Ritualisme Ibadah

Bismillah.

Di era di mana pekerjaan yang redundan, kasar, dan sederhana digantikan oleh kecerdasan buatan, manusia mulai kehilangan rasa kemanusiaannya. Nir empati. Tanpa emosi. Hal ini meluas pula ke hal lain yang juga berulang. Contoh sederhanya: ibadah.

Ibadah tak lagi punya makna. Hanya sekadar penuntas dan penggugur kewajiban. Setelah selesai, tak ada peresapan. Semua adalah seremoni. Hip-hip hura-hura. Heboh sana-sini. Kita bisa lihat di agenda semisal Ramadhan, idul fitri / adha, umroh, maupun haji. Semuanya sekarang jadi ritual musiman yang menggembung dan meriah di sosial media. Di bulan puasa, orang tak lagi berpikir untuk memaksimalkan kualitas ibadah. Malah fokus berburu makanan berbuka, menghias ruang tamu yang lama berdebu, berkompetisi meraih baju paling gemerlap dengan harga semiring mungkin. Semuanya mencoba untuk kelihatan sebagai "si Paling Ramadhan".

Kalangan kelas atas tak kalah pongah. Agama di tangan para sosialita tak lebih dari sekadar aksesori desainer. Dipakai untuk mempercantik citra, bukan untuk menyucikan jiwa. Mereka membayar umroh puluhan bahkan ratusan juta, sedangkan asisten rumah tangganya mendapat bonus tahunan yang tak seberapa. Kaum borjuis dengan ringannya membiayai agenda buka puasa bersama di hotel bintang tujuh kepala jenglot. Lengkap dengan outfit muslimah premium dan dekorasi estetis. Mereka lupa, ada jiwa yang perlu makan, dengan kebutuhan yang semakin banyak dan 19 juta janji lapangan pekerjaan yang tak kunjung kelihatan.

Mungkin kita harus kembali berpikir. Apakah ibadah pun bisa dikomodifikasi?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

speak now or forever hold your peace

About Me