Komparasi Nikmat

Bismillah.

Ada dua fakta yang tidak terbantahkan. 

  1. Tuhan itu Maha Adil.
  2. Kalau melihat ketidakadilan, lihat lagi fakta nomor 1.
Ada pasangan yang tidak dikaruniai keturunan oleh Allah, lalu berikhtiar dengan program bayi tabung yang biayanya 2 milyar. Tentu, kalau anak kita "dibeli" orang dengan harga Rp 2 M, belum tentu mau. Jadi kalau kita boleh memberi "valuasi" pada segenap nikmat yang diberikan Tuhan pada kita, sebenarnya tiap orang akan mendapatkan jatah yang kurang lebih sama.

Ada yang duitnya banyak, tapi keluarganya ribut.

Ada yang cantik, tapi di dalam hatinya hampa.

Ada yang populer, tapi kesepian.

Ada yang bisa beli restoran, tapi susah mau makan enak karena kolesterol.

Ada yang bisa pesan hotel mewah, tapi mau tidur susah.

Daftar di atas akan terus bertambah.

Jika kita membandingkan berbagai macam nikmat yang diberikan oleh Allah sama kita, dengan "nikmat" yang kita lihat pada orang lain, tentu sulit menentukan valuasinya.

Nikmat atau tidak nikmat, semuanya ditentukan dari seberapa besar rasa lapang di dalam dada kita untuk bersyukur. Untuk tetap tersenyum di pagi hari. Untuk selalu mengucap alhamdulillah apapun kondisinya.


Biaya Nikah - Bagian 2

Bismillah.

Sering kali, karena pemikiran kita terlalu anti-mainstream, melawan arus, dan tidak sejalan dengan opini publik kebanyakan, perlu waktu lebih dari satu generasi untuk sekadar timbul. Ini tentu hal yang wajar.

Banyak sekali pencapaian orang-orang besar bagi dunia ini, dimulai dari pertentangan luar biasa. Mulai dari keluarga, teman, saudara, tetangga, bahkan seantero negeri. Semuanya menolak. Tidak sepakat. Misalnya, Galileo yang katanya dihukum gantung karena percaya paham heliosentris. Paham tersebut bertentangan dengan paham gereja Katolik yang geosentris.

Terlepas dari benar tidaknya sebuah pandangan, memang agak sulit kalau sudah terlanjur beredar pandangan lain yang berlawanan, yang mendarah daging sejak lama sebelumnya. Contohnya ya soal resepsi nikahan.

Kalau sekarang ini pandangan kita tentang resepsi yang sederhana nan bersahaja itu masih sulit diterima (baik keluarga ataupun masyarakat), tidak apa-apa. Mungkin di era anak kita nanti, sudah tak zaman lagi resepsi dengan boros. Kalaupun bukan di era anak kita, di era cucu kita. Terus begitu, mungkin hingga ratusan tahun lagi.

Biaya nikah itu harusnya nggak mahal. Yang mahal gengsinya. Takut diomonginnya. Nafsu untuk dipuji. Itu semua mahal.

Kita pro dengan resepsi sederhana, eh calonnya nggak. Kedua calon mempelai sudah oke, eh keluarganya enggak. Selalu ada hal yang susah buat dikemukakan. Tapi jangan menyerah, karena kombinasi kedua calon mempelai, dan keluarga yang pro dengan resepsi sederhana, insya Allah akan ada.

Mereka lalu punya anak, yang diberi pemahaman tentang berhemat dalam merayakan pesta sedari kecil. Lalu anak ini pun ketemu dengan anak lain yang keluarganya juga pro pendapat itu. Mereka punya anak lagi, dan terus seperti itu. Sehingga lama kelamaan orang akan sadar, bahwa pandangan ini bukan pandangan yang keliru.


2021

Bismillah.

Tahun 2020 adalah tahun campur aduk. Masih terpatri di ingatan, air bah yang masuk ke dalam rumah di dini hari awal tahun. Alhamdulillah.

Pandemi memukul setiap keluarga dengan berbagai terpaan. Termasuk keluarga kami. Rencana tahun kemarin banyak yang tidak berhasil sesuai harapan.

Tuhan Maha Tahu keadaan terbaik untuk setiap hambaNya. Selalu bersyukur dan berjuang. Semoga di 2021, keadaan kita semua semakin membaik. Aamiin.

Parameter Kesombongan

Bismillah.

Di masyarakat plus enam dua, mungkin kita sering lihat stigma sosial yang jauh lebih berbahaya daripada kena penyakit kritis. Sebutannya apa ya yang pas? "Penyakit sosial", mungkin. Dikata-katain, diobrolin di belakang, dan mungkin beberapa pendapat tak menyenangkan yang semisalnya.

"Suaminya di rumah terus, mungkin piara tuyul, atau kalau malem jagain lilin"
"Udah berapa hari ini gak pernah kelihatan, kayaknya sih kena Covid"
"Entah apa aliran islamnya tuh, diajakin tahlilan kagak dateng. Teroris kali?"
"Tuh lihat, keluarga ituh kemarin diajakin ngumpul nggak mau. Sombong amat"

Parameter-parameter kesombongan yang dibuat oleh para tetangga ini, seyogyanya kita sebut sebagai penyakit sosial. Tidak ada yang salah dengan kumpul-kumpulnya. Yang menurut ane keliru, materi obrolannya itu lebih sering tidak berkualitas.

Mungkin ini juga terkait status sosial dan lingkungan. Kalau di sekitar kita lebih banyak (mohon maaf) uneducated-nya, harus siap dengan drama emak-emak atau obrolan bapak-bapak yang tak jauh dari hoax seputar cara menaikkan valuasi burung.

