Jumlah Tulisan

Bismillah

Ada 235 tulisan di blog ini, 5.048 tulisan di blog pribadi, dan sekitar 70 tulisan lagi di blog komersil. Apa sih artinya tulisan sebanyak itu? Setidaknya buat ane pribadi:

  • Pertanda bahwa kita semakin tua. Pertama kali ngeblog tahun 2007. Ini sudah 2016. Sembilan tahun, kayak anak SD kelas 4.
  • Tulisan kita berevolusi. Baik dari segi bahasa, mutu, gaya, atau kesederhanaannya. "Oh dulu alay, sekarang agak mateng dikit". "Oh dulu masih aku-kamu, sekarang ane-ente". "Oh dulu begini, sekarang begitu."
  • Refleksi. Melihat kaca spion sesekali, biar kerasa kalau perjalanan sudah sekian jauh.
  • Tidak mungkin dari sekian banyak tulisan kita, nggak ada satupun yang jadi manfaat buat orang. Ada yang sekadar menghibur, informasi, bahkan ada yang jadi inspirasi atau motivasi. Kita nggak tahu dari tulisan kita yang mana kita bisa mengubah dunia, atau minimal, hidup kita sendiri.
Tetaplah menulis.

Doa Ibu

Bismillah

Dulu sebelum berangkat, saya sempat cerita ke Ibu.

"Mau dibikinin sambal kering tempe? Mau bawa rice cooker mini kah?" komentar beliau.

Ah, masak sih ndak ada yang jualan di sana? Jadi saya jawab, "Tidak usah repot-repot, Bu."

Dan memang betul bahwa insting orang tua itu sering kali luar biasa akurasinya, walau di luar nalar manusia. Di sana, selama 3 hari, sulit sekali cari makanan! Yang jualan sih banyak, hanya saja semuanya pakai be-a-be-i.

Dimulai dari tempat kami menginap. Nasi gorengnya, sosisnya, sayurannya, lauk-pauknya, semuanya sama pake be-a-be-i. Jadi ane cuma ambil telor rebus sama air putih. Mandor pabrik yang juga ikut waktu itu makan dengan lahap, kan dia non muslim. Kirain ane gratis kayak sarapan di hotel. Eh, ternyata begitu keluar disuruh mbayar. Syukurlah. Hahahaha.

Di tepi jalan juga banyak yang jualan. Tapi kalau ayamnya nggak disembelih pake bismillah, kan jadi masalah juga? Mau nanya kesannya ndak sopan. Plus ndak ngerti bahasanya. Kusut.

Ke mini-marketnya juga sama. Bingung mau beli apa, karena ndak ada logo halalnya dan tulisannya ndak ngerti. Bahkan ane sempat ketemu Mamak-mamak pake jilbab, dia tanya apakah produk yang dia mau beli ada kandungan udangnya. Ane baru inget, orang Turki kan kebanyakan nggak makan udang. Beda mazhab.

Itulah. Ternyata di balik kesulitan kita, ada orang lain yang lebih susah lagi. Mesti banyak sabar dan syukur.

Akhirnya mesti agak jauh ke daerah Nara, dicariin kebab sama juragan. Terus ke supermarket yang lengkap, nemu Indomie goreng. Alhamdulillah...

Pesan ane, pesan orang tua dilaksanakan sahaja dulu. Walau kesannya di awal tidak masuk akal, niatkan saja sebagai bakti baik, apalagi ke Ibu. Terang benderang disuruh bawa payung? Bawa aja dulu. Dibekalin air minum sama nasi walau perjalanan dekat? Angkut aja. Doa Ibu itu sungguh mustajab, lebih ampuh dari doanya ulama.

Belajar Baca Quran

Bismillah

Seingat yang saya bisa, dulu saya belajar mengaji dengan Ibu. Lalu setelah "agak lancar", saya memiliki 2 orang guru mengaji. Kak Sal (nama aslinya kalau tidak salah Salomah) yang sejak saya kecil sudah pindah entah ke mana, setelah itu Om Surya (kini sudah almarhum, semoga Allah menerima segala kebaikan beliau).

