2017

Bismillah

Rencana 2016, alhamdulillah sebagian besar tercapai. Keluarga kecil kami masih berusaha belajar untuk menjadi keluarga islam yang baik, beribadah yang benar dan mengikuti sunnah. Semoga Allah Mudahkan.

Harapannya di 2017 masih kurang lebih sama seperti tahun sebelumnya.

0. Bini lahiran normal, anak sehat.
1. Hafal juz 30, bukan 30 juz. Haha.
2. Bisa kumpul di kampung halaman kembali. Karena hijrah adalah keniscayaan.

Mungkin itu dulu target yang besar-besar tahun ini. Kalau resolusi sampingan banyak, tapi takut tidak fokus.

Peringkat Dua

Bismillah

Jaman sekarang semuanya serba kompetitif. Anak umur 5 tahun harus sudah bisa baca tulis. Di SD diajarin bahasa perancis, les komputer, dan tari balet. Nilai mata pelajaran harus A semua. Generasi 10 tahun yang akan datang adalah produk yang tumbuh dari sistem pendidikan yang lumayan amburadul.

Setiap orang berlomba untuk menjadi juara pertama. Podium terlalu sempit untuk lebih dari seorang. Dunia seolah tak punya tempat untuk medioker. Coba bayangkan, ada anak dimarahi hanya karena mendapat peringkat dua. Padahal sekelas isinya 40 orang. Jadi, yang dilihat hanyalah mengapa anak tidak bisa mengalahkan si peringkat pertama, bukan apresiasi bahwa senyatanya ia telah mengalahkan 38 orang.

Kita ini seringkali terjebak dengan metode yang tekstual, protokoler, birokratif, prosedural, nan berbelit-belit. Contohlah sholat berjamaah di masjid. Mendapat jatah shof ke-2 toh cukup prestatif, dibandingkan masbuk, apatah lagi yang tidak mau sholat di masjid.

Teman Seperjalanan

Bismillah

Sepenuhnya setuju dengan stwn tentang mode musafir, bahwa hidup kita ini, hidup yang sementara ini, hanyalah serangkaian perjalanan. Tujuan kita masih jauh, nanti masih lama, di keabadian. Nah, dalam rangka menjadi musafir, kita memerlukan teman sesama musafir.

Teman seperjalanan tak selalu satu tujuan, walau rutenya mirip-mirip. Atau sebaliknya, rutenya berbeza walau tujuan sama. Penting untuk saling bekerja sama dengan teman di perjalanan. Kita punya tepung sagu, teman punya air. Teman tanpa kita kelaparan, kita tanpa teman kerongkongan seret.

Saling bantu sesama musafir ini pun wujudnya banyak. Entah berbagi bekal, keahlian menempuh jalan, atau membaca rasi bintang di gelapnya langit. Semoga kita dipertemukan dengan teman seperjalanan yang baik.

Wisuda

Bismillah

Wisuda sebenarnya penting, sebagai pemberi kebahagiaan pada orang tua dan keluarga yang telah mendukung perjuangan kita sehingga bisa mencapai jenjang tertentu di bidang akademis. Namun mengapa sebuah prosesi kelulusan harus menghabiskan waktu separuh hari, plus biaya yang tak sedikit?

Bagi yang belum mengetahui, wisuda itu bayar. Bayar toga (entah beli atau sewa), bayar makan, bayar gedung, dan lain-lain bahkan termasuk buku wisuda yang isinya sebenarnya bisa diunggah saja ke situs universitas lalu kalau memang dibutuhkan bisa diunduh secara bebas. Tidak ada istilah wisuda gratis.

Itu baru soal biaya. Mari kita bahas soal kerepotannya. Bagi para pria, mungkin masalah penampilan tak jadi soal. Tapi buat kaum hawa, kombinasi kebaya-sanggul dan tata rias menjadi wajib hukumnya. Ini mau wisuda atau mau jadi manten? Kebaya mahal-mahal toh tak akan terlihat orang, karena akan tertutup toga juga.

Sejak jam 3 dini hari mbak-mbak salon sudah datang ke kos-kosan. Calon wisudawati sudah wudhu dulu sebelum dirias, terus disuruh nahan kentut sampai subuh yang berkisar jam setengah lima. Tapi tunggu, perjuangan calon wisudawati belum selesai sampai di situ.

Sebelum masuk ke gedung tempat wisuda, calon wisudawati diminta untuk berbaris sesuai fakultas dan urutan pemberian ijazah secara simbolis (sebetulnya isi map hanya berisi ucapan terima kasih). Terseok-seok mereka menaiki tangga dengan alas kaki yang berhak tinggi. Jangan lupa bekal kipas, karena terlalu banyak ritual wisuda yang makan waktu dan kurang perlu. Mulai dari pidato senat, sampai antri mau salaman dengan rektor dan dekan.

Coba saja dibayangkan, semua prosesi yang bikin pantat kesemutan itu paling cepat selesai jam 11 siang. Jadi, apa gunanya berdandan sejak jam 3 pagi bila jam 11 bedak sudah luntur kena keringat? Buat apa? Atau, untuk siapa? Kalau memang diniatkan agar terlihat cantik saat foto wisuda, mengapa tidak berias setelah wisuda, untuk selanjutnya berangkat ke studio foto bersama keluarga tercinta? Bisa santai-santai, tidak pula harus di hari yang sama.

Entahlah, saya termasuk yang tak terlalu setuju dengan proses wisuda, kecuali itu tadi, untuk membahagiakan orang tua saja.

