Empat Tahun Tanpa Kopi

Bismillah

Hari ini, tepat 4 tahun yang lalu, saya memutuskan untuk berhenti minum kopi. Sebenarnya saya ingin berhenti tanggal 14 Februari supaya romantis (hoeksorcuihpret...), namun karena kecanduan yang sedemikian akut, saya mesti mundur 2 hari.

Dulu
Seseorang dikatakan kecanduan kopi (mungkin istilah yang lebih tepat adalah "kecanduan kafein") kalau konsumsi kopinya sudah lebih dari 3 gelas sehari. Saya minum kopi layaknya minum air putih, alias minimal 8 gelas sehari. Sempat berganti-ganti merek dan jenis kopi, mulai dari kopi tumbuk, hitam, hingga pada akhirnya jatuh cinta pada cita rasa Nescafe Coffeemix Pas (selain karena kemudahan penyajian). Bahkan saya sempat koleksi semua mug spesial, bonus dari Nescafe. Rekor saya kuat tidak tidur karena minum kopi adalah 3 hari berturut-turut. Tugas kuliah, baca buku, coding, nulis, dan hal lain semuanya jadi selesai. Luar biasa!!

(gambar dari sini)
Alasan Berhenti
Ketergantungan
Kafein dalam kopi akan meningkatkan kadar dopamine dalam tubuh (semacam adrenalin), sehingga Anda dapat terus bersemangat. Namun, efeknya lama kelamaan akan sirna, karena itu kita akan menginginkan lebih banyak kopi untuk tetap terus mendapatkan "khasiat"-nya. Ini tidak baik.

Sakit
Asam lambung akan meningkat karena konsumsi kopi. Akibatnya maag yang sudah saya derita sejak SMA semakin parah. Ini juga dialami beberapa orang, sehingga mereka pada akhirnya menderita penyakit nyeri lambung atau peptic ulcer. Hal lain yang sering muncul antara lain tangan gemetar (keringat dingin) atau frekuensi denyut nadi/jantung yang tidak semestinya.

Wasiat Hasal Al-Banna
Salah satu dari wasiat beliau adalah "Hindari kopi, teh, dan minuman perangsang lainnya, kecuali dalam keadaan benar-benar terpaksa. Jangan merokok!". Sebenarnya teh juga memiliki kandungan kafein (teh biasa) tapi dengan kadar yang lebih sedikit.

Tips Berhenti Minum Kopi
Kurangi porsi
Anda bisa mengurangi porsi minum kopi menjadi hanya di pagi hari saja, atau beralih ke minuman lain sebelum benar-benar berhenti dari kecanduan kafein. Kopi decaf (rendah kafein) bisa jadi alternatif.

Olahraga
Dengan rutin berolahraga, Anda menurunkan resiko terkena penyakit jantung, menghasilkan endorfin (zat alami dalam tubuh penyebab rasa "bahagia"), dan tentu mengalihkan perhatian dari kopi. 

Istirahat cukup
Early to bed, early to rise. Lelahkan diri di kala siang, sehingga saat malam bisa tidur awal. Semakin cukup istirahat, semakin segar kita bangun di pagi hari. 

Jangan percaya iklan
Dulu iklannya Nescafe bilang begini "Tahukah kamu, kalau kopi bisa bikin kita tambah semangat?" Ya iyalah, kalau makin banyak yang kecanduan, makin gampang kerjaan salesnya :D

Mengingat tanggal spesial
Kalau saya ditawari kopi, saya biasanya jawab dengan penuh penjiwaan dan wibawa, "Maaf, saya sudah berhenti sejak 16 Februari 2008." Terlihat mbois bin parlente kedengarannya. Setiap tahun pasti saya rayakan tanggal ini dengan menulis 1 buah tulisan khusus. Mungkin Anda perlu memberi reward pada diri Anda sendiri. Reward karena Anda berhasil berjuang setelah 1 bulan, 2 bulan, 6 bulan, dst.

Demikian, semoga membantu. Kalau ingin berbagi pengalaman, jangan sungkan berkomentar.

Speak now, or forever hold your peace  :)

Apakah Buku Tabungan Itu Penting?

Bismillah

Pertengahan Januari lalu, Ayah saya operasi PCNL (Percutaneous Nephrolithotomy) di Rumah Sakit ASRI Jakarta Selatan, ditemani Ibu dan saya. Sekadar informasi, PCNL adalah metode pengambilan batu ginjal yang berukuran besar (>2 cm). Batu ginjal akan dihancurkan di dalam, dan dikeluarkan melalui selang. Keuntungan dari metode PCNL dibanding operasi terbuka adalah resikonya kecil (apalagi Ayah juga kena diabetes), luka operasi yang kecil (1-2 cm), dan pasien bisa cepat pulih. Kata Dokter Nur Rasyid yang menangani kami, Ayah mesti 2 kali operasi (berselang 2 hari) karena batu ginjalnya sedemikian besar/banyak.

Lalu, apa kaitannya metode PCNL dengan buku tabungan?
Sabar. Tulisan ini belum selesai. :D

Dr Nur Rasyid juga tangani pasien di RSCM. Di RSCM, sebenarnya Ayah bisa pakai ASKES. Tapi, RSCM, seperti yang kita tahu, well... RSCM... :D Masalah kecil timbul saat saya minta rincian biaya sementara. Jumlahnya lumayan buat beli mobil seken. Di Rumah Sakit ASRI ini, pembayarannya bisa tunai atau debit/CC. Ibu sudah antisipasi dengan deposit setiap hari, sejak Ayah mulai dirawat inap (cuma 7 hari Ayah di RS). Namun, dihitung-hitung, tetap tidak cukup karena limit kartu Mandiri Ayah cuma Rp 5juta. Kartu debit BNI saya limitnya Rp 10juta. Masalahnya, saldo saya saat itu cuma 400rebu #gubraks :))

Buku tabungan yang tidak penting
Jadi, idenya begini. Semua anak-anak Ayah kumpulin cash ke rekening saya di BNI. Di depan Rumah Sakit ASRI ada KCP BNI. Cakep. Yang bisa didebit ya pakai debit, sisanya saya akan ambil cash pakai buku tabungan. Eh, bentar. Buku tabungan? Buku tabungan saya ke mana, ya?! Setelah bongkar-bongkar kamar kos sedikit, buku tabungan saya ketemu. Selama ini saya hanya ambil tunai dari ATM. Kalau mau setor tidak pernah banyak-banyak. Rugi bandar kalau nabung model konvensional begitu. Kalau mau transfer saya pakai e-banking. Buku tabungan saya nganggur.

Saya termasuk orang yang anti dengan penggunaan kertas berlebih.

