Mobil

Bismillah

Pertimbangan utama untuk punya kendaraan sendiri sebetulnya karena takut menzolimi anak dan keluarga. Ya kali, naik motor tumpuk tiga, belum lagi tambah tas isi popok dan belanjaan Tanah Abang?

Tapi kami juga tidak akan beli mobil, karena beberapa pertimbangan berikut :
  • Tidak ada uang. Kami bukan keluarga Indonesia medioker yang memaksakan diri mencicil mobil sekadar supaya bisa ditempeli stiker "Happy Family". Kami sudah bahagia, dan tak penting seisi dunia untuk mengetahuinya.
  • Bumi akan kehilangan minyaknya dalam waktu dekat. Tulisan Muhaimin Iqbal membahas lebih lengkap tentang era yang beliau sebut "After Oil". Jadi kalau ada orang leasing mobil baru selesai 15 tahun lagi, artinya dia masih harus melewati momen bayar cicilan sembari menjadikan mobilnya kandang burung, atau diloak kiloan, atau ditenggelamkan ke dasar laut untuk rumah terumbu karang.
Menimbang pula, bahwa kami ingin menerapkan pola hidup sederhana bin minimal, menghindari kejumudan jaman, dan tak mau membersamai gaya hidup materialis, maka hidup tanpa mobil (pribadi) menurut kami adalah sebuah pilihan yang baik.

Solusi supaya tak cenglu a.k.a bonceng telu adalah taksi online. Beberapa hal : 
  • Naik taksi online menghemat biaya karena toh jarang pergi-pergi. Tidak perlu bayar pajak, bahan bakar, biaya perawatan, parkir, termasuk biaya resiko lainnya.
  • Supir dan mobil bisa ganti-ganti setiap saat. Kalau mau agak mewah ya pesen yang XL.
  • Rumah tidak perlu garasi mobil, kalau sedari awal kita tidak punya mobil. Ada orang tidak punya garasi, lalu mengambil sebagian tanah / badan jalan untuk dijadikan garasi. Ini dzolim namanya. Kelak mereka akan diberi kalung berupa 7 lapis tanah yang dicurinya di hari akhir.
Minimal ini menjadi alternatif jawaban, hingga ditemukan solusi lain yang lebih keren. Oh ya, saya jadi ingat salah satu quote dari teman satu porsi di kereta api dulu.
Ketika ada orang tidak butuh mobil, kita pengaruhi untuk beli mobil. Itu belum jahat. Tahu tidak apa yang lebih jahat? Ada orang, secara finansial jelas-jelas tidak mampu beli mobil, tapi kita pengaruhi untuk beli mobil, dengan cara hutang dan pakai bunga pula

Catatan Hafalan

Bismillah

Salah satu resolusi tahun ini adalah menghafal quran, khusus juz 30 sahaja. Secara keseluruhan, butuh waktu 63 menit 13 detik.

Dari daftar berikut ini, totalnya yang belum ane hafal adalah 29 menit 24 detik, alias kurang lebih setengah juz.

092 Al-Lail1:52:00
090 Al-Balad2:00:00
089 Al-Fajr3:33:00
086 At-Tariq1:40:00
085 Al-Burooj3:18:00
084 Al-Inshiqaq2:40:00
083 Al-Mutaffifin5:10:00
082 Al-Infitar2:17:00
081 At-Takwir2:38:00
079 An-Naziat4:16:00

Masih butuh perjuangan lebih keras memang. Tapi setidaknya kita tak lagi di lembah, tapi telah sampai di titik tertentu di tengah gunung.

Motivator Jalanan

Bismillah

Jika ada musisi atau pengamen jalanan, mengapa tidak ada motivator jalanan? Bukankah justru orang-orang lemah semangat dengan sorot mata sendu di dalam bis kota sepulang kerja itulah, yang lebih patut diberi motivasi, ketimbang orang-orang berjas parlente mbois yang membayar biaya training seharga jutaan rupiah?

Bayangkanlah suatu hari nanti, di dalam sumpeknya Kopaja jurusan Tanah Abang - Blok M, seorang bersafari naik ke atas bis dan memulai bicara.

"Bapak Ibu yang baik hatinya! Bukan tanpa alasan kita dipertemukan di sini, kecuali Tuhan Menghendaki sebuah kebaikan hadir dalam kehidupan Bapak Ibu sekalian.. Tepuk tangan yang paling semangat untuk kita semuaa!!"

Tentu awalnya, saat ini tak menjadi tren, seorang Ibu-ibu dengan barang belanjaan segambreng menghabiskan satu tempat duduk tambahan lagi langsung bergumam, "Kasihan masih muda udah gila.."

Setelah orasi tiga menit yang menggelora, sang motivator jalanan pun berkeliling menyodorkan kantung ciki kosongnya. Sebagian orang memberi ribuan, dan beberapa masih bertepuk tangan sambil berdiri (karena tak kebagian tempat duduk).

Minta Undur

Bismillah

Kemarin seharusnya saya harus membayar invoice hosting di Crocweb, nilainya sekitar $80. Itupun sudah diberi diskon 20%, setelah saya memohon diskon. Berhubung sedang tak ada uang, saya menyampaikan permohonan saya kembali.

