Ketika Ingin Berkelahi di Jalanan

Bismillah

Perlu dipertimbangkan beberapa hal berikut

  • Berkelahi itu dosa. Banyak dosa nanti masuk neraka loh.
  • Orang yang kita ajak berkelahi kemungkinan sesama muslim. Minimal sesama insan.
  • Ia adalah seorang Ayah dari anak-anaknya, suami dari seorang istri, anak dari seorang Ibu, sama seperti kita juga : orang-orang yang bekerja berjuang mencari nafkah untuk keluarganya.
  • Menghabiskan waktu dan membuat malu. Nanti ketahuan netizen terus diunggah di internet, jadi viral, masuk Hitam Putih dan diwawancara Dedi Kobuser. Urusan jadi panjang.

Kembali ke Masjid

Bismillah

Secara fitrah, kita itu sebetulnya sangat butuh masjid. Minimal kalau lagi kebelet di jalan, atau sedang butuh tempat beristirahat sementara. Masjid, apalagi yang desainnya bagus dan karpetnya wangi, membawa kedamaian dan ketenangan hati. Bikin ngantuk, dan betah buat berlama-lama. Alternatif wisata reliji nan murah meriah.

Dulu, Abdullah ibn Umm-Maktum tetap wajib sholat berjamaah di masjid. Padahal, beliau ini buta, hidup sendirian tak ada pengantar, dan perjalanannya menuju masjid melewati hutan lebat sepaket dengan binatang buas. Semua karena ia masih mendengar panggilan hayya 'alashsholah, hayya 'alalfalah. Panggilan menuju sholat, panggilan menuju kemenangan.

Us jaman now...

Padahal jarak masjid tak seberapa, kalau pun jauh bisa naik motor. Di dalam masjid adem ayem pake AC. Diganjar dengan pahala 27 kali lipat lebih banyak. Perlu kita jujur pada diri sendiri, hal apa yang membuat kita rasa-rasanya jauh dari masjid?

Peradaban seharusnya dimulai dari masjid. Tak hanya sekadar majelis ilmu dan tempat mengaji anak-anak pasca 'ashar, tapi teras masjid seharusnya jadi tempat pertemuan para saudagar. Pemilik rumah makan ketemu dengan peternak bebek, pengusaha konveksi ketemu dengan petani kapas, dan seterusnya. Bersinergi.

Home Schooling

Bismillah

Anak kami memang belum berusia setahun, tapi saya sebagai abati (dan penopang nafkah keluarga) sudah mulai mencicil berpikir, bagaimana masa depannya kelak. Ingat bahwa anak yang lahir saat ini, untuk 20-30 tahun ke depan akan bersaing dengan manusia yang lebih banyak. Saat ini penduduk bumi saja sudah 7 milyar. Bentuk persaingan itu macam-macam, mulai dari berebut makanan, tempat tinggal, pekerjaan, atau pendidikan.

Soal pendidikan, entah mengapa, sejak SMP saya sudah tidak percaya lagi dengan institusi pendidikan formal milik pemerintah. Memang sih masuk sekolah negeri "agak unggulan", tapi kan hanya sekadar "lebih murah dari swasta, dan nggak medioker-medioker amat". Kira-kira begitulah pemikiran keluarga kami jaman dahulu.

Saya pun mulai melirik metode sekolah dari rumah, belajar hanya dari hal-hal yang orang tua pilihkan. Ada beberapa pertimbangan

  • Tidak percaya dengan pemerintah. Bandingkan yang Anda dapatkan dari sekolah, selama ini. Dulu waktu SMP kami punya 2 jam pelajaran muatan lokal setiap minggu. Terus belajarnya ngapain? Disuruh nebas rumput. Ok, bye!
  • Sektor swasta tak bisa diprediksi soal biaya, dan seringnya amat sangat mahal. Soal biaya ini memang masih dalam perdebatan karena homeschooling juga mahal, setidaknya lebih mahal buku untuk anak homeschooling dibanding LKS SMP gocengan yang kertasnya bisa bolong saat ditulisi.
  • Istri adalah lulusan S2 jurusan pendidikan. Ini, menurut ane pribadi, adalah modal yang besar.
  • Beberapa pertimbangan lain terkait family time, pekerjaan orang tua, dll.
Namun istri bersikeras anak harus menempuh "jalur konvensional", dengan alasan yang konvensional juga.
  • Anak tidak punya interaksi sosial, karena ketemu 24/7 ke abati dan umminya.
  • Kurang semangat dalam berkompetisi, karena ia tidak melihat kemampuan anak-anak lain seusianya.
  • Ada kemungkinan gagal kalau tidak disiplin.
Tentu ini masih akan jadi bahan perdebatan diskusi kami selama 4 tahun ke depan.

