As-Is

Bismillah

Kalau sekadar untuk cuci mata, biasanya kami ke IKEA. Bukan buat belanja. Hanya sekadar untuk dapat inspirasi desain produk, sekaligus numpang duduk-duduk di sofa (di rumah tidak ada sofa). Tak lupa, beli the most and only affordable thing: es krim 4 rebu.

Baru tahu, ada seksi tersendiri untuk barang-barang yang dijual apa adanya. Biasanya karena bekas display, atau ada bagian yang rusak. Tentu dengan harga yang lumayan jauh lebih murah. Namanya As-Is.



Saya pikir mungkin lebih baik kita itu hidup seperti itu. As-Is.

Tak perlu ada yang ditutupi. Item As-Is ditempatkan di bagian pojok, tanpa lampu LED bling-bling, dan tampil tanpa polesan berarti. Tidak perlu tampil mencolok dan penuh dengan segudang keberpuraan, karena toh orang bakalan tahu bahwa item-item ini ada kekurangannya.

Kita ini seringnya banyak gaya. Belagu. Penghasilan kelas warteg, tapi makan seminggu sekali di Sushi Tei. Rumah kecil ngontrak masuk gang sempit, nyicil Expander. Instagram isinya pamer hal duniawi.

Mungkin sudah saatnya kita berhenti hidup dengan topeng yang kemahalan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

speak now or forever hold your peace

About Me