Singkat cerita, saya ke KCP BNI Duren Tiga. Inilah langkah-langkah saya ambil uang tunai.
  1. Mengisi slip penarikan. Lengkap dengan tanda tangan.
  2. Mengantri. Menunggu dipanggil oleh Mbak Dwi.
  3. Memberikan buku tabungan, dan slip penarikan.
  4. Membubuhkan tanda tangan di sebuah kertas kosong, di dalam kotak.
  5. Menyerahkan KTP atau kartu identitas yang digunakan saat membuka rekening.
  6. Menyerahkan kartu ATM saya, dan memasukkan PIN saya. Dua kali pula.
  7. Ditanya pertanyaan verifikasi, "Boleh tahu nama Ibu kandung Bapak?"
Setelah saya beri jawaban yang benar, saya pikir ini yang akan terjadi : terompet akan berbunyi, lampu KCP BNI Duren Tiga akan menyala kelap-kelip indah sekali, ada kertas warna-warni turun dari langit-langit, semua pegawai BNI di situ akan tersenyum dan bergantian menyalami saya, tepuk tangan riuh membahana dari seluruh nasabah yang antri, dan akhirnya saya pun bisa mengambil uang tunai. :))

Kenyataannya, prosesnya belum selesai sampai di situ. Buku tabungan saya, terakhir dipakai sudah lebih dari 6 bulan yang lalu. Overload. Tidak cukup lagi untuk mencetak histori transaksi. Kalau mau dicetak semuanya, kemungkinan saya butuh 2 buku tambahan. Itu merepotkan, plus saya mesti bayar ekstra untuk hal yang tidak saya pakai. Saya tawarkan opsi, supaya saya tidak perlu cetak transaksinya. Mbak Dwi bersikeras saya mesti ganti buku. Saya pun bicara.

"Kamu sekarang jadi nggak dewasa gitu, sih? Harusnya kamu bisa berpikir visioner dong, punya alasan logis untuk tiap keputusan. Ini kan demi kelanjutan hubungan kita berdua. Memangnya kamu kenapa sih? Lagi PMS? Atau ada masalah di kantor? Atau, udah bosen? Obrolin aja, Say..." *sambil plintir-plintir rambut dia*

Paragraph sebelum ini tentu saja fiktif. *pembaca mengelus dada, lalu membersihkan bekas muntahannya masing-masing*. Intinya saya pengen ngobrol sama Bosnya. Waktu itu Mbak-mbak juga, saya tidak tahu namanya (name tag-nya kebalik), tapi sayang dia sudah pakai cincin. #nikunghore2012 anyone?.  Akhirnya disepakati begini. Saya tidak perlu buat buku baru, tapi histori transaksi dicetak di kertas khusus, dan dikokot (di-staplers) di buku tabungan saya yang lama.

"Maaf Pak Prabowo, ada charge sebesar Rp 1000 karena penarikan tunai tidak dilakukan di kantor cabang tempat membuka rekening. Saya langsung debet dari saldo Bapak ya.."

Saya menghela nafas. "Iya, Mbak.." lalu teriak dalam hati,

*******

Dari cerita saya, sebenarnya bisa diambil kesimpulan bahwa untuk tiap alasan yang bilang buku tabungan itu penting, bisa dipatahkan dengan logis.

Buku tabungan penting untuk mengambil uang tunai?
Tidak juga. Seperti yang dilihat, ada banyak sekali dependensi lain untuk mengambil uang tunai. Kalau masih ditanya juga di teller, bilang saja buku tabungan sudah hilang, dan yang Anda ingat hanya nomor rekeningnya. Kalau disuruh bikin surat keterangan kehilangan, bilang saja dananya Anda perlukan secepat mungkin, untuk biaya operasi orang tua. Tidak ada waktu ke kantor polisi segala.

Buku tabungan bisa dipakai untuk kejahatan? Misalnya, orang bisa mencuri buku tabungan kita untuk tarik tunai?
Hla, maka dari itu jadi nggak usah ada buku tabungan aja kan? Verifikasi saat ambil tunai bisa dengan yang lain. KTP, PIN ATM, tanda tangan, security question, atau kombinasi semuanya, dll.

Dari buku tabungan kita bisa tahu saldo terakhir atau histori transaksi?
Kenapa mesti pakai buku tabungan? Dari e-banking saja sudah ketahuan. Paling kepepet, Anda bisa cetak rekening koran untuk tanggal kapan pun. Biayanya seribu rupiah per lembar. Tapi saya nggak pernah pakai.

Kalau mau kredit apa-apa, kan biasanya ditanyain transaksi rekening 3 bulan terakhir?
Hahahaha. Yang diminta kan cuma salinannya? Saya bikinin pake Gimp deh sini :). Mau saldo yang tadinya cuma Rp 100ribu jadi Rp 500juta pun bisa :)). Kalau mau main jujur, seperti di atas, kita bisa cetak histori transaksi dari e-banking.

Buku tabungan penting untuk gaya-gayaan?
Bro, you are soooo si Doel Anak Sekolahan. Kalau sekadar untuk gaya, bisa pakai CC atau kartu debit yang bejibun. Lebih enak gaya-gayaan pakai kartu yang bisa nyelip dalem dompet, daripada bawa-bawa buku tabungan (walaupun limitnya cuma 2 juta perak atau saldonya kosong :)) ).

Buku tabungan penting kalau ada perbedaan detil transaksi dengan yang dicatatkan oleh Bank?
Coba perhatikan baik-baik syarat dan ketentuan umum di halaman terakhir buku tabungan. "Apabila saldo berbeda dengan catatan Bank, maka yang berlaku adalah saldo menurut catatan Bank berdasarkan bukti-bukti yang ada." :))

Mungkin Anda punya pendapat sendiri? Silakan tulis di bagian komentar ya :)

Btw, tentang buku tabungan ini juga pernah dibahas Fajran di blognya.

Sex, Lies, and Cigarettes

Bismillah



Sex, Lies, and Cigarettes adalah sebuah seri televisi dari Vanguard pada jaringan televisi Current TV, sebuah jaringan televisi yang didukung penuh oleh Al Gore (salah satu tokoh yang saya kagumi. Lain kali saya akan tulis tentang An Inconvenient Truth, film dokumenter dari Al Gore yang wajib Anda tonton). Produk Current TV memang berita yang membuka wawasan dan pikiran, merangkul penonton yang well-educated, bukan seperti stasiun TV sebelah yang mengisahkan putri tertukar yang ceritanya tidak rampung-rampung, naga/elang raksasa, atau penanaman anggapan bahwa seorang ustad selalu berpakaian putih-putih, pegang tasbih, jago berantem melawan hantu, dan layaknya Superman: bisa terbang.

Sex, Lies, and Cigarettes yang dibawakan oleh koresponden Christof Putzel pada episode kedua dari sesi kelima Vanguard ini mengisahkan tentang penetrasi perusahaan-perusahaan rokok dunia seperti lapaknya Philip Morris (sejak 2003 berubah nama menjadi Altria Group) di negara-negara dunia ketiga, termasuk Endonesa. Sebuah cerita miris nan menyayat hati, di sebuah negara yang penduduknya gampang sekali dibodohi.

