Pekerja Konstruksi, Kontrakan, dan Cara Berpikir Orang Kaya (Lagi)

Bismillah.

Pekerja Konstruksi

Hingga tulisan ini terbit, saya masih tinggal sendirian. Anak dan istri masih di rumah mertua, karena rumah kami sedang diperbaiki. Sepertinya sudah 3 bulan lebih keadaan seperti ini, ditambah terpapar kemarin total 3 minggu lebih, jadi tambah lama. Mungkin kami masih harus menimba ilmu tentang bagaimana menghadapi pekerja konstruksi, mulai dari mencari orang yang tepat bukan hanya sekadar skill level tapi juga attitude bin personality, manajemen waktu, serta komunikasi. Cukup trauma karena pekerja saat ini adalah orang ke-4 setelah orang-orang sebelumnya kami "cukupkan", tentu dengan drama masing-masing.

Jadi ingat cerita Papah mertua Abang yang sempat tinggal di Kanada. Beliau pasang ambalan di atas bracket TV, dan miring. Saat komplain, "tukang" Kanada-nya bilang, itu yang salah bracket TV-nya. Yang dia pasang sudah benar, bisa dibuktikan dengan waterpas. "Ya sudah, ambalannya disejajarkan saja sama TV, supaya mata saya gak sakit."

Tukangnya bersikeras tidak mau. Nanti lisensinya dia bisa dicabut, dia tidak bisa kerja lagi. Kalau mau komplain silakan sama tukang sebelumnya. GG juga nih tukang..

Di Indonesia sebenarnya ada juga sertifikasi serupa, namanya Sertifikat Elektronik Tenaga Kerja Konstruksi, dibuat di bawah Dirjen Bina Konstruksi (PUPR). Namun, yang memperoleh sertifikat hanya 7,5 persen saja. Sangat kecil dibanding jumlah pekerja yang mencapai 8,5 juta orang. Kok bisa begitu? Ndak usah dipikirin, udah ada orang yang dibayar puluhan juta sebulan untuk mikirin itu.

Kontrakan

Karena WC dan kamar belum bisa terpakai, kami akhirnya memutuskan kontrak rumah petak. Tidak besar ukurannya, tapi alhamdulillah lebih dari cukup untuk tidur, buang hajat, dan bekerja. Khusus hubungan sosial dengan tetangga sekitar, saya rasa ada banyak hal yang perlu saya "sesuaikan" dan maklumi. Soal masalah rumah tangga orang lain, tentang keadaan finansial mereka, sampai soal suara musik dangdut koplo di tengah malam.

Cara Berpikir Orang Kaya (Lagi)

Katanya kalau Bill Gates itu pulpennya jatuh ke bawah meja, dia mending ambil pulpen baru yang lain. Karena biaya untuk menunduk, meraba-raba lantai, menegakkan badannya kembali yang sudah pewe sedari awal, itu biayanya lebih besar bahkan daripada membeli pulpen yang baru.

Apakah cara berpikir kita (ya, mungkin ane doang sih) pernah seperti itu? Waktu kita ini sangat berharga. Isi kepala kita ini mahal. Ide mahal. Langkah hidup kita mahal. Relasi mahal. Kenikmatan dan ketenangan mahal. Cara orang kaya memberi valuasi pada hal-hal mahal itu, berbeda dengan orang kismin. Sehingga, orang kaya rela menukar berapapun biayanya demi waktu, namun orang miskin punya waktu tapi disia-siakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

speak now or forever hold your peace

About Me