Doa yang Salah Kaprah

Bismillah

Ketika kita pernah "merasa", dan tentunya ane anggap ini adalah hal manusiawi, doa kita tidak dikabulkan oleh Tuhan, maka boleh jadi yang salah adalah doanya. Contohnya tak usahlah yang jauh-jauh, minta jadi kaya. Kita ini sering lupa, seringnya minta uang 100 milyar rupiah. Yang benar adalah minta supaya bisa zakat 100 milyar rupiah. Hla kalau zakatnya saja 100 milyar rupiah, berarti kan duitnya minimal 4 trilyun?

Jadi, yang kita kejar itu bukannya "hasil jadi"-nya tapi asbabul dari doa-doa kita. Doa kok minta bisa kawin sama perempuan tertentu, yang cantik bin bahenol. Padahal, di samping si ceweknya belum tentu mau, kecantikan dan kebahenolan itu sifatnya semu nan sementara. Entar juga luntur. Kalau ente nggak percaya, tanya aja yang kawin sama artis!

Doa minta bisa berkantor di gedung bertingkat-tingkat, kalau kerja pakai kemeja mahal dan dasi, plus ruangan ber-AC. Padahal mereka-mereka itu malah pengen resign, karena gaji tak seberapa ditambah menu lembur setiap hari. Ujung-ujungnya wang sinawang. Begitulah kita itu. Jadi manusia tak jelas arah dan dipengaruhi nafsu.

Tanyakan pada diri ini, apakah doa kita itu sudah penuh kelaziman?


Jalan Orang Lain

Bismillah

Kita sering melihat jalan yang dilalui orang lain. Kadang terlihat lebih berliku, tidak nyaman, banyak hambatan, tentu ini relatif dibandingkan dengan jalan yang kita lalui. Jalan kita mulus, ora gerunjel-gerunjel. Kita pun (sepatutnya) merasa bersyukur.

Dalam hidup pun demikian. Kadang kita melihat ada orang terjebak hutang yang sedemikian besar. Mungkin berurusan dengan plokis atawa bui. Ada pula yang keluarganya berantakan. Orang tua berpisah. Anak-anak terlantar. Boleh jadi pula karena narkoba. Intinya ya kusut lah begitu.

Siapapun tidak menghendaki jalan abnormal. Semuanya ingin lancar. Secara finansial stabil, walau ndak usah tajir-tajir amat lah. Anak-anak tumbuh penuh kebaikan, pagi sekolah, siang tidur, sore TPA, dan kalau sudah Dunia Dalam Berita tidur. Keluarga akur semua, minimal arisan kumpul sebulan sekali.

Kita pun sesekali harus menempatkan diri ini, bersudut pandang, sebagai orang di seberang sana. Sebagai orang yang sedang mengalami kepayahan berperjalanan. Tanyakan benar-benar, apakah orang-orang itu, dengan sengaja dan sadar, berniat menjalani jalan yang berliku lagi susah bin ribet sedemikian? Tentu tidak (kan sudah saya kasih kombantrin).

Tentu semuanya ingin, paling minimal, kalau jalan tidak nyasar. Namun hidup tak selalu seperti apa yang kita ingini.

Sepuluh Ribu Jam

Bismillah

Menurut bukunya Pakde Malcolm Gladwell, Outliers, disebutkan berulang tentang aturan 10,000 jam. Sebetulnya ide ini berasal dari seorang psikolog, Anders Ericsson, yang meneliti sekumpulan orang-orang top di bidangnya, mulai dari atlet, musisi, dan serupanya. Pakde Malcolm pun sampai pada sebuah pernyataan, bahwa untuk meraih kesuksesan dalam hal tertentu, dibutuhkan usaha dan latihan minimal selama 10,000 jam. Hal inilah yang melahirkan konsep "deliberate practice", latihan fokus dan persisten.

Walaupun pemikiran Malcolm, pada akhirnya mendapat kontra dan kritik dari berbagai pihak, namun sebetulnya ide ini sudah terlanjur populer dan di-iyes-kan oleh banyak orang yang ingin mencapai derajat "ahli" bin "pakar". Termasuk saya sendiri (ya masak "saya berdua"? Hla kayak mana itu kalimatnya?), yang sudah termakan oleh banyak pemikiran Pakde.