Ada beberapa hal menarik saat belajar baca quran.

Biasanya, walaupun perasaan diri ini sudah "lumayan lancar" baca quran berjuz-juz, setiap memulai untuk pertama kalinya, dan mendengar kita ngaji sedikit, guru ngaji akan bilang, "Besok iqro'-nya dibawa ya, mulai dari awal lagi". Ini tentu bikin dongkol, pada mulanya. Namun ini adalah bagian dari pendidikan karakter. Memulai semuanya dari nol. Menyiapkan kertas kosong. Mengosongkan gelas. Accept that you have to start over. Pahami bahwa kita ini murid, adabnya adalah belajar, bukan semata-mata khatam kitab.

Selanjutnya, masih dalam rangka membangun karakter anak, yang bener adalah murid mendatangi rumah guru, bukan sebaliknya seperti zaman sekarang. Muridlah yang seharusnya mengejar ilmu, bukan guru yang menyuapi pemahaman. Kalau sekarang, sudahlah guru ngaji datang jauh-jauh pakai sepeda butut terseok-seok hujan-hujanan, eh orang tuanya enak saja bilang "Maaf ustad hari ini libur dulu aja soalnya kami sekeluarga mau ke mall".

Lalu, belajar baca quran itu memang seyogyanya butuh guru. Ada yang membimbing intensif. Tidak bisa dan tidak mungkin otodidak. Pakai buku "How to Read Quran for Dummies" atau "Mastering Reading Quran in 24 Hours"? Mana bisa!!

Ngaji itu juga harus kuat mental. Om Surya itu kalau kita salah baca, maka penunjuk (pointer) dari bambunya itu akan diketuk-ketukan ke quran, sambil berdehem. "Hmm.. 6 harokaaatt," katanya. Menggetarkan hati. Cukup mengintimidasi. Setelah selesai 1 'ain, maka akan diberi "PR" untuk baca 1 'ain berikutnya di rumah. Begitu terus, setiap hari. Pernah suatu kali PR-nya di surat Maryam, ayat pertama. "Om... Maaf saya tidak tahu bacanya bagaimana..". Pointer diketok-ketok lagi di quran.

"Ehm ehm.. Kaaaf..! Haaa..! Yaaaa..! 'Aiiiin..! Sshooodd...!"

NB : kok bisa ya guru ngaji itu baca quran sambil terbalik (atas - bawah)?

Ujian Kekayaan

Bismillah

Mungkin sebagian kita mengira, ujian kemiskinan itu lebih berat daripada ujian kekayaan. Namun, benarkah menjadi orang miskin selalu lebih sulit daripada menjadi orang kaya?

Mari coba bahas.

Menjadi orang miskin, apalagi pengangguran yang saldo ATM-nya tidak bisa diambil barang selembar saja, akan meningkatkan peluang mudahnya beribadah pada Tuhan. Semakin menganggur, berarti semakin punya keluangan waktu untuk berdoa banyak-banyak, dan ibadah sunnah lain. Bisa sholat dhuha, hingga 12 rakaat pulak.

Menjadi orang kaya, mau sholat jamaah tepat waktu saja sulit. Apalagi kalau harta berkelimpahan, usaha besar, cabang di mana-mana, jabatan tinggi, berangkat saat gelap pulang lebih gelap lagi. Semakin sibuk dan boleh jadi lupa wajah anak sendiri.

Mungkin Tuhan Jadikan seseorang miskin dunia, karena sangking sayangnya Ia. Tuhan Rindu mendengar hamba-Nya memohon dengan harap-harap cemas, tersedu tengah malam, menyadari selemah-lemahnya makhluk. Sedang orang yang dunianya menumpuk, selain bikin sulit ketika bayar pajak dan kena audit sana-sini, akan lebih repot pula saat hisabnya kelak.

