Escaping Reality

Bismillah.

Dari Komik Peradaban (entah jilid ke berapa), diceritakan tentang salah satu penggunaan opium ketika  barang tersebut belum ramai diperdagangkan. Dengan "pembiusan" kepada seseorang, dia lalu dibawa (masih secara tidak sadar) ke sebuah tempat yang jauh di belakang gunung. Tempat ini sedemikian indah. Ada tamannya, ada air mengalir yang jernih, pepohonan dan bunga. Lengkap dengan beberapa wanita cantik. Lalu, saat terbangun, dikatakan pada orang tersebut, "Inilah surga". Dengan demikian, anggota sekte pun bertambah dengan mudah.

Mirip dengan di film Inception ketika orang datang untuk "dibangunkan", bukan untuk tidur. Justru mereka ingin ditidurkan, untuk kemudian bangun di alam yang berbeda. Di dunia yang nyaris sempurna. Buatan. Artifisial. Mereka datang untuk lari dari kenyataan. Escaping reality.

Orang-orang yang tidak menjadikan Tuhan sebagai pelarian, mencari "Tuhan" versi mereka sendiri. Dari narkoba, rokok, minuman keras, dugem (dunia gemerlap apa dunia gembel?), foya-foya, dan hal-hal duniawi lainnya. Mereka menganggap itulah tempat pelarian. Pelepas jenuh. Penghilang lara. Penunda lapar, kayak oki jeli dring. Walau mereka sendiri pun tahu itu tidak asli, tidak permanen. Tidak benar. Tempat pelarian itu salah. Tapi, mau bagaimana lagi. Perspektif orang yang kebingungan karena masalah yang tak kunjung selesai, tentu berbeda dengan orang yang bisa berpikir jernih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

speak now or forever hold your peace

About Me