Thank you for giving me a special discount for the invoice. 
But I can not pay it on time tomorrow, so I need more time so my credit card billing can handle it. I really appreciate it if you can postpone the invoice for the next 6 (six) days. I am broke af now, but if you give me just 1% of your trust, I promise I will be your lifetime customer. 
Best regards,
Your honest (and broke) customer

Alhamdulillah, ini balasan dari Steve F.

Hello, 
You can make the payment by the end of the month. 
Regards, CrocWeb Billing Department

Ketika Ingin Berkelahi di Jalanan

Bismillah

Perlu dipertimbangkan beberapa hal berikut

  • Berkelahi itu dosa. Banyak dosa nanti masuk neraka loh.
  • Orang yang kita ajak berkelahi kemungkinan sesama muslim. Minimal sesama insan.
  • Ia adalah seorang Ayah dari anak-anaknya, suami dari seorang istri, anak dari seorang Ibu, sama seperti kita juga : orang-orang yang bekerja berjuang mencari nafkah untuk keluarganya.
  • Menghabiskan waktu dan membuat malu. Nanti ketahuan netizen terus diunggah di internet, jadi viral, masuk Hitam Putih dan diwawancara Dedi Kobuser. Urusan jadi panjang.

Kembali ke Masjid

Bismillah

Secara fitrah, kita itu sebetulnya sangat butuh masjid. Minimal kalau lagi kebelet di jalan, atau sedang butuh tempat beristirahat sementara. Masjid, apalagi yang desainnya bagus dan karpetnya wangi, membawa kedamaian dan ketenangan hati. Bikin ngantuk, dan betah buat berlama-lama. Alternatif wisata reliji nan murah meriah.

Dulu, Abdullah ibn Umm-Maktum tetap wajib sholat berjamaah di masjid. Padahal, beliau ini buta, hidup sendirian tak ada pengantar, dan perjalanannya menuju masjid melewati hutan lebat sepaket dengan binatang buas. Semua karena ia masih mendengar panggilan hayya 'alashsholah, hayya 'alalfalah. Panggilan menuju sholat, panggilan menuju kemenangan.

Us jaman now...

Padahal jarak masjid tak seberapa, kalau pun jauh bisa naik motor. Di dalam masjid adem ayem pake AC. Diganjar dengan pahala 27 kali lipat lebih banyak. Perlu kita jujur pada diri sendiri, hal apa yang membuat kita rasa-rasanya jauh dari masjid?

Peradaban seharusnya dimulai dari masjid. Tak hanya sekadar majelis ilmu dan tempat mengaji anak-anak pasca 'ashar, tapi teras masjid seharusnya jadi tempat pertemuan para saudagar. Pemilik rumah makan ketemu dengan peternak bebek, pengusaha konveksi ketemu dengan petani kapas, dan seterusnya. Bersinergi.

Home Schooling

Bismillah

Anak kami memang belum berusia setahun, tapi saya sebagai abati (dan penopang nafkah keluarga) sudah mulai mencicil berpikir, bagaimana masa depannya kelak. Ingat bahwa anak yang lahir saat ini, untuk 20-30 tahun ke depan akan bersaing dengan manusia yang lebih banyak. Saat ini penduduk bumi saja sudah 7 milyar. Bentuk persaingan itu macam-macam, mulai dari berebut makanan, tempat tinggal, pekerjaan, atau pendidikan.

Soal pendidikan, entah mengapa, sejak SMP saya sudah tidak percaya lagi dengan institusi pendidikan formal milik pemerintah. Memang sih masuk sekolah negeri "agak unggulan", tapi kan hanya sekadar "lebih murah dari swasta, dan nggak medioker-medioker amat". Kira-kira begitulah pemikiran keluarga kami jaman dahulu.

Saya pun mulai melirik metode sekolah dari rumah, belajar hanya dari hal-hal yang orang tua pilihkan. Ada beberapa pertimbangan

  • Tidak percaya dengan pemerintah. Bandingkan yang Anda dapatkan dari sekolah, selama ini. Dulu waktu SMP kami punya 2 jam pelajaran muatan lokal setiap minggu. Terus belajarnya ngapain? Disuruh nebas rumput. Ok, bye!
  • Sektor swasta tak bisa diprediksi soal biaya, dan seringnya amat sangat mahal. Soal biaya ini memang masih dalam perdebatan karena homeschooling juga mahal, setidaknya lebih mahal buku untuk anak homeschooling dibanding LKS SMP gocengan yang kertasnya bisa bolong saat ditulisi.
  • Istri adalah lulusan S2 jurusan pendidikan. Ini, menurut ane pribadi, adalah modal yang besar.
  • Beberapa pertimbangan lain terkait family time, pekerjaan orang tua, dll.
Namun istri bersikeras anak harus menempuh "jalur konvensional", dengan alasan yang konvensional juga.
  • Anak tidak punya interaksi sosial, karena ketemu 24/7 ke abati dan umminya.
  • Kurang semangat dalam berkompetisi, karena ia tidak melihat kemampuan anak-anak lain seusianya.
  • Ada kemungkinan gagal kalau tidak disiplin.
Tentu ini masih akan jadi bahan perdebatan diskusi kami selama 4 tahun ke depan.
About Me