Awal SLC, ditampilkan seorang Aldi Rizal, bayi berusia 2 tahun asal Endonesa yang masuk majalah TIMES (wow!), karena merokok 2 bungkus per hari (wew..). Putzel pun berkunjung ke sebuah desa kecil di Sumatera Selatan, rumah keluarga Aldi tinggal. Ironis, di tempat asal mula video Aldi sedang merokok itu diunggah, tidak ada akses internet sama sekali. Di sepanjang jalan dari bandara hingga tempat tujuan, hampir semua iklan (billboard, papan penunjuk toko, dsb) adalah iklan rokok. Tidak adanya regulasi yang ketat soal rokok membuat anak di bawah umur (bahkan seorang anak usia 7 tahun) dengan begitu mudahnya mendapat rokok.

Keluarga Aldi (termasuk kedua orang tuanya) akhirnya dibawa ke Jakarta untuk rehabilitasi. Setelah kurang lebih sebulan, Aldi akhirnya dapat kembali layaknya balita Endonesa lainnya.

Penelusuran Putzel tidak hanya sampai di situ. Ia menyamar sebagai konsultan merek dan menyusup hingga ke Konferensi Tembakau Dunia (World Tobacco Conference) tahun 2010 di Indonesia. Fakta menarik didapat Putzel dari orang-orang berdasi yang hidupnya bergantung dari rokok. Ada juga sales yang berhenti merokok, dan dalam nuraninya tidak menyarankan orang untuk merokok, "tapi kalau pengen merokok, ya belilah rokok kami," lanjutnya. Kampret. Hahaha.

Untuk lebih jelasnya, silakan tonton saja videonya di YouTube. Investasi 42 menit Anda tidak akan sia-sia.

*******

Kesan rokok yang membuat penghisapnya macho, jantan, berwibawa, gaul, dan apalah sebutan lainnya, juga pernah membuat saya mencoba. Saya masih ingat, saya ditawari teman di dalam angkot, saat pulang dari tempat les (tempatnya lumayan jauh dari rumah). Karena penasaran, saya teruskan hisap 1 batang hingga habis. Setelah selesai, saya merasa biasa-biasa saja, tidak makin macho, keren, dsb. Benar-benar biasa saja. Saya merasa ditipu oleh teman-teman saya. Maka, saya memutuskan berhenti, sejak pertama kali saya mencoba.

Lama setelah itu, saya baru tahu bahwa arti "impotensi" dalam larangan pemerintah di bungkus-bungkus rokok adalah "titit nggak bisa ngaceng". Coba dari awal sudah ditulis begini..

Larangan pemerentah
Merokok bikin titit elu pada kagak bisa ngaceng (itu artinya elu kagak bisa ngewe, goblok!), kanker, jantungan, susah bunting, ato ngebrojolin bayi cacat

..mungkin saya dari awal udah nggak berani coba-coba rokok.

*******

Perusahaan Sempurna sekarang brand-nya dipegang Philip Morris, adalah salah satu cara ngegedein lapak rokok dia, karena di Amerika sana sudah ada undang-undang yang menetapkan kalau nikotin itu adiktif. Cukainya juga tinggi sekali. Oleh karena itu, sudah jarang sekali terlihat orang Amerika merokok, karena harga rokok per pack menjadi sangat mahal, sekitar $12. Philip Morris nggak pendek akal, dia cari tempat jualan laen, ya di Endonesa ini.

Sebenarnya sudah banyak aktivis anti tembakau di Endonesa. Di Jakarta juga sebenarnya sudah ada Perda larangan merokok di tempat-tempat umum, termasuk kantor. Di pabrik tempat saya bekerja, cuma saya sendirian yang nggak ngerokok. Buruh lain kepal-kepul, di dalam ruangan ber-AC pula. Waktu selesai main futsal, teman-teman saya ada yang langsung merokok. Entahlah. Rasanya sulit sekali meyakinkan orang untuk tidak merokok, apalagi buat yang sudah lama dikibulin perusahaan rokok.

Mengapa pemerentah Endonesa nggak bikin regulasi ketat soal rokok?

Pendapatan dari cukai rokok tahun 2011 mencapai Rp 65 trilyun, atau 95% dari penerimaan cukai. Bayangkan, "upeti" dari perusahaan rokok bisa sedemikian besarnya. Tidak heran, RUU tentang zat adiktif pada tembakau tiba-tiba menghilang semalam sebelum ditanda-tangani oleh Presiden Endonesa. Apa ya ndak lucu tuh namanya?

Lapak rokok berdalih, ada jutaan orang yang bergantung dari industri rokok, termasuk petani tembakau. Menurut saya tidak juga. Kalau kita lihat gambar besarnya, ada lebih banyak kerugian yang ditimbulkan dari rokok. Misalnya, orang asuransi jiwa atau kesehatan sekarang udah nggak mau terima klaim dari orang yang punya kebiasaan merokok. Sekali kena kanker paru-paru, atau sakit jantung, biayanya besar sekali. Artinya, dari segi kesehatan, anggaran pemerentah yang harus dikeluarkan untuk ngobatin sakit karena rokok jauh lebih besar dari keuntungan cukai rokok.

Itung-itungan dagang saya, sesederhana itu. Kalau pemerentah Endonesa masih mau digoblokin diyakinkan oleh pemilik lapak rokok yang gede-gede, ya saya sih sudah siap-siap pindah kewarganegaraan dari tahun kapan. Hahahaha. Oia, saya pernah berkunjung ke rumah salah seorang teman di Temanggung. Kebetulan Ayahnya adalah petani tembakau (selain bertani jagung, dsb). Rumahnya, SUBHANALLAH, ALLAHUAKBAR, luar biasa besar dan megah. Mungkin bener apa anekdot orang Endonesa, kalau mau jadi petani, jadilah petani tembakau.

*******

Sebagai penutup, saya kutipkan salah satu puisi favorit saya, dari Taufiq Ismail


Tuhan Sembilan Senti

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok, tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok.


Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara-perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok.


Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok.


Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah…ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya apakah ada buku tuntunan cara merokok.


Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok.


Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok, tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok.


Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita.


Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran, di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok.


Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak rokok.


Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling menularkan HIV-AIDS sesamanya, tapi kita tidak ketularan penyakitnya. Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok di kantor atau di stop-an bus, kita ketularan penyakitnya. Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS.


Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia, dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu, bisa ketularan kena.


Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok.


Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis, turnamen sepakbola mengemisngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok.


Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-orang goblok merokok.


Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im sangat ramah bagi orang perokok, tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok.


Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai kita.


Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.


Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-berhala kecil, sembilan senti panjangnya, putih warnanya, kemana-mana dibawa dengan setia, satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya.


Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang, tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan, cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?


Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.
Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok.


Laa taqtuluu anfusakum. Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok diapakan?


Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah dahulu, sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.


Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok, lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan.


Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu, yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai terbatuk-batuk.


Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini, sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok. Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas.


Lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan longsor, cuma setingkat di bawah korban narkoba.


Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya, bersembunyi di dalam kantong baju dan celana, dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna, diiklankan dengan indah dan cerdasnya.


Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri, tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini, karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini.


Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.

Tagline

Bismillah

Suatu waktu di tahun 2011 lalu, saya sempat melintas di sekitar Pasar Senen (saya lupa persisnya di mana). Setengah mengantuk, samar-samar saya lihat sebuah papan iklan sederhana di tepi jalan yang dipegang seorang pedagang kaki lima. Yang menarik adalah tulisan di papan tersebut.

Undur-undur Bang Jupri

Waktu itu saya tidak mahfum sama sekali apa itu "undur-undur". Namun tulisan tersebut selalu terbayang di kepala. Unik. Kuat. Tertanam di ingatan. Sedikit lucu kalau dilisankan. Akhirnya saya menemukan sebuah artikel tentang undur-undur.

Undur-undur Bang Jupri (gambar dari jalurkiri)
Ternyata undur-undur adalah sejenis serangga yang (kabarnya) bisa menyembuhkan diabetes. Dinamakan "undur-undur" karena pada fase larva undur-undur punya kebiasaan berjalan mundur sambil membuat doodles, jejak berbentuk spiral, lingkaran, atau bentuk seperti corong yang sekilas tidak beraturan.

Berjalan mundur, sambil membuat doodles. Menurut saya, itu menarik. Mirip-mirip dengan blog ini. Kecil. Tidak terperhatikan. Sekadar bikin doodles, sambil berjalan mundur, supaya bisa melihat jejak yang dibuat. Filosofinya dalam. Perlu mikir. Akhirnya, inilah tagline blog saya yang baru, dengan sedikit modifikasi. Mengganti tagline blog yang lama : Kerupuk Udang Hajjah Siti Zubaedah.

Catatan ringan : uniknya, undur-undur ini saat fase larva tidak punya anus. Akibatnya, sisa metabolisme akan terus disimpan dan dikeluarkan saat mereka dewasa. Subhanallah, nahan buang air kok bisa selama itu ya?

Bengsin Hanya Untuk Orang Kismin


Bismillah

Disclaimer
Tulisan ini fiksi. Namanya blog, bebas ndobos bin ngabab, asal ndak ketangkep plokis™ :D

Alkisah di sebuah negara (yang katanya gemah ripah loh jinawi, toto titi tentrem kerto raharjo, tukul kang sarwo tinandur, murah kang sarwo tinuku), Endonesa, tersebutlah sebuah pabrik minyak kelas dunia, namanya Pertamini. Dari dulu, gara-gara minyak urusan bisa jadi panjang : perang, konflik, politik, maupun ketegangan (baik "ketegangan" karena minyak bumi maupun karena minyak bulus). Salah satu barang dagangan Permini adalah BBM Bersubsidi. Di cerita ini ada 3 (tiga) fokus : tentang Pertamini, tentang BBM Bersubsidi, dan tentang solusi dari sales pabrik kerupuk udang Hajjah Siti Zubaedah (merangkap freelance financial planner dan terima order sedot WC).


*******
Tentang Pertamini
Status Pertamini adalah Badan Usaha Milik Negara. Pabrik Pertamini adalah pabrik minyak yang besar, dengan aset akhir tahun 2010 senilai Rp 267 trilyun (lebih tepatnya Rp 266.514.568 juta). Dengan 6 kilang minyak (Cilacap, Balikpapan, Dumai, Plaju, Balongan, dan Kasim), dan 2 kilang LNG (di Arun dan Bontang) produksi minyak bumi Pertamini sudah termasuk mumpuni. Tahukah kamyu, Pertamini adalah penghasil sekaligus pengekspor LNG (Liquid Natural Gas) terbesar di dunia! Kilang Pertamini bukan sembarang kilang, tapi kilang dengan crude kualitas wahid. Orang Endonesa boleh bangga.

Sayangnya, ada beberapa fakta yang membuat juragan dan mandor pabrik Pertamini sulit jualan.

Status BUMN
Dengan status milik pemerintah, bukannya mendapat dukungan modal dan kebijakan fiskal, Pertamini (layaknya BUMN yang lain di Endonesa) cenderung di-kepret oleh petinggi-petinggi Endonesa. Bisa saja terjadi, Pertamini kalah tender gara-gara perusahaan pesaing ada hubungan khusus dengan pejabat Endonesa. Alasan pemerintah "demi profesionalisme, korbankan nasionalisme". Kalau mau ketawa, silakan search kasus di blok L Parigi. Pemerintah profesional? Ikut Srimulat aja deh..

Jatah Preman
Pemerintah meminta deviden yang besarnya naujubilah dari Pertamini baik secara interm atau tahunan. Dan yang bikin sakit hati, Pertamini juga dituntut untuk membayar pajak yang besarnya juga naujubilah. Masih ingat kasus Cepu yang kisruh antara Pertamini, Ekson, dan pemerentah Endonesa? Pemerentah minta jatah 85%, sedang sisanya dibagi antara Pertamini, Ekson dan Pemda. Dengan kondisi begini, susah rasanya buat Pertamini membesarkan lapak. Nggak dimodalin tapi dipalak melulu.

Lapak Asing
Menurut BPS, tahun 2011 lalu, sektor migas menjadi penyumbang terbesar ekspor Endonesa, sekitar US$ 38 milyar. Sebagian besarnya berasal dari gas alam (US$ 21 milyar). Namun, impor Endonesa untuk minyak olahan nilainya US$ 25 milyar (?). Sebenarnya Endonesa punya Duri, kilang paling produktif di Endonesa yang beroperasi sejak tahun 1958. Sekitar 60% produksi minyak mentah Endonesa datang dari sana. Tapi, ternyata pemiliknya... Chepron! Oke, mari gigit jari berjamaah.

Penunggak Hutang
Anehnya, lapak Pertamini nggak dengan leluasa jualan. Dengan status lapak plat merah paling menguntungkan, Pertamini dijadikan bemper untuk lapak plat merah lainnya. Salah satunya, Lapak Listrik Negara (disingkat LLN). Tahun 2010, hutang LLN sudah lebih dari Rp 5,3 trilyun (tepatnya Rp 5.319.303 juta). Entah bagaimana ceritanya LLN ini bisa merugi, padahal sejak jaman baheula dia ini lapak satu-satunya yang boleh jualan listrik di Endonesa? Sudahlah monopoli, kok rugi? Lapak yang aneh...

Kadang-kadang hutangnya LLN ini dibayarin sama pemerentah Endonesa. Apa nggak asik tuh? Kalau mau ngidupin pembangkit, tinggal angkat telpon pesen minyak, dan dalam sekejap truk tangki Pertamini dateng. Yah, delivery service gitu deh.. Tapi ngebon! Pffft.. Kalau nggak dikasih bon, pake acara ngancem listrik byarpet. Dengan kinerja se-ancur itu, saya heran mengapa orang Endonesa mengelu-elukan juragan pabrik LLN yang sekarang pindah jadi mantri, eh, menteri. Mereka mungkin lupa si Juragan LLN ini dulunya raja media yang kalau mau bikin pencitraan gampang sekali.

