? Masak tetangga?

Demikian pula istri. Tiba-tiba tanpa terasa kok saldo istri lebih banyak dari kita, emang siapa yang transfer? Jangan bilang tetangga lagi.. Oh, ternyata bisnis online istri lumayan, jadinya duitnya muter lebih kenceng dari gaji kita yang kerasanya sebentar, macam kentut lewat. Kan miris rasanya, harusnya kepala keluarga sebagai pencari nafkah punya duit yang lebih banyak. Judulnya saja "pencari nafkah"?

Untuk mengakali kebersamaan yang pudar, biasanya pakai trik klasik: mengikutsertakan anak dan istri di aktivitas kita. Cuci motor, anak disuruh pegang lap dan sabun. Beres-beres rumah, anak disuruh bantuin beresin mainannya. Ke masjid, anak diajak. Ya walau akhirnya anak jadi sakit karena mungkin berinteraksi dengan orang-orang yang kemungkinan sedang sakit juga.

Alhamdulillah istri bukan pekerja kantoran. Kami memang sepakat (lebih tepatnya, ane memaksakan) agar istri di rumah saja. Kalaupun "bekerja", jangan sampai menghabiskan waktu terlalu banyak yang efeknya anak jadi terlantar. Ada keluarga, istrinya kerja sehingga sang ayah harus bayar pengasuh anak. Gaji istri sejuta, bayar pengasuh 1.5 juta. Jadi tiap bulan tekor gopekceng, dong?

Semoga ane kuat cari duit sendiri, supaya istri fokus di rumah saja.

Tentang Blog Ini

Bismillah

Blog jadi sarana saya untuk belajar menulis. Mengembangkan kerangka berpikir. Berusaha untuk mempersuasi. Kadang jualan. Seringnya sekadar curhat. Tapi makin ke sini mungkin blog ini lebih kepada hal-hal yang tidak penting, setidaknya ini menurut saya sendiri.

Kalau lihat blog-blog orang lain, sepertinya masing-masing memiliki kekhasan dan tujuan sendiri-sendiri. Ada yang memang untuk cari uang dari iklan. Ada yang ikhlas berbagi. Ada yang jarang update. Meluapkan kegelisahan. Menceritakan pengalaman unik dan lucu. Berbagi kisah pribadi. Macam-macam pokoknya.

Untuk blog ini (khusus untuk blog ini ya), saya tidak berharap traffic. Menulis ala kadarnya saja. Seperti bicara. Apa yang mau disampaikan itulah yang diketik. Jarang diedit sebelum menekan tombol "publish". Serampangan memang, tapi itu realitanya.

Kadang apa yang jadi pikiran, itu terlalu banyak. Sejatinya memang tidak butuh untuk ditulis. Tapi biasanya setelah ditulis, ada perasaan satisfying dan calmness. Semacam plong. Berasa ada achievement. Walaupun sederhana. Contoh soal pembakaran (bukan kebakaran) hutan dan lahan. Walaupun tak bakalan digubris.

Contoh lain, soal pengalaman yang mirip. Mirip itu bukan benar-benar sama. Tempatnya mungkin sama, tapi waktunya beda. Pelakunya beda. Sudut pandang beda. Beli barang harganya sama, kepuasannya berbeda. Caranya sama, tapi mungkin urutan dan alatnya lain. Begitulah. Selalu ada hal-hal yang bisa dikupas dari sebuah tulisan.

Sampai kapan harus menulis? Ane rasa ya sampai tidak ada lagi hal yang harus ditulis. Ya sampai mati. Walau tak lagi lancar mengetik, sekadarang speech to text sudah keren. Tinggal ngomong nanti diterjemahkan oleh gawai atau komputer dalam bentuk artikel. Atau lebih canggih lagi, apa yang dipikirkan, itulah yang dicatat.


About Me