Batas antara bisa dan tidak mampu itu bukan ditentukan hari ini, tapi nanti setelah 10,000 jam. Andai kita habiskan 3 jam sehari, maka berarti butuh ~10 tahun. Jangan menyerah! Sampai jumpa 10 tahun lagi.

Menangis

Bismillah

Telah lama blog ini tak ada pembaharuan. Jika dilihat polanya, kita akan cenderung lebih mudah menulis pada saat perasaan sendu. Ada yang dipikirkan. Sesuatu mengganjal di hati. Ide bermunculan tetiba. Sebuah tulisan baru lahir bukan karena "terjadwal", layaknya penulis kolom mingguan di surat kabar, tapi lebih karena ada sekilas sinar terang dari langit. Dari situlah jejari mulai menari di atas papan ketik.

Kami tinggal di rumah yang relatif tak luas. Ruang tamunya multifungsi bin serbaguna. Saat ada yang datang, tikar digelar. Saat malam, jadi garasi motor. Waktunya makan, kumpulnya ya di situ juga. Memang sih, agak susah kalau pas ada tamu, malam hari, dan waktunya makan. Namun di tengah "keterbatasan" seperti ini pun, tak ada rasa sedih yang membuat kami menangis. Rasa sedih tidak datang dari hal-hal sedemikian. Kenestapaan itu bukan ada karena hidup susah. No, no talk about hidup susah. We have been through the worst, this is nothing.

Kata lain, tak semudah itu kami mengeluarkan air mata.

Dulu waktu kuliah di kampus kami sering ada semacam training motivasi. Sebagai mahasiswa kelas gembel ya ikut saja toh gratis. Ada sesi di mana trainer-nya bercerita tentang keadaan orang tua kita. Menangislah seisi ruangan. Tapi ogut biasa-biasa saja tuh? Sebetulnya sempat bertanya, apakah ini tanda-tanda hati yang sudah keras?

Persoalan di atas baru-baru ini terjawab. Saat kurang tidur, biasanya 3-4 jam saja, jadi lebih mudah menangis.

Aha! Eureka! Bingo!

Jadi, benarlah apa yang dikatakan oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyah, tentang hal-hal yang merusak hati.

  • Banyak bergaul, kumpul, nongkrong, dengan manusia
  • Berpanjang angan-angan
  • Tergantung kepada selain Allah
  • Banyak makan
  • Banyak tidur (!)
Selain itu Allah telah memberikan petunjukNya dalam As-Sajdah ayat 15-16.
”Sesungguhnya, orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat kami adalah mereka yang apabila diperingatkan (ayat-ayat itu) mereka menyungkur sujud seraya bertasbih dan memuji Rabb-nya dan mereka tidak menyombongkan diri. Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya. Mereka selalu berdoa kepada Rabb-nya dengan penuh rasa takut dan penuh harap serta menginfakkan rezeki yang Kami berikan kepada mereka"
Semoga Allah Lembutkan hati kita, sehingga pipi ini bisa basah, mengenang dosa-dosa terdahulu.



Gambit in Life

Bismillah

Gambit dalam catur, adalah terminologi yang digunakan untuk menggambarkan pengorbanan pion, atau bidak lain, demi keuntungan yang lebih besar semisal posisi, atau bahkan kemenangan. Gambit sendiri berasal dari kata dalam bahasa Italia, gambetto, yang dapat berarti menjebak atau menunggu seseorang melakukan kesalahan. Untuk menyederhanakan isi tulisan ini (yang sudah amburadul sejak awal karena ditulis dengan niat tak ingin menulis), mari kita maknai gambit sebagai pengorbanan saja.

Pada dasarnya jika kita pandang kehidupan kita ini, ya tak jauh-jauh dari bermain catur. Langkah demi langkah kita jalani, sampai kita mendapatkan "kemenangan".