Menurut saya, lapak negara yang nggak ngerti itung2an dagang harusnya dibubarkan saja. Bikin malu. Ini belum soal IPP, soal proyek listrik, pemadaman bergilir, meteran listrik, dll. Sumpah saya tertarik sekali ngomongin LLN panjang lebar di sini, tapi mungkin kita simpan dulu bahan guyonan penghilang stress ini untuk lain waktu. Mwuahahaha!

Penunggak lain adalah Tentara Endonesa/Plokis (senilai Rp 1,7 trilyun) dan Petrochina (Rp 750 milyar). Kita lebih baik jangan ngomongin plokis deh, ntar urusan jadi panjang. Petrochina ini yang menarik. Dilihat dari situsnya yang seperti dikerjakan oleh siswa SMK baru belajar HTML, sepertinya ini perusahaan kurang bonafid. Tapi mungkin karena China emang mental dagangnya lebih baik dari Endonesa, mereka bisa dapet hutangan gede. Selain mereka, ada lagi beberapa maskapai penerbangan yang juga ngutang kalau beli avtur. Intinya karena juragan Pertamini ini mungkin cewek, yang ngebon jadi gampang sepik-sepik..

Kompetitor di Hulu
Pertamini sadar mereka tidak bisa genjot laba dari hilir. Persaingan di eksplorasi, dengan kilang asing, minyak untuk industri, pada kenyataannya gila-gilaan. Salah satu alasan tingginya impor minyak olahan juga adalah karena sumur minyak Pertamini sebagiannya sudah uzur, akibatnya ongkos produksi untuk eksplorasi dan pengolahan lebih tinggi dibanding beli jadi dari negara tetangga Singapyur (negara kecil yang gampang dikentutin ini sebenarnya nggak punya apa-apa, tapi mereka punya mental bisnis yang hebat, kita bahas lain waktu).

Perusahaan minyak asing di hulu misalnya saja Chepron, Ekson, Britis P, Totol SA, Sell, dan CNOOK (China). Lapak-lapak gede semua itu Gan...

Persaingan di Hilir
Setelah minyak mentah diolah, giliran distribusi ke SPBU. Faktanya SPBU Pertamini masih mendominasi marketshare Endonesa. Siapapun yang mau bersaing dengan Pertamini di sini, bakal hancur babak belur. Mereka harusnya sekarang sudah "rugi bandar". SPBU Petromas asal Malesia misalnya, sudah mulai menyerah, lapaknya sepi-sepi sahaja, SPBUnya bertutupan. Jadi, sales representative Pertamini sebenernya nggak terlalu ambil pusing untuk urusan di hilir ini.

Dari sekian banyak PR Pertamini di atas, ada satu masalah besar lagi yang bikin empet bin eneg di sektor hilir. Pain in the ass, alias bisul di dubur. Masalah itu adalah..


*******
BBM Bersubsidi
BBM Bersubsidi untuk singkatnya kita sebut saja bengsin. Walaupun produknya BBM bersubsidi ada banyak : premium bersubsidi (salah satu jenis bengsin), solar subsidi, minyak tanah subsidi, dan LPG 3kg. Mekanisme distribusinya begini. Dalam APBN Endonesa, misalnya sudah ditetapkan di awal kalau duit untuk ngemurahin BBM subsidi misal Rp 100 trilyun. Duit ini kalau dibeliin minyak, dapet 40 juta kilo liter. Jumlah itu dibagi lagi per propinsi, selanjutnya ke kabupaten/kota. Tentu saja harga minyak yang dipakai adalah harga perkiraan. Dan kebutuhan akan bengsin juga angka konsumsi perkiraan.

Masalah besarnya, harga minyak dunia selalu berubah, plus konsumsi masyarakat Endonesa juga nggak bisa diprediksi. Misal harga minyak makin tinggi, atau tiba-tiba di tengah tahun kuota bengsin sudah habis. Akibatnya, dalam APBN-P, duit subsidi yang tadinya cuma Rp 100 trilyun, membengkak jadi Rp 160 trilyun. Lalu, seandainya kuota bengsinnya masih kurang juga, pemerentah Endonesa nggak mau tahu. Pertamini yang harus nombok. Jangan lupa juga, LPG 12kg itu subsidinya juga Pertamini yang nombok, karena harganya diatur Pemerentah. Gimana mau jualan kalo diatur-atur gitu?

Mengapa Harus Ada Subsidi Bengsin?
Ini lagi-lagi soal politis. Di mana lagi selaen di Endonesa, bengsin bisa dipakai jadi dana kampanye? Sudah mau Pemilu 2004, tiba-tiba harga bengsin jadi murah meriah. Padahal, Mbak Meggy dulu itu ya pada akhirnya juga nggak kepilih jadi Presiden loo.. Kasian banget deh. Hahahaha. But wait, bukannya pemilu yang akan datang presiden Esbiway juga pasti nggak bakalan kepilih lagi? Kenapa masih tebar pesona, dan rela keluar duit sampe berdarah-darah? Ssst... jawabannya lagi-lagi politis :

Boleh jadi nanti orang dari partai yang sama (entah bininya, anaknya, siapanya) pengen maju jadi Presiden Endonesa juga..

Di mana-mana kalau sudah ada campur tangan politis, jualan jadi susah. Makanya, kita sering lihat ada pedagang pemilik lapak gede yang ujung-ujungnya jadi politisi : supaya bisa mengubah regulasi, yang pada akhirnya menguntungkan lapak pribadi.


*******
Solusi Sales Kerupuk Udang
Saya membenci bengsin bersubsidi karena
- Saya bukan termasuk konsumen BBM. Saya tidak punya kendaraan bermotor. Di dalam duit Rp 160 trilyun itu ada jatah yang tidak saya ambil. Ini tidak adil. Apalagi terkadang kita lihat orang pakai mobil bagus tapi di SPBU ngisi bengsin (atau nyampur Pertamax dengan bengsin).
- Motif keberadaannya lebih ke politis daripada ekonomis. Sungguh tidak bisa diterima.

Layaknya main Sim City, dan secara itung2an dagang, saya hanya melihat masalah ini sesimpel bagaimana menyulap dana sekitar Rp 100 trilyun (katakanlah yang Rp 60 trilyun tetap untuk subsidi LPG) sedemikian sehingga
- Pertamini tetep untung
- APBN tidak berdarah-darah
- Citra pemerentah tidak rusak
- Masyarakat tidak kisruh karena ekonomi stabil

Jawabannya..
Hapus Subsidi Bengsin!
Sudah. Begitu saja. :p

Kita lihat kira-kira apa yang terjadi bila subsidi bengsin dicabut (artinya kita punya dana Rp 100 trilyun setahun).

