Nomor 1

Bismillah

Saya yakin, dalam perjalanan hidup seseorang, siapapun itu, minimal dia pernah jadi juara 1. Pemenang pertama. Nomor wahid. Top one. Entah apalah kompetisinya. Entah itu balap karung, baca puisi, juara kelas, bahkan sampai yang aneh-aneh seperti rekor terbanyak makan duren dalam 1 menit. Minimal, kita pernah menjadi juara 1 saat sel jantan Ayah "berlomba" mencapai sel kelamin Ibu. Minimal, kita adalah suami nomor 1 dari istri kita. Walau istri ada juga yang bukan nomor 1. Bisa nomor 2, 3 atau 4. *ditabok bolak-balik*

Jadi saat kita merasa kita belum pernah menjadi yang terbaik, tercepat, terhebat, terkuat, dan ter-ter yang lain, yang patut ditanyakan sebetulnya adalah, apakah kita berada di kompetisi yang sepatutnya?

Di Saat Orang Lain Tidur

Bismillah

Beberapa teman sedang berada di pabrik untuk keperluan migrasi sistem. Tentang mengapa harus di malam hari, jawabannya : layaknya pekerjaan di malam hari yang lain, dikerjakan saat orang lain sedang tidur. Landasan pesawat diperbaiki saat bandara tutup. Jalanan ditambal-sulam saat tak ada yang lalu lalang. Penulis buku mulai menarikan jemarinya di atas papan ketik menjelang subuh.

Semuanya menyiratkan bahwa beberapa hal memang butuh ketenangan dan suasana sepi. Tanpa aktivitas kebanyakan manusia. Melakukan X di saat orang tidak melakukan X. Anti mainstream. Abnormal. Spesial bin khusus. Bukan medioker. Dan sebetulnya, di agama ini, beberapa hal memang harus dilakukan dalam keadaan seperti itu. Contohnya, sholat malam.

Seperti yang telah disampaikan Tuhan dalam QS As Sajdah ayat 16
Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabb-nya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa-apa rezeki yang Kami berikan.

Ujung Rukun

Bismillah

Pada kebanyakan tiap-tiap akhir rukun, pastilah tersemat syarat yang perlu dipenuhi pula, yaitu tertib. Tertib ini artinya sesuai urutan. Kita juga bisa bilang bahwa item nomor 1 dari tiap-tiap rukun adalah hal yang mesti dipenuhi duluan.

Contohnya rukun islam. Nomor satunya syahadat, ikrar terhadap kemahaesaan Tuhan. Nomor duanya baru sholat. Jadi sebetulnya aneh kalau ada orang sholat tapi masih ke dukun, semedi di kuburan berharap uang segepok, atau percaya ramalan bintang. Mungkin ada hal tertentu di bab tauhid bosqu yang belum kholas.

Dengan kadar komparasi yang kurang lebih sama, kita juga bisa heran dengan orang yang puasa tapi tidak sholat, orang yang berzakat tapi merasa tak perlu lagi berpuasa, dan orang yang berhaji tapi pelit bakhil medit masin bak garam tukuk cap gayung.

Unclaimed Baggage

Bismillah

Barang tak bertuan, rumah tanpa penghuni, bagasi yang tak diakui. Begitulah kita, susah payah mendapatkan harta namun seringnya lupa pernah punya. Ujung-ujungnya hilang tanpa kita pernah peduli lagi. Jadi kita bekerja capek-capek dapet uang itu hanya demi bergerak dari kesia-siaan ke kesia-siaan.

Cobalah tengok sekilas. Isi lemari pakaian. Rak sepatu. Garasi kendaraan. Tumpukan buku-buku (yang mirisnya bahkan sampul plastiknya belum terbuka). Gudang. Betapa banyak barang kita yang tidak terpakai, dan ya itu, lupa kalau pernah punya.

Sebuah Foto

Bismillah


motor parkir di samping es tebu


Foto di atas diambil tanggal 22 Agustus 2017. Saat itu saya,

  • Broke af, tanpa uang, dan tak pula pekerjaan tetap. Anak pertama baru berusia 2 bulan 19 hari. Butuh popok, pakaian, dan pengobatan. Untung masih punya (walaupun sedikit) iman, jadi alhamdulillah tidak gelap mata dan berakhir di bui.
  • Bertemu Pak Abdul Rohim, guru SMA dahulu. Setelah ngobrol sementara, beliau mengakhiri dengan doanya "Semoga menjadi pengusaha yang sukses".
  • Baru saja mengambil “tabungan” kami yang terakhir, uang sejumlah IDR 420,000 di BN* Sy*riah. Uang tersebut “kebetulan” teringat ada, karena rekeningnya sudah 4 tahun lebih tidak dibuka. Semacam nemu duit di kantong celana sendiri yang lupa dikeluarkan sebelum dicuci. Tentang bagaimana uang tersebut ada, sampai bagaimana cara meyakinkan CS bank agar bisa diambil, tetaplah menjadi kisah tersendiri.