Kedatangan dan Keberangkatan

Bismillah

Walau sama-sama berada di bandar udara, mengapa suasana di dua tempat tersebut berbeza?

Di Kedatangan tempat duduk banyak kosong. Hanya ada supir taksi gelap yang mencoba sedikit peruntungan dengan menggaet pelancong yang tak mahfum mata angin. Namun di Kedatangan ada pelukan, rekahan senyuman bagi yang lama tak bersua, dicampur sedikit celingak celinguk mencari wajah yang dikenalnya di antara puluhan orang lain. Kombinasi mata memicing, dadah-dadah senyum plus mata berbinar, peluk cipika cipiki, jabat tangan erat disertai gerakan tangan naik turun tanda keakraban. Sesekali, di Kedatangan ada teriakan anak 7 tahun memanggil Ayahnya sambil berlari menyambut sosok lelaki tua seperti kelelahan bekerja lama di negeri orang.

Di Keberangkatan ada sendu karena jadwal pesawat yang tertunda. Ada penantian lama, hingga orang sampai baring-baring ketiduran di lantai, menggadaikan rasa malu dengan pegalnya betis karena lama berdiri tak kebagian kursi tunggu. Ada teriakan tak sabar dari calon penumpang yang sudah berjam-jam terabaikan tak jelas nasib. Ada petugas maskapai yang berusaha menenangkan, tapi bingung mau bicara apa. Di Keberangkatan ada kesedihan karena kehilangan, yang entah lama entah sementara. Di Keberangkatan penuh dengan berat hati. Di Keberangkatan sebenarnya lebih banyak tidak enaknya.

Di Keberangkatan ada perpisahan. Di Kedatangan ada perjumpaan kembali. Di Keberangkatan walau ada senyum, namun ada pahitnya sedikit. Di Kedatangan ada tangis haru bahagia.

Jumlah Tulisan

Bismillah

Ada 235 tulisan di blog ini, 5.048 tulisan di blog pribadi, dan sekitar 70 tulisan lagi di blog komersil. Apa sih artinya tulisan sebanyak itu? Setidaknya buat ane pribadi:

  • Pertanda bahwa kita semakin tua. Pertama kali ngeblog tahun 2007. Ini sudah 2016. Sembilan tahun, kayak anak SD kelas 4.
  • Tulisan kita berevolusi. Baik dari segi bahasa, mutu, gaya, atau kesederhanaannya. "Oh dulu alay, sekarang agak mateng dikit". "Oh dulu masih aku-kamu, sekarang ane-ente". "Oh dulu begini, sekarang begitu."
  • Refleksi. Melihat kaca spion sesekali, biar kerasa kalau perjalanan sudah sekian jauh.
  • Tidak mungkin dari sekian banyak tulisan kita, nggak ada satupun yang jadi manfaat buat orang. Ada yang sekadar menghibur, informasi, bahkan ada yang jadi inspirasi atau motivasi. Kita nggak tahu dari tulisan kita yang mana kita bisa mengubah dunia, atau minimal, hidup kita sendiri.
Tetaplah menulis.

Doa Ibu

Bismillah

Dulu sebelum berangkat, saya sempat cerita ke Ibu.

"Mau dibikinin sambal kering tempe? Mau bawa rice cooker mini kah?" komentar beliau.

Ah, masak sih ndak ada yang jualan di sana? Jadi saya jawab, "Tidak usah repot-repot, Bu."

Dan memang betul bahwa insting orang tua itu sering kali luar biasa akurasinya, walau di luar nalar manusia. Di sana, selama 3 hari, sulit sekali cari makanan! Yang jualan sih banyak, hanya saja semuanya pakai be-a-be-i.

Dimulai dari tempat kami menginap. Nasi gorengnya, sosisnya, sayurannya, lauk-pauknya, semuanya sama pake be-a-be-i. Jadi ane cuma ambil telor rebus sama air putih. Mandor pabrik yang juga ikut waktu itu makan dengan lahap, kan dia non muslim. Kirain ane gratis kayak sarapan di hotel. Eh, ternyata begitu keluar disuruh mbayar. Syukurlah. Hahahaha.

Di tepi jalan juga banyak yang jualan. Tapi kalau ayamnya nggak disembelih pake bismillah, kan jadi masalah juga? Mau nanya kesannya ndak sopan. Plus ndak ngerti bahasanya. Kusut.

Ke mini-marketnya juga sama. Bingung mau beli apa, karena ndak ada logo halalnya dan tulisannya ndak ngerti. Bahkan ane sempat ketemu Mamak-mamak pake jilbab, dia tanya apakah produk yang dia mau beli ada kandungan udangnya. Ane baru inget, orang Turki kan kebanyakan nggak makan udang. Beda mazhab.

Itulah. Ternyata di balik kesulitan kita, ada orang lain yang lebih susah lagi. Mesti banyak sabar dan syukur.

Akhirnya mesti agak jauh ke daerah Nara, dicariin kebab sama juragan. Terus ke supermarket yang lengkap, nemu Indomie goreng. Alhamdulillah...

Pesan ane, pesan orang tua dilaksanakan sahaja dulu. Walau kesannya di awal tidak masuk akal, niatkan saja sebagai bakti baik, apalagi ke Ibu. Terang benderang disuruh bawa payung? Bawa aja dulu. Dibekalin air minum sama nasi walau perjalanan dekat? Angkut aja. Doa Ibu itu sungguh mustajab, lebih ampuh dari doanya ulama.

About Me