Pertamini Untung
Salary untuk orang Pertamini akan lebih menggiurkan daripada salary di pabrik minyak asing. Akibatnya orang-orang Endonesa yang cerdas akan beralih ke Pertamini. Ini berarti kesempatan untuk eksplorasi dan riset kilang minyak baru jadi lebih luas. Pertamini siap bersaing dengan lapak asing di negeri sendiri. Kita tidak keluar duit di sini, duit kita masih utuh 100 trilyun perak.
Biaya : Rp 0

Mass Transportation yang Bagus
Kata Sutiyoso, "Tidak ada sejarahnya mengatasi macet dengan cara memperlebar jalan. Nggak mungkin. Solusi di negara-negara maju adalah dengan cara menambah transportasi masal". Jakarta macet karena salah kebijakan. Saya sepenuhnya setuju dengan ini. Dengan ongkos transport yang murah dan pelayanan yang baik, orang akan beralih dari kendaraan pribadi. Di Thailan, Manilah, atau Singapyur, semua punya transportasi masal yang bagus. Orang akan pilih naik subway karena pajak mobil pribadi lebih mahal.
Biaya : Butuh Rp 3 trilyun untuk membangun monorail. Kalau 5 kota besar butuh dana yang sama, kita butuh Rp 15 trilyun. Masih ada duit Rp 85 trilyun.

Riset Energi Alternatif
Orang-orang Endonesa ini sebenernya pinter2 luar biasa. Cuma kebanyakan tidak dihargai saja, makanya mereka lebih memilih berkarya di negara orang. Kita perlu dana untuk riset energi alternatif, yang lebih ramah lingkungan dan tentunya lebih murah. Saya berani bayar mahal supaya orang-orang pinter itu balik lagi ke Endonesa.
Biaya : Kasih aja Rp 5 trilyun. Sisa Rp 80 trilyun.

Sue Chepron!!
Saya tidak yakin cara ini berhasil, karena presiden Endonesa nggak segarang Venezuela yang mencaplok (istilah mereka "nasionalisasi") perusahaan minyak asing. Sekarang gimana caranya biar ituh Chepron angkat kaki dari bumi Endonesa? Bukan hanya minyak Endonesa yang disedot, tapi orang2 Endonesa yang pinter2 juga disedot. Hugo Capes saja cuma bayar USD 250 juta (sekitar Rp 2 trilyun lebih), berarti kita bisa anggarkan duit lebih banyak dikit, sekalian sewa pengacara-pengacara yang bagus. Jangan cuma bikin pengacara nongkrong di Lawyers Club.
Biaya : Nggak papa deh Rp 10 trilyun. Masih sisa Rp 70 trilyun.

APBN Bidang Pendidikan dan Kesehatan
Pendidikan di mana-mana jadi hal krusial karena kalau orang pinter, nggak mungkin hidupnya susah. Sekarang yang ngibulin banyak : sinetron ndak bener, MLM tipu-tipu, perusahaan asal Canada, asuransi/investasi bodong, judi toto gelap, dll. Anggaran lebih banyak perlu dikasih ke pendidikan supaya : lebih banyak orang yang mau jadi guru dan ditugaskan ke daerah terpencil, perbaikan sarana pendidikan, perluas kesempatan untuk orang pinter tapi gak mampu, dsb.
Biaya : Kemarin dianggarkan Rp 266 trilyun, dikasih..hm... tambahan Rp 30 trilyun lagi deh

Di bidang kesehatan, kita mesti kasih duit lebih supaya lebih banyak orang yang sehat daripada yang penyakitan. Kalau orang sehat, jadi gampang cari duit. Bayangkan kalau tukang siomay nggak jualan gara-gara bisulan terus nggak ada duit buat berobat? Bisa hancur perekonomian kesiomayan Jakarta.
Biaya : Kemarin sempet dianggarkan Rp 19,8 trilyun, terus turun jadi sekitar Rp 13 trilyun. Kita kasih lagi deh, tambahan Rp 10 trilyun! Salam olahraga! Ayye!!

Usaha Kecil dan Menengah
Terbukti, pada krisis ekonomi '98 silam, sektor usaha yang tidak terjamah badai adalah sektor kecil dan menengah. Mengherankan, pabrik-pabrik gede yang jualannya gila-gilaan bisa ambruk, sedangkan warung-warung kroco justru makin menggeliat dan lolos dari kebangkrutan. Lagi-lagi saya setuju dengan Bang Sandiaga Uno, kita perlu tambahin modal biar mereka bisa makin berjaya!
Hmm... Rp 20 trilyun cukup deh.

Sisanya??
Duit kita masih Rp 10 trilyun lagi. Sebenernya sampe di sini saya sudah bingung lagi mau ngabisin ke mana... Ternyata punya duit banyak juga bikin bingung. Hahahaha. Mungkin untuk kesejahteraan petani, penghijauan (rehabilitasi hutan), pembebasan lahan perkotaan untuk taman, militer/penjagaan perbatasan, rewards lebih besar untuk orang/lembaga yang berjasa untuk lingkungan hidup, perbaikan birokrasi (supaya nggak ada istilah bikin KTP versi cepet atau versi standar. Versi cepet, 75rebu, 3 hari doang. Versi standar, goceng, tapi jadinya 2 bulan), promosi pariwisata. Ada masukan?

Kesalahan orang awam saat harga bengsin naik adalah mengira kalau harga barang-barang akan naik, inflasi meninggi, dsb. Padahal kalau harga bengsin tidak naik, justru inflasi makin tinggi. Yang perlu diperhatikan adalah perilaku orang untuk membelanjakan uang. Percuma dikasih BLT kalau habis untuk rokok, kredit motor tambahan, atau beli barang konsumtif yang tidak signifikan untuk peningkatan kesejahteraan keluarga miskin. Yang penting adalah menaikkan daya beli masyarakat, sehingga orang bener-bener ngabisin duit buat hal-hal penting.

Jakartans: acts like first world citizen when it comes to gadgets, acts like third world citizen when it comes to gas price -- Bernadette Duisters @doggudoggu




*******
Referensi :
Wikipedia.org : Endonesa, Pertamini, Lapak Listrik Negara, Minyak Bumi, Chepron
Situs company : Pertamini dot com, PetroChina, LLN, Indonesia Setara dot com
Situs Pemerentah : Depkeu, BPS
Blog : Teguh Hidayat

Migrasi Linux Secara Kaffah

Bismillah

Stiker dikasih si Khairuman

Waktu kuliah dulu, di kelas saya termasuk yang agak serius ngoprek Linux*. Terlebih, pada akhirnya saya hapus total Windows bajakan sehingga di laptop cuma ada satu sistem operasi. Berasa sudah hebat, saya anggap saya adalah makelar Linux, duta open source, nabi akhir zaman. Saya adalah pembawa agama Linux, pembimbing teman yang berada dalam kejahiliyahan Microsoft, penunjuk jalan yang lurus, penggiring domba-domba yang tersesat.

