Pendekatan Bisnis dalam Dakwah

Bismillah

Kita perlu menyadari bahwa keberhasilan dakwah Rasul tak lepas dari karakteristik beliau yang seorang pebisnis ulung. Bayangkan beliau ini anak yatim, tak kenal ayah sejak lahir. Sebetulnya kalau dipikir ya tak punya role model. Tapi karena asuhan kakek serta paman, beliau tumbuh menjadi pribadi hebat. Menjadi "professional" dengan menjadi penggembala kambing orang. Artinya sudah belajar menjadi karyawan sebelum terjun menjadi pengusaha sukses, dengan mengikuti paman beliau ke luar negeri.

Ketika menikah, asetnya sudah milyaran. Bandingkan dengan kita-kita ini yang dulu saat bujang bukannya menumpuk aset tapi sibuk dengan gaya hidup konsumtif. Gonta-ganti handphone, nongkrong di warung kopi negara lain (yang ironisnya tak punya lahan untuk perkebunan kopi), dan banyak sekali keputusan finansial yang salah. Sedemikian, sehingga saat menikah, bukannya memulai kehidupan dengan modal yang banyak, tapi tertimbun hutang demi hutang sehingga sampai usia pernikahan dua digit pun tak kunjung punya rumah sendiri.

Menggunakan pendekatan "bisnis" dalam memperkenalkan islam, adalah salah satu karakter Rasulullah yang perlu kita pelajari. Beliau tidak frontal bin memaksa. Karena sejatinya hidayah itu adalah hak prerogatif Allah, sedemikian sehingga paman yang merawat Rasulullah sejak kecil pun tak kunjung tersentuh hatinya untuk mengucap dua kalimat syahadat, walaupun Abu Thalib selalu menjadi tameng dari gempuran intimidasi kaum Quraisy.

Jalan ini penuh liku. Penuh onak. Penuh dengan rasa sabar dan tertatih-tatih. Perlu bertahun-tahun. Mungkin bukan hanya puluhan atau ratusan tahun, tapi berlapis-lapis generasi. Perseverantia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

speak now or forever hold your peace

About Me