Review Modem Mifi 4G Movimax MV003

Bismillah


Alhamdulillah akhirnya memutuskan untuk membeli modem mifi 4G saja, dengan beberapa pertimbangan :

  • Paket data Telkomsel amat mahal. Bahkan pilihan paket data yang biasanya dipake bini sudah tidak ada.
  • Rencananya beli paket data 3 (Tri) atau provider lain yang sedang promo, intinya semurah mungkin, untuk dimasukkan ke modem. Jadi bisa dipakai berjamaah. Bersinergi. Berdaya bersama.
  • Mobilitas tinggi. Kalau mau pasang jaringan internet di rumah, biaya awalnya mahal, ribet, dan tidak reliable. Belum lagi kalau pas listrik padam.
  • Tidak harus tethering dari handphone terus, jadi laptop pun bisa tersambung via wifi.
  • Di kampung, baik di rumah orang tua atau mertua, sudah ada jaringan 4G yang cukup stabil.
Pilihan akhirnya jatuh ke Movimax MV003. Langsung saja, modem ini : 
  • Setahu kami yang paling murah yang ada di market saat ini.
  • Sudah ada versi unlocked. Seharusnya bundling dengan paket data 60 GB milik XL.
  • Baterai 2300 mAh. Lebih dari cukup kalau untuk pemakaian harian kami.
  • Simpel dan ringan. Saya rasa fitur "layar di modem" tidak penting-penting amat. Notifikasi SMS ada lampunya, dan akses ke web UI nya lebih dari cukup. Toh, siapa sih yang peduli tampilan luar, yang penting kan enak diajak ngobrol dan siap bersama di saat suka dan duka #apasih
  • Tidak panas walau dipakai seharian.
  • Ada fitur network extender. 
  • Dengan harga Rp 469ribu saja (sebelum diskon dari Tokopedia Rp 90ribu), modem ini adalah modem paling murah (maaf kalau kesebut lagi, soalnya emang murah loh).
Mungkin itu aja. Oya, saya sempat berkonsultasi dengan stwn. Sepertinya kami berbeda aliran kalau soal pilih-memilih barang.

Lelaki dan Game

Bismillah

Katanya, sulit memisahkan kehidupan pria dan permainan. Kisah pertemuan ane sendiri dan dunia game bermula dari SD kelas 5. Saat itu memang musim Nintendo. Sempat merengek menangis banting pintu mencak-mencak ingin dibelikan. Kalau tidak salah harganya masih Rp 90 ribu. Dengan uang jajan hanya Rp 3ribu sebulan, maka perlu waktu 30 bulan agar mimpi itu terwujud. BEP-nya terlalu lama. Mustahil menabung selama itu, dengan asumsi tak pernah jajan dan beli buku.

Sempat diberi alasan oleh Ibu bahwa :
  1. Game akan merusak kehidupan kita, minimal membuat kita jadi malas belajar dan bodoh.
  2. Game akan merusak TV kita.
Entah kenapa justru alasan kedua yang membuat urung beli. Soalnya jaman dahulu, di kampung ane, TV (apalagi yang berwarna) adalah sebuah kemewahan tak terkira. Jadi, untuk main game (yang layaknya seperti heroin bagi pecandu narkoba), biasanya numpang di rumah saudara atau teman. Hanya sesekali.

Sampai suatu ketika, saat sunat kelas 1 SMP, Ibu akhirnya membelikan sebuah PS. Bukan Play Station™, tapi Power Station. Tiruan Nintendo yang bentuknya seperti Play Station™. Bahkan, bentuk dan logonya sama persis. Buatan Cina, biasa lah. Kegemaran (lebih tepatnya kecanduan) bermain game ini berlanjut terus.

Dari situlah, sebuah dunia paralel bermula. Sebuah dunia lain yang, ketika kita masuki, maka akan sulit untuk keluar. Dunia di mana kita bisa menjadi siapa saja, atau lebih tepatnya, apa saja. Sebuah dunia lain, seperti The Matrix. Dunia mimpi yang kadang susah dibedakan dengan dunia nyata, seperti pada Inception. Dunia yang, kalaupun kita mati, masih ada 2 nyawa tersisa. Kalaupun nyawa habis dan permainan berakhir, tinggal diulang dan dicoba lagi. Hmm.. Utopia!