Ada milyaran manusia mati yang ingin dikembalikan ke dunia. Bukan untuk bertemu dengan istrinya nan cantik bin bahenol. Bukan demi mobilnya yang mewah, rumahnya yang megah, atau sekadar kangen jalan-jalan pakai jet pribadi. Demi Allah bukan.

Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, mereka ingin menjadi pengisi shaf terdepan di masjid. Menjadi penyumbang terbesar untuk kemaslahatan ummat. Menjadi yang pertama kehausan menuntut ilmu agama.

Mereka ingin belajar membaca quran, walau harus terseok-seok berpatah-patah lidah pegal. Mereka menyesal mengapa tak berkesempatan menabung amal kebaikan ketika hidup. Menyesal sudah sombong pada Tuhan, dan tertipu palsunya dunia.


How to Implement Nested Set Behavior on Yii2 Web Application

Bismillah

You can see my simple screencast on YouTube. Indonesian CC is active.

Workspace 2016

Bismillah

Edisi dinding rumah bocor setelah hujan

Melanjutkan tulisan jaman purba soal workspace. Kok rasanya semakin lama semakin sumpek. Udah susah mau minimalis lagi. Nggak mungkin masuk minimaldesks.com.

0. iMac. Plus keyboard dan magic mouse. Sedang belajar bikin mobile apps untuk iOS. Semoga nanti bisa jadi skill tambahan yang bermanfaat.
1. MacBook Pro. Sebetulnya sudah jarang sekali dipakai, tapi kalau harus datang ke pabrik, ini satu-satunya pilihan.
2. Mouse X7. Sudah jarang dipakai, kecuali buat maen Dota2 (sudah tidak pernah main lagi sejak nikah, dimarahin istri, haha).
3. Hape iPhone 5S. Buat testing. Gak usah konek internet biar gak berisik.
4. Peci. Isinya macam-macam mulai kunci, uang receh, kabel, sampai another peci.
5. Pen dan kertas. Seringnya untuk menggambar "source code" yang tidak kuat kebayang di kepala.
6. Meja. Ngerakit sendiri dari Linnmon dan Lerberg. Murah meriah dibanding meja warnet ane dulu.
7. Kursi. Salah satu pilihan office chair yang punya tilt, height adjust, handle, dengan harga di bawah sejuta. Kabarnya kantor sebelah harga kursinya sebiji 50 juta. Entah bener entah hoax. :D

Pekerjaan Yang Enak

Bismillah

Apa sesungguhnya hakikat pekerjaan yang enak itu? Apakah pekerjaan yang gajinya melimpah ruah? Kantornya dingin pakai AC mewah bin megah lantainya bertingkat-tingkat sampai mencapai langit? Ataukah yang sudah menjamin kehidupan si pekerja, berikut keluarganya, kalau bisa hingga hari kiamat kelak?

Hakikat pekerjaan yang enak, yang sering kita lupakan, ialah pekerjaan yang masih memberikan kesempatan pada kita untuk dekat pada Tuhan. Adakah saat kita bekerja, kita masih bisa diberi kesempatan sholat berjamaah di masjid, memakai hijab, dan beribadah sesuai dengan apa yang kita yakini? Adakah pekerjaan kita, masih memberi kita keleluasaan sholat sunnah fajar, yang bandingannya adalah dunia dan seisinya? Ataukah di saat orang baru pulang dari masjid di subuh hari, kita justru malah sibuk tergesa mengejar bis, kereta, atau mulai memanaskan kendaraan?

Coba direnungkan kembali, apakah semua itu benar-benar sepadan? Kalaulah kita rela menukar dunia yang seperti mimpi ini, dengan hal yang abadi dan tak terbatas, bukankah kita ini termasuk orang-orang yang bangkrut?

Coba dipikirkan kembali, Tuhan manakah yang kita sebut Ilah itu? Apakah Tuhan yang kita sebut berulang namanya, yang Dzatnya hanya satu tiada dua apatah lagi tiga, yang Menjamin rizki kita bahkan sejak sebelum kita terlahir? Ataukah sebetulnya kita ini sedang membikin-bikin ilah-ilah yang lain?
About Me