Sampai suatu ketika, di mata kuliah audit teknologi informasi yang diampu Pak Bambang Nurcahyo Prastowo (bnp), beliau bilang begini
Orang yang pakai Linux tapi masih doyan mp3, e-book, atau film bajakan, sebenarnya lebih hina daripada orang yang jelas-jelas pakai Windows bajakan. Talbisul haq bil bathil (QS 2:42). Semacam mencampur-aduk yang haq (kebenaran) dan yang bathil (kebathilan).
Mak jleb! Saya tilik lagi isi media simpan saya. Dari situ saya sadar kalau saya cuma omong besar, banyak gaya, songong naujubilah, pembawa risalah palsu. Saya mulai belajar sedikit-sedikit tentang HAKI, lisensi, hukum Islam soal bajakan, dan mulai migrasi ke Linux secara kaffah, secara total. Bukan pakai Linux sekadar untuk gaya-gayaan dan sok keren. Saya hapus mp3, ebook, dan film bajakan saya.

Omong-omong, sebenarnya membajak itu apa sih?

Secara sederhana dan ngawur, membajak berarti melanggar lisensi. Kalau di lisensinya ada larangan untuk menyalin/penggandaan secara tidak sah (di luar sepengetahuan pemilik hak kekayaan intelektual), berarti kita telah membajak. Ketika kita membeli produk non-bajakan (alias original), kita telah membayar jerih payah si pemilik dan dapat dengan legal dan halal menggunakannya (sesuai aturan lisensi). Membajak sama dengan mencuri, mengambil sebagian yang bukan hak kita.

"Etapi Bo.. kan ada ulama yang bilang kalau semua yang ada di dunia ini milik Allah, termasuk ilmu, jadi nggak boleh dipatenkan, sehingga sah-sah saja buat kita untuk pakai versi bajakannya ?"

Yang bilang begitu cuma gembel guwoblok kuadrat nggak ada modal yang hanya dengan sorban plus jenggot ngaku-ngaku ulama tapi otaknya dongok bin ngehek. :ngakaks:

Jadi anti terhadap produk bajakan tidak sulit kok. Intinya bukan memaksa orang untuk beralih ke free open source software, tapi kalau pun kita harus pakai produk berbayar, maka bayarlah! Beli Windows asli, beli CD audio asli, beli e-book asli, atau beli film/DVD original. Ingat golden rule : hargai karya orang lain sebagaimana karya Anda ingin dihargai. Bagaimana perasaan Anda saat tahu kalau tulisan, lagu, puisi, film, bahkan tweet (!) Anda ditiru atau diakui oleh orang lain?

"Baiklah Bo, saya paham... Tapi memangnya semudah itu beralih menjadi pengguna produk non-bajakan? Saya terbiasa memakai Windows, Microsoft Word, Excel, main games Football Manager, mengedit foto pakai Photoshop, dengerin lagu downloadan dari 4shared, nonton film downloadan indowebster, baca e-book gratisan, dll.. "

Rome wasn't built in a day. Butuh proses. Pertama kali menghapus berpuluh-puluh GB file mp3 bajakan, rasanya seperti menyunat diri sendiri. Hanya untuk menekan kombinasi tombol Shift + Delete saja, dada rasanya sesak, nggak terima. Yah, mirip waktu saya putus sama Laura Basuki deh... (sadar woi, udah jadi bini orang!)

*******

Ini tips ampuhnya :
Kalau benar-benar bagus alias worth it, BELI!
Kalau tidak, cari alternatifnya

Sistem Operasi
Beli : Windows, or use a Mac.
Alternatif : biasakan diri dengan Linux, mulai instalasi berbarengan dengan OS lama. Cari komunitas buat sharing.

Mp3/lagu
Beli : di toko musik seperti Disc Tarra, Beatz, Gramedia, atau Aquarius.
Alternatif : nyalakan radio (banyak stasiun radio lokal maupun internet streaming yang selalu putar musik bagus), atau download promotional video (free, dengan ukuran jauh lebih besar). Banyak juga kok musik-musik grup band indie yang free.

FilmBeli : pilih film yang benar-benar recommended, jangan model-model "Hantu Perawan Gerandong Mandi Junub" yang ditonton. Coba ke bioskop, kalo nggak cari di toko musik/dvd original.
Alternatif : patungan beli sama temen, or beli DVD original second dari Ebay atau Kaskus.

E-book / buku:
Beli : miliki account di Amazon. Untuk versi digital, biasanya harganya lebih murah. Atau cari orang yang jual second/bekas.
Alternatif : minta duit ke Bos untuk beli sebuah buku yang bisa dibaca oleh semua pegawai kantor, atau baca di perpustakaan/tempat penyewaan. Atau kalau untuk belajar hal tertentu, banyak kok situs2 penyedia tutorial gratis.

Aplikasi/software : 
Beli : hubungi software company yang merilis produk tersebut, cari kemungkinan apakah produk mereka ada versi "student partner"-nya yang lebih murah.
Alternatif : cari versi padanannya (software serupa yang fungsi dan fiturnya kurang lebih sama, namun sifatnya free).

Games : 
Beli : biasanya ada yang jual CD 2nd hand di Ebay. Search aja.
Alternatif : cari games yang free, atau nggak usah main game :D

*******
Pengalaman saya sejauh ini..

Sistem Operasi : kenal Linux sejak SMP, tapi baru bener2 lepas dari OS proprietary sejak 2006-2007. Sebelumnya, sempet gabung jadi cupu di forum atau milis dengan pertanyaan bodoh seperti "Gimana sih caranya install Ubuntu?" Yang saya rasakan, komunitas/tempat sharing itu sangat penting. Saya juga sempat buka warnet kecil-kecilan. Pada awalnya hanya 1 PC yang ada Windows (saya beli Windows 7 Home Premium). Selebihnya pakai Ubuntu or free open source software, termasuk billing (saya pakai gBilling dan sempat berkontribusi sedikit di situ). Tidak ada masalah selama warnet pakai Linux. Namun pada akhirnya karena kebutuhan, saya jadi punya 4 Windows 7 Home Premium (saya beli dari Bhinneka.com karena waktu itu ada diskon). Soal pengalaman warnet dengan Linux, mungkin akan saya tulis di lain waktu.

Mp3/Lagu : sempat melakukan backup semua koleksi mp3 bajakan ke DVD. Mungkin Tuhan pengen saya totalitas, akhirnya ituh DVD nggak bisa dibuka karena jamuran. Hahahaha. Mulai jarang denger lagu setelah itu. Paling denger streaming radio atau nonton promotional video sekali-sekali. Cuma pernah beli CD L'Arc En Ciel sama semua album d'Masiv.

Film : dari awal memang kurang suka nonton, jadi tidak begitu masalah di sini. Paling sekali-sekali nonton ke bioskop bareng temen. Pernah beli "The Terminal", sama "Naga Bonar Jadi 2". Selebihnya saya agak-agak lupa.