Tak heran, di warnet-warnet sering kita lihat, anak-anak bermain game tak kenal waktu, bahkan sampai menginap berhari-hari. Boleh jadi anak-anak ini semi-broken-home. Mereka takut untuk kembali ke rumah, ke keluarga yang bermasalah, ke dunia sebenarnya. Jadilah, di game online, sebagai tempat pelarian.

Prestasi akademis pun sebetulnya tak hancur-hancur amat. Peringkat kelas di sekolah tak pernah sampai 2 digit. Pernah mewakili sekolah lomba matematika dan olimpiade (walau kalah). Alhamdulillah, masih bisa keterima di UGM, jurusan ilmu komputer pulak.

Pendapat pribadi :
  1. Bermain game dapat meningkatkan kemampuan berpikir logis, skill motorik, reflek, dan problem solving.
  2. Game tidak membuat kita menjadi bodoh.
Pendapat bini : 
  1. Bermain game sangat membuang waktu. (Oh, dan nonton Nakusha tidak termasuk membuang waktu..)
  2. Game itu hanya menipu. Yang jadi sasaran adalah orang-orang pintar, bertujuan supaya sebuah negara itu hancur karena orang-orang pintarnya sibuk bermain game.

Profesionalisme dan Keislaman

Bismillah

Apakah benar kita wajib dan harus belanja, bertransaksi, berinvestasi, berkegiatan ekonomi, hanya pada sesama muslim? Pertanyaan ini tentu luas cakupannya. Kalau kita lihat pada zaman sahabat, tak jarang mereka juga berjual beli pada orang kafir. Artinya, dari segi muamalah, sebetulnya sahih-sahih sahaja kalau mau beli di warung orang non-muslim.

Tapi kita kan harus menguatkan ekonomi muslim?

Memang benar seperti itu, tapi ini sering menjadi legitimasi berbagai hal yang (ujung-ujungnya) mencoreng nama baik orang Islam sendiri.

"Tak apalah kualitas barang amburadul, toh pasti laku karena komunitas muslim pasti beli"
"Tak apa mahal, jual harga jutaan, bikin produk scam, ambil untung berkali lipat, market Indonesia mayoritas orang Islam"
"Tak mengapa tipu-tipu, bermulut manis bak madu, kan kita harus saling percaya sesama saudara seiman"
"Bidang bisnis remang-remang, nggak papa nanti kita kasih embel-embel 'syariah', pasti laris manis dibeli ibu-ibu berhijab"

Tentu pendapat di tulisan ini sangat kontroversial bin debatable. Yang ingin penulis katakan, janganlah bersembunyi di balik keislaman lalu menghalalkan segala cara untuk meningkatkan profit dagang Anda. Jika keislamannya benar, seharusnya bab muamalahnya juga kholas, dan pasti profesional, jujur, dan amanah. Kita beli di warung makan muslim karena percaya bahwa, paling minimal, dia tidak mencampur zat haram dalam masakannya. Tapi rasa masakannya? Wallahua'lam.

Memang benar bahwa ini hanyalah oknum, tapi oknum ini ya orang-orang kita juga. Dan tak menutup kemungkinan penyakit ini menular. Padahal ikhwah, sesama ngaji, tapi pinjem duit terus ditagih nggak nyahut. Ditanya nggak jujur tentang mutu barang, ya ikhwah juga. Jadi, profesionalisme berbisnis itu parameternya tentu banyak sekali, tak hanya bisa dilihat dari panjangnya bulu dagu, celana yang anti-isbal, atau lebarnya jilbab.

Kalau iklim bisnis seperti ini kita jadikan kebiasaan, tunggulah saatnya tidak ada yang percaya lagi untuk berbisnis dengan kita. Bahkan saudara sesama muslim. Ini masalah yang kita hadapi untuk bersaing dengan orang-orang yang modalnya lebih besar, jaringannya lebih luas, dengan sumber daya tak terbatas.

Alat Perang

Bismillah

MacBook Pro Late 2011, dengan nomor model MD313. Mesin ini (lebih suka saya sebut "alat perang") sudah dibeli dengan simbahan darah, kucuran keringat, dan tetesan air mata. Jadi izinkanlah saya bercerita.