Alangkah patut diberi rasa iba, ketika orang beramai-ramai pansos hanya dengan standar kehidupan yang dibuat orang lain.

Lima Tahun

Bismillah.

Sudah 5 tahun Bob dan Markonah menjalani kehidupan bersama. Ada suka, ada duka, ada Azarine. Sangat bersyukur kami bisa melalui segala rintangan maupun rantangan. Terbukti dengan perut Bob yang bertambah maju dan besar.

Semoga di perjalanan pernikahan kami ini selalu dalam lindungan dan kasih Allah. Sebagai pembawa bahtera dan pengatur arah layar, saya berkewajiban untuk menjauhkan keluarga ini dari panasnya api neraka, seperti yang disebut dalam Quran surat At-Tahrim ayat 6.

Aamiin ya Rabb.


Biaya Nikah - Bagian 1

Bismillah.

Sebagai calon pemutus mata rantai, generasi kita ini tuntutannya memang berat. Apaan tuh maksudnya?

Misal, di keluarga belum ada yang jadi pengusaha, kita jadi pemutus mata rantainya. Memutuskan pemikiran bahwa hidup haruslah dengan cara bekerja dengan orang lain. Alih-alih mencari lapangan kerja, mindset harus berubah menjadi pemberi lapangan kerja.

Misal lagi, sejauh ini orang berpikir bahwa pendidikan haruslah dari sekolah formal, hal itu harus kita "putus" juga. Karena dunia ini cepat sekali berubah. Banyak ketidaksesuaian antara apa yang diajarkan di institusi pendidikan (di Indonesia) dengan apa yang dibutuhkan industri.

Hal-hal seperti itulah. Begitu kira-kira maksud dari "pemutus mata rantai". Minimal definisi versi ane sendiri.

Salah satu mata rantai yang harus diputus adalah pemikiran bahwa resepsi pernikahan itu lebih penting dan esensial dari pernikahannya.

Maksudnya gimana tuh?

Mungkin inilah sulitnya bikin penjelasan lewat tulisan. Antara otak dan jemari, masih lebih kenceng otak. Jadi maksud otak sulit sampai kalau lewat ketikan. Apalagi kalau ngetik pake 11 jari alias dua jari telunjuk saja.

Maksudnya begini.

Bukan berarti resepsi pernikahan itu tidak penting. Tapi (lagi-lagi menurut ane) resepsi jangan sampai mengorbankan dua hal: kesakralan akad nikah dan proses kemandirian finansial sebuah keluarga (kecil) yang isinya masih dua orang (suami dan istri).

Kesakralan akad nikah misalnya terkait mahar atau mas kawin. Mahar itu kan, penghargaan kepada calon mempelai wanita. Lucu juga kalau resepsi di gedong tapi mahar seadanya. Ngasih makan dan hiburan ke orang (yang mayoritasnya tidak kita kenal) lebih penting daripada pemberian ke istri (yang bakal hidup bareng kita sampai tua)?

Untuk proses kemandirian finansial keluarga kecil, juga tak kalah penting. Keluarga baru, butuh tempat tinggal. Butuh modal untuk usaha. Butuh satu set peralatan masak. Dan akumulasi kebutuhan di awal kehidupan indehoy ini jangan dikira kecil.

Oke. Mengapa proses resepsi di negara plus enam dua masih terkesan jor-joran? Bahkan di beberapa kasus, sampai harus meminjam ratusan juta ke bank dan dicicil sampai berbulan-bulan berikutnya.

Mungkin terkait stigma sosial.

Takut dikata-katain kalau cuma pake organ tunggal. Malu kalau katering seadanya. Takut jadi bahan omongan tetangga. Dan rasa malu yang seperti ini malu yang bikin kita nggak bisa berkembang jadi negara maju. Cara kita berpikir harus berubah. Nikah itu gak mahal. Yang mahal gengsi elu-elu pada.

Ingat, orang jadi miskin itu kebanyakan karena akumulasi keputusan finansial yang keliru. Kita bahas di tulisan berikutnya (itupun kalau nggak males nulis).

Utilisasi Aset

Bismillah.

Menurut saya utilisasi aset adalah perbandingan atau ukuran kebermanfaatan dibagi dengan potensinya. Contoh yang mudah bin dekat saja: masjid. Amat sangat disayangkan kalau utilisasi masjid itu sangat rendah. Dipakai hanya 5 kali sehari, masing-masing kira-kira 30 menit. Walau sholat Jumat kita hitung sebagai 2 jam, maka angkanya tak bisa lewat ~15%.

Untuk menaikkan angka utilisasi ini, dibuatlah program-program lain semacam TPA, pengajian Emak-emak, peringatan maulid, kajian, dan sebagainya. Tetap saja, untuk ukuran aset sebesar ratusan juta atau bahkan milyaran rupiah sekelas masjid, ini seperti punya villa besar di Puncak, tapi dikunjungi hanya sekali setahun saat musim liburan.

Kalau kita punya aset lain, semisal tanah, rumah, mobil, atau bahkan saldo tabungan, kemungkinan angka utilisasinya juga perlu kita tingkatkan. Bukan hanya bermanfaat buat kita sendiri, tapi juga orang lain.

Rumah misalnya. Kalau dibiarkan kosong terlalu lama, malah menjadi beban atau biaya. Benerin genteng yang bocor. Lantai yang berkerak. Kamar mandi yang penuh serangga. Dan seterusnya. Aset lain semisal mobil mewah juga mirip. Kalau pajaknya mahal, tapi kadar kebermanfaatannya rendah, mungkin perlu dipikirkan ulang untuk dijual saja, atau disewakan (sehingga menjadi aset yang mendatangkan pendapatan).




About Me