Entah mengapa, saya berpikir untuk mengabadikan momen ini. Momen minum es tebu di pinggir jalan, memotret 50 kg pakan ayam pabrikan, yang terikat di atas motor pinjaman dari mertua.

Mungkin suatu saat foto ini ada gunanya. Mungkin untuk mengingat betapa sulit keadaan waktu itu. Koreksi : keadaannya tidak sulit, karena sebelumnya sudah sering mengalami yang lebih parah dari itu. Terpaksa puasa atau minum air saja, tidur di jalan, menumpang mobil orang karena tak ada ongkos, dan semisalnya. Namun, keadaan akan semakin sulit bila Anda butuh 2 mulut tambahan untuk disuapi. If you're drawn away by a sink hole, you can not drag your whole family. You can resist the pain, they can't.

Mungkin foto ini akan membawa pesan, untuk tidak sombong bila Anda sudah "menjadi pengusaha yang sukses", seperti doa Pak Guru. Mungkin pula, untuk mengiklankan setidaknya produk perusahaan berikut : Honda, Charoen Pokphand, Sosro, dan Coca Cola.


Doa yang Salah Kaprah

Bismillah

Ketika kita pernah "merasa", dan tentunya ane anggap ini adalah hal manusiawi, doa kita tidak dikabulkan oleh Tuhan, maka boleh jadi yang salah adalah doanya. Contohnya tak usahlah yang jauh-jauh, minta jadi kaya. Kita ini sering lupa, seringnya minta uang 100 milyar rupiah. Yang benar adalah minta supaya bisa zakat 100 milyar rupiah. Hla kalau zakatnya saja 100 milyar rupiah, berarti kan duitnya minimal 4 trilyun?

Jadi, yang kita kejar itu bukannya "hasil jadi"-nya tapi asbabul dari doa-doa kita. Doa kok minta bisa kawin sama perempuan tertentu, yang cantik bin bahenol. Padahal, di samping si ceweknya belum tentu mau, kecantikan dan kebahenolan itu sifatnya semu nan sementara. Entar juga luntur. Kalau ente nggak percaya, tanya aja yang kawin sama artis!

Doa minta bisa berkantor di gedung bertingkat-tingkat, kalau kerja pakai kemeja mahal dan dasi, plus ruangan ber-AC. Padahal mereka-mereka itu malah pengen resign, karena gaji tak seberapa ditambah menu lembur setiap hari. Ujung-ujungnya wang sinawang. Begitulah kita itu. Jadi manusia tak jelas arah dan dipengaruhi nafsu.

Tanyakan pada diri ini, apakah doa kita itu sudah penuh kelaziman?


Jalan Orang Lain

Bismillah

Kita sering melihat jalan yang dilalui orang lain. Kadang terlihat lebih berliku, tidak nyaman, banyak hambatan, tentu ini relatif dibandingkan dengan jalan yang kita lalui. Jalan kita mulus, ora gerunjel-gerunjel. Kita pun (sepatutnya) merasa bersyukur.

Dalam hidup pun demikian. Kadang kita melihat ada orang terjebak hutang yang sedemikian besar. Mungkin berurusan dengan plokis atawa bui. Ada pula yang keluarganya berantakan. Orang tua berpisah. Anak-anak terlantar. Boleh jadi pula karena narkoba. Intinya ya kusut lah begitu.

Siapapun tidak menghendaki jalan abnormal. Semuanya ingin lancar. Secara finansial stabil, walau ndak usah tajir-tajir amat lah. Anak-anak tumbuh penuh kebaikan, pagi sekolah, siang tidur, sore TPA, dan kalau sudah Dunia Dalam Berita tidur. Keluarga akur semua, minimal arisan kumpul sebulan sekali.

Kita pun sesekali harus menempatkan diri ini, bersudut pandang, sebagai orang di seberang sana. Sebagai orang yang sedang mengalami kepayahan berperjalanan. Tanyakan benar-benar, apakah orang-orang itu, dengan sengaja dan sadar, berniat menjalani jalan yang berliku lagi susah bin ribet sedemikian? Tentu tidak (kan sudah saya kasih kombantrin).

Tentu semuanya ingin, paling minimal, kalau jalan tidak nyasar. Namun hidup tak selalu seperti apa yang kita ingini.
About Me