E-book/buku : setelah dibaca-baca, sebenarnya isi e-book buat belajar itu ya biasa-biasa aja, alias tidak ada yang istimewa. Mending cari tutorial yang berkaitan dengan apa yang mau kita kerjakan saja, tinggal search kan gampang. Sejak jadi buruh coding, dimodalin mandor pabrik untuk beli buku yang bener2 perlu via Amazon Kindle. Baru dipakai sekali.

Aplikasi / Software : di Ubuntu semuanya sudah lengkap, tinggal install dan pake. Tampilan oke, fungsional, maknyus. Mungkin beberapa hal minus seperti nggak ada aplikasi buat trading yang bagus di Linux, sama kalo pengen main game-game online yang free susah soalnya vendor game nggak nyediain versi Linux-nya.

Games : paling-paling ke rental atau warnet buat main online game. Boleh dibilang hampir nggak pernah main game lagi sejak pake Linux, sibuk bisnis dan cari duit. :D

*******

Apakah Anda punya pertanyaan atau pengalaman yang mau dibagi? Silakan tulis di bagian komentar ya.. Semoga bermanfaat. :)

* Linux di sini merupakan kependekan dari GNU/Linux.

Hi, 2012!

Bismillah

Banyak orang tidak membuat resolusi di awal tahun karena takut kebanyakannya tidak akan tercapai. Menurut saya malah sebaliknya. Contoh resolusi saya tahun 2009, dapet TOEFL score minimal 550. Dengan kemampuan bahasa Inggris level Tarzan, rasanya angka tersebut tinggi sekali. Namun nilai TOEFL ITP saya pada akhirnya 577, lebih dari cukup untuk apply beasiswa. Coba kita lihat prakiraan hasilnya, dengan skenario yang berbeza


0. Saya tulis impian saya di blog. Saya perlu itu untuk syarat daftar beasiswa. Saya belajar mati-matian. Beli buku, latihan, cari referensi, ngutang untuk bayar biaya ITP (waktu itu sekitar 300,000 IDR). Saya visualisasikan betul-betul seandainya saya berhasil mendapat skor TOEFL lebih dari 550. Kenyataan sesuai dengan harapan. Langit cerah, hati berbunga-bunga, pelangi di matamu.

1. Saya tulis impian saya. Sudah belajar sungguh-sungguh, berlatih keras dan makan makanan bergizi seperti sosis So Nice. Tapi hasilnya nilai saya tidak sampai 550. Well, tidak sepenuhnya gagal, karena saya sudah berusaha.

2. Saya tidak tulis resolusi. Tidak belajar, tidak ada usaha. Benar-benar tidak ada tujuan mau nilai berapa. Yang penting ikut test saja. Kalau skor tinggi sukur, kalau tidak ya sudah. Mengawang-awang. Walaupun pada akhirnya saya dapet skor lebih dari 550, tetap tidak ada kepuasan, karena dari awal kita sudah tidak punya standar. Semacam jadi orang atheis, tapi akhirnya masuk sorga.
Resolusi yang tidak tercapai sepenuhnya adalah lebih baik daripada resolusi yang gagal. Namun resolusi yang gagal pun ternyata lebih baik daripada tidak punya resolusi sama sekali.
***************

Alhamdulillah beberapa rencana saya di tahun 2011 banyak yang tercapai, walau tidak semua. Yang  jelas saya sudah tidak berlindung di bawah rumah milik orang tua, atau numpang makan nasi dari periuk Ibu lagi. Yang tidak tercapai misalnya, gagal ngegebet Laura Basuki, karena ia akhirnya nikah dengan pria lain (*tendang2 samsak, nangis sambil peluk rice cooker*).

Okay, here we go. Rencana 2012.

0. Gain 20,000 USD
Yang saya maksud di sini aset, bukan pendapatan. Dengan status gembel teladan yang masih punya hutang di Warteg Jaya, rasa-rasanya impian ini bakal jadi bahan tertawaan. Berarti yang harus dicari jauh lebih besar dari itu. Tapi saya kenal seseorang yang bekerja dari Odesk, dengan bayaran 27 USD per hour! Bekal dia hanya PHP5 Certification dan beberapa certificate yang menurut saya gampang didapat. Jadi, saya rasa impian ini masih bisa tercapai. Amin.

Mari meneladani Muhammad. Ia ditinggal mati Ayahnya saat masih dalam kandungan. Umur 6 ditinggal mati Ibunya. Berjuang hidup dengan menggembala kambing dan berdagang ikut pamannya ke negeri Syam (masih kecil udah sering ke luar negeri). Umur 25 tahun bisa kasih mas kawin 100 ekor unta merah, yang harga seekornya sekitar 200 dinar (1 dinar kira-kira 4 gram emas = 2,000,000 IDR). Kalikan saja, 100 * 200 * 2,000,000 IDR = 40 billion IDR. Umur segitu punya aset 40 milyar IDR! Hla situ !? Skripsi belum kelar, beli sempak aja masih minta duit ke orang tua. #nomention #ppffftt

Tapi jangan menyerah. Sandiaga Uno saja pernah bangkrut sampai ke ubun-ubun, setelah di-PHK saat umurnya 27 tahun. Namun sekarang ia masuk dalam daftar 40 orang terkaya di Indonesia menurut Forbes, dengan total aset USD 660 juta. Semuanya mungkin. Singkirkan secepatnya mental menjadi pegawai. Belajarlah dari Rasulullah. Mulailah bisnis Anda. Jadilah pengusaha!

1. Write 2+ posts/month.
Menulis yang kiranya bisa menginspirasi orang lain, atau benar-benar bermanfaat, di blog ini. Kalau blog saya satu lagi, saat ini sudah ada 2200 postingan, tapi sampah semua. Mirip status Facebook abege. Hahaha.

2. Being minimalist.
Agak sulit, karena standarnya nisbi. Yang penting ada beberapa hal yang sudah saya mulai. Having less. Uncluttering. Less task, more done. Simplified life. Saya pikir masyarakat kita terlalu kompleks. Konsumtif, mengurusi hal-hal yang tidak perlu. Menganggap semuanya penting. Mengidap compulsive hoarding disorder. Kita butuh solusi, dan saya pikir being minimalist adalah jawaban dari sebagian besar masalah.

Nowadays, every single problem in our society can be solved using only a terminal and full root access (Prabowo Murti, 2011)


Beberapa rencana lain yang kurang penting (seperti deketin Frida Lidwina) tidak saya tulis di sini. Selamat membuat rencana ya.. :)

PS : Cerita mengenai mahar Muhammad berupa 100 unta merah sebenarnya patut dipertanyakan. Dari referensi yang saya baca dari karya Abdul Mun'im Muhammad Umar, yang terjadi adalah unta mahar tersebut hasil pemberian Khadijah pada Abu Thalib, dan jumlahnya hanya 20 ekor unta. Cerita yang populer di masyarakat kita tersebut (walau kurang valid), tetap saya tampilkan bersamaan dengan hitung-hitungan nominalnya guna mendapat efek dramatis nan persuasif bagi pembaca. Saya kan pedagang, ingat?



About Me