Menangis

Bismillah

Telah lama blog ini tak ada pembaharuan. Jika dilihat polanya, kita akan cenderung lebih mudah menulis pada saat perasaan sendu. Ada yang dipikirkan. Sesuatu mengganjal di hati. Ide bermunculan tetiba. Sebuah tulisan baru lahir bukan karena "terjadwal", layaknya penulis kolom mingguan di surat kabar, tapi lebih karena ada sekilas sinar terang dari langit. Dari situlah jejari mulai menari di atas papan ketik.

Kami tinggal di rumah yang relatif tak luas. Ruang tamunya multifungsi bin serbaguna. Saat ada yang datang, tikar digelar. Saat malam, jadi garasi motor. Waktunya makan, kumpulnya ya di situ juga. Memang sih, agak susah kalau pas ada tamu, malam hari, dan waktunya makan. Namun di tengah "keterbatasan" seperti ini pun, tak ada rasa sedih yang membuat kami menangis. Rasa sedih tidak datang dari hal-hal sedemikian. Kenestapaan itu bukan ada karena hidup susah. No, no talk about hidup susah. We have been through the worst, this is nothing.

Kata lain, tak semudah itu kami mengeluarkan air mata.

Dulu waktu kuliah di kampus kami sering ada semacam training motivasi. Sebagai mahasiswa kelas gembel ya ikut saja toh gratis. Ada sesi di mana trainer-nya bercerita tentang keadaan orang tua kita. Menangislah seisi ruangan. Tapi ogut biasa-biasa saja tuh? Sebetulnya sempat bertanya, apakah ini tanda-tanda hati yang sudah keras?

Persoalan di atas baru-baru ini terjawab. Saat kurang tidur, biasanya 3-4 jam saja, jadi lebih mudah menangis.

Aha! Eureka! Bingo!

Jadi, benarlah apa yang dikatakan oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyah, tentang hal-hal yang merusak hati.

  • Banyak bergaul, kumpul, nongkrong, dengan manusia
  • Berpanjang angan-angan
  • Tergantung kepada selain Allah
  • Banyak makan
  • Banyak tidur (!)
Selain itu Allah telah memberikan petunjukNya dalam As-Sajdah ayat 15-16.
”Sesungguhnya, orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat kami adalah mereka yang apabila diperingatkan (ayat-ayat itu) mereka menyungkur sujud seraya bertasbih dan memuji Rabb-nya dan mereka tidak menyombongkan diri. Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya. Mereka selalu berdoa kepada Rabb-nya dengan penuh rasa takut dan penuh harap serta menginfakkan rezeki yang Kami berikan kepada mereka"
Semoga Allah Lembutkan hati kita, sehingga pipi ini bisa basah, mengenang dosa-dosa terdahulu.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

speak now or forever hold your peace

About Me