Terkadang kita ini salah langkah, bernafsu mendapatkan semuanya, dan enggan berkorban. Dalam catur, bahkan saat kemenangan sudah di depan mata, hanya 2-3 langkah lagi, kita merasa tak perlu berkorban. Bermainlah seperti raja, yang rela ratunya mati demi menaklukan raja lawan. Jangan takut bila kehilangan bidak perwira, karena masih ada 8 pion yang siap berjuang sampai ujung papan, dan naik pangkat.

Dalam permainan kehidupan, kita sering melakukan gambit. Misalnya mengorbankan waktu tidur di pagi hari demi meraih dunia dan seisinya, seringnya dalam keadaan masih mengantuk, kecapekan, atau kedinginan. Kita ini sering lupa bahwa rasa lapar, lelah, miskin, terhina, dan teman-temannya, ada masanya akan hilang. Kita lupa bahwa semua itu hanya pengorbanan yang kecil tiada arti. Kita ini juga sering lupa bahwa tujuan terakhir adalah menang.

Tentang Kecukupan

Bismillah

Jika terjebak macet dalam bis di Tangerang, cobalah sesekali melihat keluar jendela. Akan kita temukan, dalam beberapa puluh hasta sekali, terpancang di tepi jalan, 99 nama-nama Tuhan yang baik. Saat pusing memikirkan cicilan panci dan taperwer, saya berhenti pada sebuah nama Tuhan yang bagus, Al Muqiit, yang artinya, setidaknya menurut "rambu asma'ul husna" tersebut, adalah "Yang Maha Memberi Kecukupan".

Uang kita mungkin tak akan cukup untuk gonta-ganti hape baru, tapi akan tersedia kalau buat lahiran bini. Tidak akan cukup untuk beli velg racing buat motor, sepatu mentereng, atau kacamata hitam mahal, tapi selalu cukup untuk sekadar jalan-jalan sama anak istri ke taman, berbekal roti lapis buatan sendiri dan tikar merek Swan. Intinya tentang merasa cukup.

Jadi kalau kita merasa hidup tak pernah ada cukup-cukupnya, mungkin bukan karena duit kita kurang banyak, kerja kita kurang keras, atau tidur kita kurang larut. Tapi karena kita lupa bersyukur, lupa mengulang doa saat sujud, kurang kenceng dhuha dan sholat malamnya. Kalau sedekah pun ala kadarnya, kalau perlu pake gopekan. Kita kurang sering melihat orang sepuh jualan di pasar atau kuli panggul yang harus berhitam-panas di bawah teriknya surya. Lisan mungkin kurang sering berdzikir, padahal berapa lampu merah kita lewati setiap hari?

Kita ini sudah diberi sate seribu tusuk, tapi pas dimakan keluar lagi lewat lubang di punggung. Jadi nikmatnya makan itu bukan dari jumlah bin kuantitasnya, tapi saat dimasukkan mulut tak lupa menyebut asma-Nya, saat di lidah dikecap dan dikunyah lamat lamat, saat di usus diserap jadi energi, saat dikeluarkan mak brot lancar sambil merem melek.

Saat Rasul ditawari dunia, menolaklah beliau bukan karena tak butuh, tapi karena ingin menjadi pribadi bersyukur. Apakah kita sudah meneladani beliau sebagai insan bahagia, yaitu manusia yang tahu persis darimana asalnya, ke mana akan dipulangkan, dan untuk apa berada di dunia?

2018

Bismillah

Rencana besar di tahun 2017 kami memang tidak seratus persen terlaksana, tapi setidaknya tak sepenuhnya mengecewakan. Allah Maha Mengatur. Semoga di tahun depan rencana-rencana kami lainnya yang lebih besar akan terwujud. Memang perlu kerja dan perjuangan ekstra keras dari tahun sebelumnya.

Harapan di tahun 2018,
0. Berusaha untuk menyelesaikan hafalan juz 30.
1. Ingin beli motor untuk orang tua. Semoga ada rejeki lebih.
2. Mulai nyicil untuk berangkat umrah, sekeluarga.

Berat memang. Tapi impian itu kalau tidak divisualisasikan, tentu bakal lebih berat lagi. Sekarang memang semuanya terlihat berkabut, tapi kalau yakin di ujung sana ada jalan, insya Allah sampai juga.
About Me