Enam Belas Tahun Lalu

Bismillah.

Alhamdulillah mudik lebaran kali ini sedikit lebih awal. Karena kebutuhan yang dikatakan mendesak, saya membeli peripheral komputer di kota. Cukup jauh dari rumah orang tua kami. Teringat sebuah toko komputer yang saya kunjungi di 2009. Tempatnya kecil. Sangat tidak terkenal saat itu. Tapi karena rekomendasi dari seorang sahabat, saya datangi juga. Kita sebut saja nama pemiliknya Bang Tono.

A photo by Zhouxing Lu

Walau terlihat tidak meyakinkan dari luar, tapi pelayanan dari Bang Tono sangat baik. Ketika itu, saya membayangkan apakah suatu saat saya akan memiliki usaha sendiri dengan penampilan seperti kokoh-kokoh. Kalung dari rantai emas. Kursi direktur yang besar dan empuk. Lengkap dengan tato yang terlihat jelas di lengan yang besar karena hanya pakai kaus singlet. Lengkap dengan kipas angin tanpa cangkang yang berputar ala kadarnya. Sesekali kepulan asap rokok mengurai, membuat pekat ruangan yang sudah sempit sedari awal.

Terbukti, kisaran 2011, beliau ini pindah ke sebuah ruko yang besar. Jauh lebih baik. Masih di kawasan elit yang sama. Kerja keras yang berbuah manis, jika melihat bagaimana sebelumnya tokonya bisa dibilang lebih mirip warung kopi tanpa pengunjung dengan gantungan kacang koreng plastikan yang sudah berdebu.

Kisaran 300 meter menuju rumah, karena hujan, motor saya tepikan di sebuah ruko yang tertutup. Terlihat sepi dan tak berpenghuni. Tak lama kemudian, seorang anak perempuan keluar dan menuju mobil (jemputan). Oh, sepertinya ruko ini difungsikan sebagai rumah. Langit masih meneteskan air walau tak lebat. Tak lama, hujan berhenti. Dua buah motor mendekat dan bersiap masuk ke ruko ini. Hlo, ternyata Bang Tono dan istrinya. Berarti ini rumahnya, karena dia bilang kalau Minggu tokonya tutup jam 3.

"Belum pulang?" tanya Bang Tono sambil tersenyum.
"Menunggu hujan, Bang," jawab saya. "Ini rumah Abang, kah?"
"Iya. You tinggal mana?"
Saya menjawab nama kabupaten tempat orang tua tinggal.
"Hah, tunggu jak, mana tau di sana lebih deras," sarannya sambil masuk ke dalam rumah.

Enam belas tahun lalu. Siapa sangka nasib orang akan berubah sedemikian. Kini punya 2 ruko, di daerah yang menurut saya prestisius sebagai tempat usaha. Kita memang tidak bisa melihat masa depan orang dari keadaan saat ini. Semua serba ajaib, rahasia, takdir dari Tuhan. Tidak perlu berputus asa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

speak now or forever hold your peace

About Me