Saya pertama kali melihat iklan MBP seken dari sebuah forum internet. Yang jual orang Surabaya. Bonus kantor katanya, belum pernah dipakai. Dengan harga yang lumayan miring, saya beranikan untuk bertanya dulu. Ternyata masih bisa nego, alhamdulillah. Saya katakan waktu itu, saya akan DP dulu, nanti sisanya akan saya bayar kemudian.

Namun ada masalah kecil, yah.. gak kecil-kecil amat sih. Saat itu, tengah tahun 2012. Saya sedang "bersemedi" di sebuah kos murah meriah di daerah Ulujami, dekat pesantren Darunnajah. Tanpa uang, tanpa pekerjaan. Layaknya pada umumnya orang yang sedang dalam keadaan butuh bantuan finansial, saya telpon kakak saya. Saya bilang, saya mau pinjam uang 6 juta rupiah. Masalah pertama (dan terutama) selesai.

Saya lalu menghubungi Mas Aswin, teman kos semasa masih kuliah dulu di Jogja. Beliau orang Surabaya asli, dan bersedia membantu untuk bertemu dengan penjual. Barang dilihat, sudah oke, deal terjadi, dan saya transfer sisa pembayarannya. Di sinilah skenario Allah mulai berjalan.

Waktu itu ada undangan teman kuliah yang akan menikah di Malang. Kok rasanya kebetulan sekali?

Jadilah perjalanan panjang dengan rencana rute Jakarta - Yogya - Solo - Karanganyar - Surabaya - Malang - Yogya - Jakarta, dimulai.

Jakarta - Jogja : kereta api, lanjut Pramex.
Jogja - Solo - Karanganyar : Pramex, dijemput di Balapan, lanjut naik motor ke rumah keluarga Bapak. Alhamdulillah bertemu dengan sepupu, pakde dan bude.
Karanganyar - Surabaya : naik bis Mira.
Surabaya - Malang : bis.
Malang - Yogya : bis.
Yogya - Jakarta: kereta api.

Di Surabaya saya sempat menginap juga semalam di rumah Mas Aswin. Setelah berterima kasih atas segala kebaikan keluarga beliau, saya izin pamit lanjut ke Malang dengan bis. Di terminal Malang, lebih tepatnya di musholla SPBU, sempat berkenalan dengan mahasiswa yang punya pengalaman bisnis dengan omzet puluhan juta sebulan, dan sempat ditipu dan rugi ratusan juta. Mantap sekali. Hla saya pengangguran, dek?

Jam 11 pagi itu kita berangkat sama-sama ke resepsi. Ternyata sudah disediakan tempat penginapan oleh yang empunya hajat. Beruntung sekali nasib hidupku ini.

Pas mau ke Yogyakarta, ternyata si Adyatma bawa mobil. Makin hoki nih, nggak perlu bayar bis lagi. Sempat menginap (lebih tepatnya, ketiduran) di rumah Pras dari pagi hingga sore. Padahal kereta berangkat jam 19:20. Tapi, di Jogja, ngumpulin orang lebih gampang dibanding Jakarta. "Lagi kumpul di Semesta, buat yang bisa langsung aja ya.." dan 10 menit kemudian sudah haha-hihi.

Si Afi pake acara salah stasiun, ternyata berangkat dari Lempuyangan. Langsung kebut, alhamdulillah terkejar. Sudah menunggu juga tokoh baru kita, si Apriez, yang beli tiket keretanya Kresna.


***

Dalam setiap pembelian alat perang, ada cerita bin obrolan. Ada cengkerama dan persahabatan. Ada kesabaran dalam penantian dan perjalanan. Ada perjumpaan dengan orang-orang baru. Ada sedikit kecemasan, ada rasa syukur. Ada janji. Ada perjuangan, ada rasa kantuk dan leher pegal. Ada kebaikan manusia. Ada proses panjang nan tertatih-tatih (terutama untuk membayar hutang ke kakak).

Ketika itu, dalam keadaan hina dina tak punya apa-apa, saya berikrar dan berdoa sepanjang jalan, bahwa dengan pembelian alat perang ini, semoga menjadi berkah dan modal menjadi orang yang jauh lebih bermanfaat. Tak terasa sudah 5 tahun lamanya. Sudah ada upgrade memori dan media simpan SSD. Alhamdulillah. Semoga terus memberi manfaat. Tidak hanya sekadar untuk main Dota.

Aamiin.
About Me